Tulisan Luar

Bismillaahir- Rahmaanir- Rahiim

Alhamdulillaahi Rabbil ‘aalamiin

wash-sholaatu was-salaamu ‘alaa rasuulillaah, wa ‘alaa aalihi wa shohbihi ajma’iin

wa ba’d

 

Khobar Ahad Dalam Aqidah

Tulisan ini bicara tentang sebuah pernyataan yang berbunyi “khobar ahad tidak menjadi hujjah dalam perkara-perkara aqidah” yang terdapat dalam buku Asy-Syakhshiyah Al Islamiyah juz I karya Taqiyyuddiin An Nabhaaniy rahimahullaah. Kami terdorong untuk membahas permasalahan ini karena sepenggal pernyataan di atas sering dicomot begitu saja tanpa menyertakan penjelasan yang memadai dari penulisnya. Padahal beliau menulis dua bab tersendiri untuk mempertanggungjawab kan pernyataan tersebut. Kemudian -setelah dicomot- sepotong kalimat itu diangkat dan disyarah sekehendak hati oleh orang yang berkeinginan untuk menyerang, mendiskreditkan, membodoh-bodohkan, dan menyesat-nyesatkan penulisnya. Seringkali serangan mereka tidak berpijak pada apa yang sebenarnya dimaksud oleh penulis. Akibatnya muncul tuduhan-tuduhan yang tidak semestinya terlontarkan. Seperti pernyataan seseorang “Taqiyudiin melarang pengikutnya untuk mempercayai apa yang ditunjukkan oleh hadits ahad”. Pernyataan yang berbentuk mutlak tanpa embel-embel dan penjelasan ini sama sekali tidak benar, dan itu akan menjadi suatu perkara besar di pengadilan Allah kelak, yaitu saat siapa saja yang terdzolimi oleh lisan seseorang, maka ia akan mendapat keadilan. Dan kami akan menjadi salah seorang di antara ribuan orang yang akan menuntut keadilan dalam perkara ini. Oleh karena itu, alangkah lebih baiknya jika masalah ini kita selesaikan di dunia saja. Wallaahu Musta’an.

Bukan Pernyataan Baru Yang “Nyleneh”.

Siapa saja yang tersentak, terheran-heran, bergeleng-geleng kepala ketika mendengar pernyataan bahwa hadits ahad tidak dijadikan hujjah dalam perkara aqidah, maka dapat dipastikan bahwa ia belum berinteraksi dengan khasanah keilmuan islam mengenai masalah ini, meski hanya sedikit. Terlepas dari setuju atau tidak dengan pernyataan itu, siapa saja yang akrab dengan tsaqofah islam, mengikuti perbincangan para ulama dalam bidang ushuluddiin, ushul fiqh mau pun hadits, dia akan menemukan berbagai pernyataan dan polemik seputar masalah ini, mulai dari apa faedah yang didatangkan oleh hadits ahad, sampai dalam masalah apa dibolehkan untuk ber-istid-laal (berdalil) dengan hadits ahad. Dia akan menemukan nama ulama -yang sehari-hari namanya kita sebut- memiliki pendapat yang sama dengan Taqiyyudiin -seperti Hujjatul Islaam Abu hamid Al Ghozali, Al Amidi, Al Bazdawi, As Sam’aani, Al Qosimi sampai ulama kontemporer seperti syaik Al Azhaar Mahmud Syaltut, Sayid Qutb, Dr. Muhammad Al Ghozali, Dr. Said Ramadlon Al Buthi, Muhammad Abu Zahrah, Abdul Wahhab Kholaf, dll. Sebagaimana dia juga akan menemukan ulama besar yang menentang pernyataan itu -seperti Syaikhul Islaam, Taqiyyuddiin Ibn Taimiyah, syaikh madzhab dhohiri Ibnu Hazm, As Suyuti, Ibnu Hajjar sampai Nashiruddiin Al Albani. Semoga Allah merahmati mereka semua. Dengan kemampuan seadanya, kami baru bisa menyentuhkan satu ujung jari ke kulit terluar dari lautan ilmu yang luas itu. Yang dengan kelemahan itu kami bertambah cinta kepada para ulama dan bertambah kecil di hadapan Allah Ta’alaa. Tapi alhamdulillaah –dengan karunia yang diberikan Allah- kami bisa merasakan betapa para ulama telah memberi perhatian serius terhadap masalah ini. Dan karena kehendak Allah, melalui ilmu yang mereka uraikan, kita bisa berusaha menentukan sikap dalam masalah pelik yang mereka perdebatkan ini. Allah memberikan pertolongan kepada siapa saja yang Dia kehendaki, maka hanya kepadaNyalah kita minta pertolongan.

Perkara-perkara Aqidah Yang Dimaksud Oleh Taqiyyuddiin

Sebelum lebih jauh mengurai tentang permasalahan hadits ahad dalam aqidah, kepada siapa saja kita hendak bicara, terlebih dahulu harus dijelaskan tentang apa yang dimaksud dengan “perkara-perkara aqidah” (aqooid) dalam pernyataan Taqiyuddiin. Tentu saja untuk itu kita harus merujuk pada apa yang dimaksud oleh si pembuat pernyataan. Dengan begitu, tidak terjadi respon yang salah dikarenakan perbedaan persepsi mengenai apa yang dimaksud dengan “perkara aqidah” dalam pernyataan itu.

Perlu kita tegaskan bahwa istilah aqidah yang kita bicarakan di sini merupakan istilah yang dibuat dan digunakan oleh para ulama ushulud diin. Istilah ini tidak memiliki makna syar’i, tidak seperti kata sholaah, zakaah, jihaad, haj, wudluu’, tayammum, islam, dll. Kata-kata yang disebut terakhir telah digunakan oleh Allah dan rasulNya di dalam Al Qur’an dan hadits dengan pengertian baru (syar’i) yang kita harus terikat dengan pengertian tersebut.

Pembentukan makna aqidah dalam disiplin ushulud diin sama seperti pembentukan pengertian al hadits dalam disiplin ilmu hadits. Al hadits tidak memiliki makna syar’i. Secara bahasa artinya antara lain adalah “pembicaraan” atau “sesuatu yang baru”. Tapi para muhaditsuun rahimahumullaahu membuat kata al hadits memiliki pengertian khusus di dalam disiplin ilmu yang mereka mereka geluti, yaitu sebagai segala macam khobar yang memberitakan tentang kisah kehidupan, perbuatan, perkataan, taqriir, dan sifat-sifat penciptaan (fisik) nabi shollallaahu ‘alaihi wa sallam. Dari mana pengertian al hadits seperti ini muncul? Tentu saja ini hanya istilah yang dibuat oleh para muhaditsuun rahimahumullaahu.

Jika kita berpindah ke disiplin ilmu ushul fiqh, maka akan dapati para ahli ushul fiqh menggunakan istilah al hadits dengan pengertian yang berbeda. Al Hadits dalam ushul fiqh merupakan salah satu sumber hukum syara’. Dalam disiplin yang mereka geluti, al hadits adalah segala informasi mengenai perbuatan, perkataan dan taqriir nabi shollallaahu ‘alaihi wa sallama, sementara sifat fisik nabi ‘alaihish-sholaatu was-salaam tidak termasuk dalam pengertian hadits -dalam disiplin ushul fiqh, sebab sifat fisik nabi shollallaahu ‘alaihi wa sallam bukan merupakan sumber hukum syara’.

Perbedaan penggunaan istilah dalam disiplin ilmu yang berbeda sebenarnya bukanlah sebuah perbedaan. Ini seperti kata “shooting” yang sering kita dengar. Jika kata shooting digunakan oleh tentara dalam peperangan, maka artinya adalah menembak; jika digunakan oleh pemain bola di lapangan, maka artinya adalah menendang ke arah gawang; jika digunakan oleh fotografer atau kamerawan, maka artinya adalah mengambil gambar. Dengan demikian, jika kita hendak memahami sebuah istilah yang digunakan oleh seseorang dalam pernyataannya, maka kita harus mengacu pada pengertian atau fakta yang dimaksud oleh si pembuat pernyataan. Artinya, kita tidak bisa mengartikan sebuah istilah yang digunakan oleh orang lain dengan imajenasi kita sendiri.

Kalau kita cermati tulisan Taqiyuddiin dalam Asy-syakhshiyah I dengan seksama, dapat disimpulkan bahwa permasalahan aqidah yang beliau maksud dalam pernyataan di atas adalah hal-hal yang wajib diimani oleh seorang muslimyang mana apabila seseorang tidak mengimani salah satu dari permasalahan aqidah tersebut maka dirinya tidak dapat disebut sebagai seorang muslim. Keimanan pada hal-hal yang tergolong “wajib untuk diimani” yang memberi batas tegas antara iman dan kufur itulah yang disebut oleh Taqiyyuddiin sebagai aqidah. Untuk menjelaskannya, kita akan mendifinisikan kata iman terlebih dahulu.

Apa pengertian iman yang dimaksud oleh penulis di sini? Iman yang dimaksud oleh penulis -yakni An Nabhaaniy- adalah “pembenaran/ pengakuan (terhadap suatu hal) yang bersifat pasti, sesuai dengan fakta dan didasarkan atas bukti” (tashdiiqul jazm almuthobaqu lil waqii’i ‘an daliilin). Definisi iman ini dirumuskan berdasarkan fakta iman itu sendiri. Ini adalah definisi iman menurut ushuliyuun, bukan ahli bahasa mau pun muhaditsuun. Istilah ini mungkin memiliki pengertian yang berbeda jika diucapkan oleh kalangan muhaditsuun atau lughuun –ahli bahasa. Para ahli hadits misalnya, mereka mengatakan bahwa imaan itu bukan sekedar pembenaran pasti di dalam hati, tapi juga mencakup pengikraran secara lisan, dan pengamalan dalam perbuatan. Mereka mengatakan bahwa iman itu bercabang-cabang, ada yang apa bila diingkari menyebabkan kekafiran, tapi ada cabang iman yang bila diingkari tidak menyebabkan kafir, hanya menyebabkan dosa. Mereka juga mengatakan bahwa iman itu ada yang kuat dan ada yang lemah. Iman yang lemah bisa menguat dan iman yang kuat bisa melemah. Iman bisa diperkuat dengan ketaatan dan bisa diperlemah dengan kemaksiatan. Manusia bertingkat-tingkat dalam beriman, dan para nabi ‘alaihimus-salaam adalah manusia yang memiliki tingkatan iman tertinggi. Sementara Abu Bakar radliyallaahu ‘anhu merupakan manusia yang paling tinggi imannya setelah para nabi ‘alaihimus-salaam. Begitulah pendapat sebagian besar ahli hadits. Hal itu dirumuskan berdasarkan kata iman yang digunakan oleh nabi shollallaahu ‘alaihi wa sallam dalam banyak sabda beliau. Sebagian dari mereka mengatakan, barang siapa yang menolak hal-hal di atas, maka mereka bukan ahlu sunah, mereka adalah Khowarij -kelompok ekstrim yang menyatakan bahwa orang yang bermaksiyat adalah orang yang tidak beriman- atau Murji’ah -kelompok ekstrim yang mengatakan bahwa kemaksiyatan tidak berhubungan dengan keimanan dan tidak mengurangi iman, sebagaimana mengamalkan ketaatan tidak akan menambah iman bagi orang kafir, sebab iman sekedar keyakinan.

Kenapa ahli ushul dan ahli hadits berbeda dalam mengidentifikasi masalah keimanan? Menurut kami penyebabnya bukan perbedaan madzhab, melainkan perbedaan konsentrasi disiplin ilmu yang mereka geluti. Muhaditsuun lebih berkonsentrasi untuk menjaga lafadz-lafadz yang digunakan oleh rasuulullaah shollallaahu ‘alaihi wa sallam dalam hadits. Sedangkan para ushuliyuun lebih berkonsentrasi pada aspek praktis dari istilah iman itu sendiri. Para ahli ushul menggunakan istilah “iman” untuk mengidentifikasi “faktor pembatas antara keislaman dan kekufuran” yang tidak lain adalah aspek pembenaran atau keyakinan terhadap masalah-masalah ushuluddiin. Sedangkan masalah ikrar dan amal tidak mereka masukkan dalam pengertian iman, tapi mereka anggap sebagai konsekuensi, tanda, dan dampak dari keimanan. Masalah kualitas kuat-lemahnya iman mereka anggap sebagai kuat-lemahnya pengaruh iman tatkala seseorang menjalankan berbagai aktivitas dalam kehidupannya (idrak shilatu billaah). Kemaksiatan mengurangi iman artinya mengurangi hubungan hamba dengan Allah, dan ketaatan menambah iman artinya menambah hubungan hamba dengan Allah. Bagi kami, pendapat sebagian besar ushuliyuun adalah yang lebih tepat. Beriman dengan keberadaan jin, iblis, dan malaikat adalah pengetahuan dan pembenaran secara pasti saja. Orang beriman harus mengatakan “kami percaya sepenuhnya dengan keberadaan jin”, perkataan ini adalah konsekuensi dari iman, bukan iman itu sendiri.

Tapi yang jelas, para ulama yang berpendapat bahwa iman adalah tashdiq, ikrar, dan amal tidak mengkafirkan orang yang mengamalkan kemaksiyatan, sekali pun maksiyat yang termasuk dosa besar, seperti zina dan riba misalnya. Artinya, mereka tidak menjadikan amal sebagai masalah keimanan dalam pengertian yang digunakan ulama ushuluddiin. Sedangkan amal yang berupa kewajiban-kewajiban dan nawaafil (nafilah-nafilah) tidak pula dianggap remeh oleh ushuliyuun, hal ini sesuai dengan harapan ahli hadits. Jadi jelas, perbedaan di antara mereka sebenarnya bukan perbedaan yang hakiki, ini hanya perbedaan dalam pengistilahan, sedang dalam prakteknya mereka tidak berbeda. Kita tidak berharap karena hanya berbeda dalam mengaplikasikan sebuah kata, kaum muslim harus saling membi’ahkan satu dengan yang lain.

Karena kita sakarang sedang bicara masalah aqidah, maka kita akan menggunakan istilah iman dalam pengertian yang digunakan oleh ulama ushulud diin. Allah berfirman dalam Ash-Shof : “Tu’minuuna billaahi wa rasuulihi”- kalian beriman kepada Allah dan (kepada) rasulNya-. Jika kita aplikasikan definisi imaan menurut ushuliyuun, maka beriman kepada Allah di sini adalah “membenarkan secara pasti tentang kenyataan bahwa Allah adalah satu-satunya Ilaah -berdasarkan bukti yang pasti”; dan beriman kepada rasulNya adalah “membenarkan secara pasti bahwa Muhammad shollallaahu ‘alaihi wa sallam merupakan seorang rasul Allah berdasarkan dalil yang pasti”.

Yang perlu dijelaskan adalah:

Yang dimaksud dengan “pembenaran secara pasti” adalah pembenaran yang tidak mengandung keraguan sedikit pun. Dengan kata lain, sebuah keyakinan yang tidak mengandung kemungkinan/ peluang salah walau hanya 1%. Maka batasan ini mengecualikan pembenaran yang tidak bersifat jazm/pasti dari lingkup pengertian iman, seperti pembenaran-kuat (gholabatudz- dzon). Jadi sekedar pembenaran-kuat yang tidak jazm tidak bisa disebut iman.

Yang dimaksud “sesuai dengan fakta” adalah pembenaran tersebut memang sesuai dengan realitas, bukan keyakinan yang membabi-buta. Sebuah keyakinan dikatakan benar tatkala keyakinan itu memang sesuai dengan realitas.

Maksud dari “berdasarkan bukti” adalah bukti yang menunjukkan bahwa keyakinan itu memang sesuai dengan realitas. Pembenaran merupakan dampak dari pengetahuan. Jika kita mengetahui bahwa realitas bumi itu bulat, maka kita akan membenarkan bahwa bumi itu bulat. Dan pengetahuan manusia terhadap realitas itu didapat melalui bukti. Jika kita tidak mendapatkan bukti apa pun yang menunjukkan bahwa bumi itu bulat, maka kita tidak akan pernah tahu bahwa bumi itu bulat -seperti manusia pada masa lalu. Tapi adanya perjalanan mengitari bumi membuat orang tahu secara pasti bahwa bumi itu bulat.

Bukti (dalil) bisa berupa aqli mau pun naqli -tergantung objek yang dibahas. Jika objek yang diahas adalah realitas yang empirik, indrawi, atau yang berhubungan pasti dengan hal-hal empirik, maka dalilnya ‘aqli. Seperti keberadaan manusia, alam semesta, dan kehidupan sebagai makhluq ciptaan Al Kholiq; kenyataan bahwa Muhammad ‘alaihisholaatu was salaam adalah rasulullaah, dan kenyataan bahwa Al Qur’an adalah Kalamullaah. Sedangkan hal-hal non empirik, seperti Nama dan Sifat-sifat Allah, makhluq-makhluq ghoib, peristiwa hari kiamat dll, maka tidak bisa terjangkau realitasnya oleh akal. Tapi, keimanan terhadap hal-hal tersebut bisa dicapai dengan adanya dalil naqli yang qoth’i tsubut (sumber penukilannya qoth’i) sekaligus qoth’i dilalah (aspek maknanya qoth’i), yakni seperti Al Qur’an dan hadits mutawatir yang penunjukkan maknanya muhkam.

Tingkat kekuatan pembenaran manusia terhadap sesuatu berbeda-beda tergantung kekuatan bukti yang dia dapatkan. Jika bukti yang dia dapat lemah, maka pembenarannya akan lemah (ihtimal). Kadang bukti yang dia dapat hanya menghasilkan peluang pembenaran yang sama kuat dengan peluang pengingkarannya, sehingga dia tidak bisa menentukan kecenderungan untuk membenarkan atau pun mengingkari (ragu-ragu/syak) . Kadang dia mendapatkan bukti yang sangat kuat sehingga menghasilkan pembenaran yang kuat pula (gholabatudz- dzon). Dan kadang bukti datang tanpa membawa kemungkinan salah sedikit pun (Qoth’i), ini yang disebut sebagai bukti yang menghasilkan pembenaran yang pasti (tashdiiqul jazm).

Karena aqidah merupakan permasalahan dasar-dasar agama (ushuluddiin), maka ia haruslah merupakan suatu pembenaran yang bersifat pasti dan tidak mentolelir kemungkinan salah, meski kemungkinan salah itu hanya sebutir debu. Tentu saja demikian, karena atas dasar aqidah itulah kita membangun seluruh pendirian kita, memisahkan antara yang haq dengan yang bathil, membedakan antara keimanan dengan kekufuran, menentukan mana yang kita bela dan mana yang kita lawan (al wala’ wa al bara’). bagaimana mungkin kita akan mendasarkan permasalahan fundamental (ushul) seperti itu kepada asas yang masih mengandung peluang kesalahan -meski hanya kecil. Juga kita semua tahu bahwa aqidah adalah yang wajib diyakini secara penuh. Lantas bagaimana mungkin kita bisa meyakini sesuatu secara penuh jika sesuatu itu tidak diketahui kebenarannya secara pasti?

Dengan demikian, masalah aqidah mau/tidak mau harus merupakan suatu hal yang pasti kebenarannya. Dan untuk memastikan bahwa sesuatu itu memiliki kebenaran yang pasti, kita membutuhkan dalil/bukti yang pasti kebenarannya pula (qoth’i). Mengapa demikian? Sebab pembenaran yang pasti (tashdiiqul jazm) tidak mungkin dihasilkan dari bukti yang tidak pasti. Ini suatu hal yang rasional bahwa bukti yang pasti menghasilkan kepastian, bukti yang bersifat dugaan menghasilkan dugaan, bukti yang lemah menghasilkan ihtimal (sangkaan yang lemah).

Jika sesuatu dalam agama islam telah terbukti benar secara pasti melalui dalil-dalil yang pasti, seperti ke-Esa-an Allah, kerasulan Muhammad shollallaahu ‘alaihi wa sallam, bahwa Alqur’an adalah Kalamullaah, kedatangan hari akhir dsb, maka diwajibkan atas manusia untuk membenarkannya secara pasti pula. Siapa saja yang masih memiliki keraguan dalam masalah-masalah yang qoth’i, atau mengingkari permasalahan tersebut, dia tidak bisa dikelompokkan sebagai orang yang beriman (baca: kafir). Sebab, menyatakan keraguan dalam perkara yang pasti dalam agama sudah cukup untuk membuat seseorang menjadi kafir. Apalagi mendustakan perkara yang tergolong qoth’i tersebut, jelas kafir. Ini bukan berarti islam menjadikan masalah-masalah itu sebagai doktrin yang dipaksakan kepada pemeluknya. Tidak dikatakan demikian karena apa yang wajib diyakini dalam islam itu memang merupakan realitas yang dapat dibenarkan secara pasti melalui dalil-dalil yang pasti pula. Dalil-dalil itu telah memberi pengetahuan kepada manusia sehingga siapa saja yang ragu atau mendustakannya bisa dikatakan bebal dan mengkhianati akal sehatnya sendiri. Seperti halnya orang yang meragukan atau mengingkari bahwa matahari itu panas, padahal jelas telah datang bukti yang membawa pengetahuan yang pasti bahwa matahari itu memang panas. Tidak ada orang sehat yang seperti itu kecuali orang yang mengkhianati akalnya sendiri seperti Walid bin Mughirah. -Tentu saja ini berlaku untuk orang yang normal.

Nah, masalah-masalah yang datang dari dalil yang qoth’i, tidak mungkin salah, yang wajib diimani (baca: dibenarkan secara pasti), yang kalau meragukan atau mendustakannya akan divonis kafir- inilah yang dimaksud dengan masalah-masalah aqidah (aqooid). Atas dasar itu, pendirian penulis tentang aqidah bisa dikemas dengan redaksi: permasalahan yang wajib dibenarkan secara pasti oleh seorang muslim berdasarkan dalil yang pasti, dan jika seseorang tidak membenarkannya secara pasti maka dia kafir.

Mafhum mukholafah dari definisi aqidah di atas adalah “segala sesuatu yang tidak dituntut untuk dibenarkan secara pasti -karena tidak dudukung oleh dalil yang pasti- dan tidak menyebabkan kekafiran jika diingkari maka tidak dinamakan sebagai perkara aqidah”. Artinya, segala sesuatu yang tidak didukung oleh dalil yang qoth’i maka: tidak wajib bagi manusia untuk membenarkannya- secara-pasti; dan siapa saja yang tidak-membenarkanny a-secara- pasti maka dia tidak bisa divonis kafir. Penjelasannya: bagaimana mungkin kita dituntut untuk membenarkan sesuatu dengan pembenaran-yang- pasti sedang sesuatu itu sendiri tidak didukung oleh dalil yang pasti? Dan bagaimana mungkin seseorang divonis kafir hanya karena tidak memastikan sesuatu yang dzonniy (tidak pasti)? Atas dasar itu, aqidah yang wajib diimani (baca: dibenarkan secara pasti), -yang kalau mengingkarinya dianggap kafir- terbatas pada masalah-masalah yang didukung oleh dalil yang qoth’i.

Tapi yang perlu juga dicacat adalah, tidak wajib dibenarkan secara pasti bukan berarti wajib untuk diingkari. Penulis -yakni An Nabhaaniy- tidak bermaksud menyatakan bahwa hadits ahad yang mengandung informasi ghoib harus diingkari. Tidak dibenarkan secara pasti bukan berarti diingkari. Masalah ini akan kita bicarakan pada tempat tersendiri, InsyaaAllaahu ta’ala.

Kenapa Hadits Ahad Tidak Bisa Dijadikan Hujjah Dalam “Masalah-Yang- Wajib-Dibenarkan -Secara-Pasti” (baca : Aqidah)?

Jawabannya adalah: karena pembenaran yang pasti itu menuntut dalil yang pasti pula. Dalil yang pasti adalah dalil yang mendatangkan pengetahuan yang meyakinkan, tidak membawa peluang kesalahan walau sekecil apa pun. Jika kita telah sepakat dengan pendefinisian aqidah di dalam uraian sebelumnya, maka berarti anda setuju bahwa selain dalil yang qoth’i tidak bisa digunakan untuk berhujjah dalam aqidah. Karena aqidah adalah masalah yang wajib dibenarkan secara pasti. Masalahnya sekarang : “apakah hadits ahad itu dalil yang qoth’i atau tidak?”. Jika jawabnya qoth’i, artinya dapat dipastikan bahwa ia dari Nabi shollallaahu ‘alaihi wa sallam, maka dia digunakan sebagai hujjah dalam aqidah, tapi jika jawabnya tidak qoth’i, maka dia tidak dijadikan hujjah dalam aqidah.

Hadits ahad adalah khobar yang disandarkan kepada Nabi shollallaahu ‘alaihi wa sallam yang diriwayatkan oleh rantai perowi yang jumlah rantai itu belum mencapai derajat hadits mutawatir. Sedangkan hadits mutawatir adalah hadits yang diriwayatkan oleh banyak perowi yang menurut adat kebiasaan para rowi itu tidak mungkin bersepakat bohong atau tidak mungkin sama-sama salah dalam periwayatannya.

Para ulama sepakat bahwa hadits yang diriwayatkan secara tawatur dapat menghasilkan ilmu dloruri, yakni dapat dipastikan tanpa ragu sedikit pun bahwa hadits itu memang dari Nabi shollallaahu ‘alaihi wa sallam. Sedangkan dalam masalah hadits ahad, maka ulama berbeda pendapat. Sebagian mereka menyatakan bahwa hadits ahad yang shahiih dapat menghasilkan ilmu pasti. Di antara yang menyatakan demikian adalah Ibnu Hazm rahimahullaah. Sebagian lagi menyatakan bahwa hadits ahad tidak dapat menghasilkan ilmu pasti kecuali jika disertai qorinah pendukung. Ibnu Sholah rahimahullaah termasuk kelompok ini, beliau menyatakan bahwa hadits ahad itu dzonniy, tapi jika umat telah sepakat (berijma’) untuk menerima sebuah hadits ahad maka ia berubah menjadi qoth’i. Sebagian lagi menyatakan bahwa hadits ahad paling jauh hanya akan menghasilkan dzon, yaitu pembenaran kuat, dan tidak akan sampai pada derajat qoth’i (menghasilkan ‘ilmu). Pendapat ini disampaikan oleh Al Khotib Al Baghdaadi rahimahullaah dalam Al Kifayah fii ‘ilmir Riwaayah dan An Nawaawi rahimahullaah dalam muqodimah kitab syarah shohih muslim –kedua ulama ini otoritatif ketika bicara mengenai hadits.

Nampaknya, Taqiyuddiin An Nabhaani mengadopsi pendapat terakhir, yang menyatakan bahwa hadits ahad paling jauh hanya menghasilkan pembenaran kuat (gholabatudz dzon), tidak sampai pada pembenaran pasti. Sebab, jika hadist mutawatir dan hadits ahad sama-sama qoth’i lantas buat apa para ulama membuat definisi khusus untuk hadits mutawatir sebagai “hadits yang diriwayatkan oleh sejumlah bilangan rawi yang banyak dimana secara kebiasaan mustahil bagi mereka untuk sepakat berbohong mengenai hadits yang mereka riwayatkan”.

Salah satu fungsi definisi adalah sebagai pembatas (mani’) terhadap sesuatu yang didefinisikan agar tampak perbedaannya dengan sesuatu yang lain. Hadits ahad dan hadits mutawatir sama-sama hadits. Tapi kalimat dalam ta’rif hadits mutawatir yang berbunyi “yang diriwayatkan oleh banyak rawi dimana secara kebiasaan mustahil bagi mereka untuk sepakat berbohong mengenai hadits yang mereka riwayatkan” merupakan sekat pembeda yang dibuat oleh para ulama untuk membedakan antara hadits mutawatir dengan hadits ahad. Dari definisi itu kita bisa tahu bahwa hanya dalam hadits mutawatirlah para ulama memastikan bahwa perowi yang banyak itu mustahil salah maupun berbohong secara bersamaan, tidak dalam hadits ahad. Inilah yang membedakan antara hadits mutawatir dengan hadits ahad. Dengan demikian jelas, bahwa hadits mutawatir itu qoth’i -pasti dari nabi shollallaahu ‘alaihi wa sallam- sedang hadits ahad itu tidak qoth’i -maksimal diduga kuat bahwa ia berasal dari Nabi shollallaahu ‘alaihi wa sallam. Pembenaran kuat ini terwujud setelah hadits-hadits ahad melewati proses penelitian dan terhindar dari sebab-sebab yang melemahkan. Artinya, jika hadits itu shohih maka kemungkinan besar memang itu dari nabi shollallaahu ‘alaihi wa sallam dan kemungkinan salah adalah kecil.

Perlu ditambahkan bahwa hadits shohih tidak diterima kecuali jika diriwayatkan oleh orang-orang yang adil. Orang yang adil adalah orang islam yang tidak terkenal suka melakukan perbuatan dosa atau hal-hal yang sia-sia, tidak pernah tertuduh bohong, dan diketahui kehati-hatiannya dalam beramal (wara’). Hadits shohih juga harus diriwayatkan oleh orang-orang yang dlobit, yakni orang yang akurat dalam periwayatan, kuat dalam hafalan dan paham mengenai apa yang dia riwayatkan. Oleh karena itu ulama tidak menerima periwayatan orang yang bodoh, pelupa, pernah gila, sudah tua, orang cacat yang bisa mengganggu tingkat akurasi dalam penukilan -seperti buta dan tuli, atau orang yang periwayatannya kacau -suka berubah-ubah dalam redaksi. Jika dua kualitas itu -adil dan dlobit- terkumpul pada diri seorang rawi, maka orang itu secara umum disebut tsiqoh –terpercaya. Demikianlah, hadits shohih harus diriwayatkan oleh orang-orang yang adil dan dlobit dengan jalur yang bersambung dari satu generasi (thobaqot) ke generasi berikutnya sampai Nabi shollallaahu ‘alaihi wa sallam.

Akan tetapi, dengan syarat tersebut para ulama terkadang masih menemukan hadits yang saling berlawanan sehingga mengharuskan mereka untuk melakukan proses tarjih -menguatkan dan memilih salah satu dari dua dalil yang bertentangan. Untuk bisa melakukan tarjih terhadap hadits yang secara dzohir bertentangan dan tidak bisa dikompromikan, maka para ulama membuat tingkatan-tingkatan kualitas perowi dan juga kualitas jalurnya. Jika ada dua hadits yang bertentangan, maka mereka akan memilih hadits yang diriwayatkan oleh jalur yang terdiri dari orang-orang yang lebih kuat, baik dari segi keadilan maupun dari segi kedlobitan. Al Hafidz Ibnu Hajar rahimahullaahu mengklasifikasikan kualitas ketsiqohan para rowi dalam dua belas kelas.

Hanya saja, para ulama sering berbeda pendapat mengenai kualitas seorang rawi. Kadang ulama berpendapat bahwa si A lebih kuat dari B, sedang yang lain menyatakan sebaliknya. Karena itu mereka juga tidak senada mengenai jalur periwayatan mana yang paling kuat. Dalam hal ini ulama memiliki pandangan yang berbeda-beda. Hal itu mempengaruhi proses pentarjihan yang mereka lakukan. Sebagian ulama menguatkan hadits yang diriwayatkan melalui jalur A dari pada hadits yang diriwayatkan melalui jalur B. Tapi sebagian lain justru memiliki pendapat yang sebaliknya. Bahkan ada hadits yang disebut mudlthorib, yaitu dua hadits yang didapat dari dua jalur yang sama-sama kuat tapi bertentangan satu sama lain dengan pertentangan yang tidak bisa dikompromikan atau pun ditarjih. Yang disebut sama-sama kuat adalah kondisi dimana para ulama sudah kehabisan akal untuk mengkompromikan atau untuk memilih salah satunya, karena memang pertentangannya total dan kualitasnya benar-benar sama.

Yang sebenarnya ingin saya tunjukkan adalah, bahwa ternyata metode yang digunakan untuk menerima hadits dengan menetapkan syarat adil dan dlobit saja belum bisa menjamin kepastian bahwa hadits itu benar-benar dari nabi shollallaahu ‘alaihi wa sallam tanpa keraguan sebutir debu pun. Buktinya, sebuah hadits yang diriwayatkan secara bersambung sampai nabi shollallaahu ‘alaihi wa sallam (muttashil-marfu’) oleh para rawi yang seluruhnya adil dan dlobit masih bisa bertentangan dengan hadits lain yang juga diriwayatkan secara muttashil oleh orang-orang yang juga tsiqoh. Jika periwayatan dari orang-orang yang adil dan dlobit itu sudah 100 % menjamin kebenaran sebuah hadits, seharusnya tidak mungkin terjadi pertentangan antara dua hadits yang diriwayatkan oleh orang-orang yang tsiqoh. Sebab, dua hal yang bertentangan tidak mungkin sama-sama benar. Salah satu dari keduanya dapat dipastikan salah atau palsu. Contohnya adalah hadits-hadits yang bertentangan mengenai cara menempatkan tangan saat turun untuk sujud dan bangkit dari sujud. Kita berani memastikan salah satu pihak dari hadits-hadits yang bertentangan itu pasti salah, meskipun keduanya diriwayatkan oleh orang-orang yang adil dan dlobit. Hanya saja kita tidak bisa mematikan mana yang salah.

Artinya masih ada celah dalam metode. Syarat adil dan dlobit masih bisa kebobolan sehingga meloloskan hadits yang salah. Ibarat filter, jaringnya masih kurang rapat, meskipun sudah begitu ketat. Dengan demikian jelas, hadits yang diterima oleh para ulama secara ahad dari orang-orang yang tsiqoh dan musnad (muttashil-marfu’ ) belum menjamin bahwa hadits itu qoth’i 100% dari rasulullaah shollallaahu ‘alaihi wa sallam. Kita hanya bisa mengatakan, jika sebuah hadits diriwayatkan secara ahad, oleh para rawi yang adil dan dlobit secara bersambung, dan tidak ada pertentangan dengan riwayat lain, maka hadits itu kita duga kuat benar-benar dari nabi shollallaahu ‘alaihi wa sallam, dan kita jadikan hujjah dalam berarmal. Tapi tetap saja dia dzon, seperti yang ditegaskan An Nawawi rahimahullah dalam muqodimah syarh muslim. (lihat, Syarah Shohih Muslim, Jilid I, Penerbit Mustaqim)

Karena hadits ahad itu tidak qoth’i dari Nabi shollallaahu ‘alaihi wa sallam, maka hadits ahad tidak bisa menghasilkan pembenaran yang pasti. Padahal, aqidah yang dibicarakan oleh Taqiyuddiin adalah hal-hal yang wajib (harus) dibenarkan secara pasti dan siapa yang tidak membenarkannya secara pasti maka dia kafir. Sekali lagi kita bertanya: bagaimana mungkin kita bisa mewajibkan manusia untuk membenarkan secara pasti terhadap apa yang datang dari hadits ahad -sedang hadits ahad sendiri bersifat dzonniy? Dan bagaimana mungkin kita bisa mengkafirkan seseorang karena dia tidak memberi pembenaran secara pasti terhadap sesuatu yang datang dari dalil dzonniy -yang hanya mengahsilkan dugaan kuat? Wallaahu a’lamu bish showaab

Kesalahpahaman Yang Perlu Ditepis

1.Tidak Dijadikan Hujjah Dalam “Perkara Yang Wajib Dibenarkan Secara Pasti” (baca: aqidah) Bukan Berarti Diingkari!

Setelah uraian di atas yang panjang-lebar, kami ingin memberi klarifikasi bahwa tidak menjadikan hadits ahad dalam perkara Aqidah bukan berarti menolak atau mengingkari kandungan makna yang dibawa oleh hadits ahad. Yang benar adalah bahwa hadits ahad tetap harus dibenarkan sesuai dengan kapasitas dalil yang datang kepada kita.

Tapi ada sementara orang yang mengatakan “bukankah mengatakan bahwa iman tidak dibangun berdasarkan hadits ahad di satu sisi dan mengatakan hadits ahad tetap harus dibenarkan pada sisi yang lain merupakan pernyataan yang bodoh dan kontradiktif? Seperti seseorang yang mengatakan bahwa “kita harus turun” tapi pada saat bersamaan ia juga mengatakan “kita juga harus naik”, apakah itu bukan mustahil namanya? Bagaimana mungkin seseorang bisa “tidak mengimani” tapi sekaligus “membenarkan” ? Bagaimana mungkin hadits ahad itu “ditolak” dalam aqidah tapi pada saat yang sama dia juga dibenarkan?” . Itulah perkataan mereka.

Jawab: Sesungguhnya pernyataan ini hanya muncul pada orang-orang yang tidak mau menelaah pendapat kami dengan cermat dan sabar. Jika dia mengikuti uraian kami dengan baik tentang apa yang kami maksud dengan tasqiiqul jazm (pembenaran pasti), imaan dan aqiidah, niscaya pertanyaan seperti itu tidak akan muncul.

Berkali-kali kami tegaskan bahwa yang kami maksud dengan iman adalah pembenaran yang pasti-tashdiiqul jazm, yang tidak mengandung keraguan sebutir debu pun. Tashdiiqul jazm itu bukan sembarang pembenaran, ia adalah salah satu jenis pembenaran di antara pembenaran-pembenar an yang ada. Lebih tepatnya adalah tingkat pembenaran yang paling tinggi dan sempurna. Pembenaran yang pasti hanya bisa dicapai dengan adanya dalil yang pasti (qoth’i). Kok bisa? Ya, karena bagaimana mungkin dalil yang tidak pasti akan menghasilkan pembenaran yang pasti? Jadi kesimpulannya, karena iman itu adalah tashdiiqul jazm, maka iman itu bukan sembarang pembenaran, tapi ia adalah pembenaran berdasarkan dalil yang pasti. Pembenaran yang tidak berlandaskan dalil yang bersifat pasti tidak bisa dikatakan iman. Jadi tidak mengimani artinya adalah tidak membenarkannya secara pasti, bukan tidak membenarkannya sama sekali.

Jika dalil-dalil syara’ yang qoth’i (wurut/tsubut) menunjukkan kebenaran sesuatu secara pasti (dalam dilalahnya), maka wajib bagi siapa saja untuk membenarkannya secara pasti (baca = mengimani). Masalah yang wajib dibenarkan secara pasti itu yang disebut sebagai masalah-masalah aqidah. Ada perlakuan khusus bagi orang yang tidak membenarkan secara pasti terhadap masalah aqidah, yakni dia akan dikatakan kafir. Jika dia sebelumnya seorang muslim, maka saat dia tidak-membenarkan- secara-pasti salah satu masalah di antara masalah-masalah yang didalili dengan dalil yang qoth’i, maka dia akan dianggap murtad. Contohnya seperti tidak membenarkan secara pasti bahwa Muhammad shollallaahu ‘alaihi wa sallam adalah rasul terakhir, maka dia murtad.

Berbeda dengan hal-hal yang tidak datang dari dalil-dalil yang qoth’i, seperti hadits tsumma takuunu khilaafatan ‘alaa minhaajin nubuwwah –kemudian akan ada khilafah yang tegak di atas manhaj kenabian. Hadits ini hadits ahad yang aspek tsubutnya (sumber pengambilan) dzonniy. Kita membenarkan dan tidak mengingkari isi hadits ini, yaitu bahwa besok akan ada khilafah yang berdiri di atas manhaj kenabian. Kami sering menggunakan hadits ini untuk menyemangati kaum muslimin agar mereka terlibat dalam usaha mengembalikan khilafah. Akan tetapi, karena hadits ini hadits ahad, maka kita tidak bisa membenarkannya dengan pembenaran yang pasti. Dengan demikian masalah akan adanya khilafah ini tidak bisa dimasukkan ke dalam perkara aqidah, dimana kaum muslimin tidak dituntut untuk membenarkannya secara pasti dan siapa saja yang menolaknya maka tidak kita anggap kafir. Maka, siapa saja yang meragukan akan adanya khilafah di masa datang tidak jatuh dalam kekafiran. Hanya saja, dia jatuh pada kesalahan. Yakni menolak sesuatu yang kebenarannya diduga kuat.

Penjelasannya begini: Kami telah tegaskan pendirian kami tentang hadits ahad, bahwa ia bersifat dzonniy -dugaan kuat. Maka dia tidak bisa menghasilkan pembenaran yang pasti. Akan tetapi adalah sebuah kesalahan jika kita mengingkari apa yang dibawa oleh hadits ahad. Mengingkari apa yang telah terbukti kuat kebenarannya -walau pun tidak 100%- adalah sebuah kebodohan yang jelas. Sebab yang disebut dugaan kuat adalah kecenderungan kuat ke arah pembenaran dari pada ke arah pengingkaran. Itu artinya lebih mudah menerima dari pada menolaknya, dan lebih mudah membenarkannya dari pada mendustakannya. Lebih dari itu, sesuatu yang didasarkan pada dalil yang tidak sampai derajat pasti bukan berarti pasti ketiadaannya. Sebab dibutuhkan dalil pengingkaran yang qoth’i untuk memastikan ketiadaan sesuatu yang telah diduga kuat keberadaannya. Sebagai ilustrasi, kembalinya khilafah adalah sesuatu yang tidak pasti/qoth’i, tidak bisa dibenarkan secara jazm, dia hanya gholabatudz- dzon-kepercayaan yang kuat. Akan tetapi tidak bisa dikatakan bahwa karena informasi kembali berdirinya khilafah itu tidak qoth’i maka disimpulkan bahwa khilafah itu tidak akan pernah berdiri. Kesimpulan ini justru merupakan keyakinan yang tidak berdasarkan dalil sama sekali. Contoh lain, pertanyaan dalam kubur didasarkan pada hadits ahad, dan dia tidak qoth’i. Tapi seseorang tidak bisa sama sekali mengingkari adanya pertanyaan dalam kubur hanya dengan alasan bahwa dalil tentang pertanyaan dalam kubur itu tidak qoth’i. Ini salah. Sebab jika seseorang mempercayai pertanyaan kubur sebagai pembenaran yang kuat -meski tidak sampai jazm-, maka pembenaran itu merupakan suatu tindakan yang berdasarkan dalil dzonniy yang memang menghasilkan pembenaran yang kuat (gholabatudz- dzon). Tapi seseorang yang memastikan bahwa pertanyaan dalam kubur itu tidak ada -hanya dengan alasan dalilnya tidak qoth’i- maka orang ini justru tidak mendasarkan keyakinannya pada suatu dalil pun. Orang yang mengingkari apa yang didasarkan pada hadits ahad yang shohih tanpa dalil adalah orang yang salah dan dia berdosa karena kesalahannya itu. Kecuali jika pengingkarannya itu didasarkan pada suatu dalil yang lebih kuat (seperti hadits yang lebih shohih atau mutawatir).

Maka Masalah turunya Isa Al Masih ‘alaihis salam, munculnya Dajjal, Imam Mahdi, berdirinya khilafah kembali, pertanyaan dalam kubur, dan lain-lain, adalah masalah-masalah yang didasarkan pada khobar ahad, maka kami membenarkannya sesuai kualitas dalil yang datang kepada kita. Hanya saja masalah-masalah itu tidak termasuk perkara yang wajib untuk “dibenarkan- dengan-pembenara n-yang-pasti” , dimana siapa saja yang ragu atau mendustakannya tidak bisa dihukumi murtad. Mengapa demikian? Karena memang tidak ada jalan untuk membenarkannya dengan pembenaran yang pasti. Demikianlah, sekarang apakah pernyataan “kami membenarkan apa yang dibawa oleh hadits ahad, tapi kami tidak menganggapnya sebagai perkara keimanan” masih terlihat kontradiktif? wa billaahit taufiq.

2. Tidak Menjadikan Hadits Ahad Sebagai Hujjah Dalam Aqidah Bukan Berarti Menentang Apa Yang Disabdakan Nabi shollallaahu ‘alaihi wa sallam

Perkataan, perbuatan dan taqriir Nabi shollallaahu ‘alaihi wa sallam adalah hujjah dalam aqidah dan amal perbuatan. Ini adalah masalah qoth’i, ma’luumun minaddiini bidhorurah –suatu hal yang jelas-jelas jelas dalam agama islam. Perkataan, perbuatan dan taqriir Nabi shollallaahu ‘alaihi wa sallam itulah yang diistilahkan sebagai as-sunah dalam disiplin ilmu ushul. Menolak as-sunah secara umum sebagai hujjah dalam agama, baik dalam masalah ushul mau pun furu’ merupakan kekafiran. Sebab banyak ayat dalam Al Qur’an Al Kariim yang menegaskan dengan penunjukkan yang qoth’i bahwa As-sunah juga merupakan wahyu. Disamping itu, Al Qur’an juga memerintahkan kita secara tegas untuk mentaati, meneladani dan berhukum kepada Nabi shollallaahu ‘alaihi wa sallam –maksudnya berhukum kepada risalah yang beliau bawa. Oleh karena itu, pengakuan atas keharusan mengambil as sunah sebagai dalil dalam aqidah dan amal merupakan permasalahan i’tiqod. Menolak ini berarti keluar dari islam.

Oleh karena itu, umat islam wajib ber-istidlaal dengan as-sunah, baik dalam perkara aqidah mau pun amal. Taqiyuddiin An Nabhaaniy rahimahullah sudah menegaskan hal itu sebelum beliau memasuki pembahasan masalah berhujjah dengan khobar ahad (lihat bab As-sunnatu daliilun syar’iyyun ka-Al-Qur’aan dan Al Istidlaalu bi As Sunnah dalam Asy-syakhshiyyah juz I). Beliau menjelaskan masalah ini dengan cukup berikut dalil-dalilnya yang qoth’i. Alhamdulillaah perkara ini sangat jelas.

Kemudian jika ada yang menanyakan: kenapa Taqiyuddiin An Nabhaani mengatakan bahwa hadits nabi yang mutawatir itu qoth’i, memberi faedah ilmu, harus dibenarkan secara pasti, sedang hadits nabi yang ahad itu tidak qoth’i, hanya menghasilkan dzon (pembenaran yang tidak sampai pasti), dan tidak boleh dibenarkan secara pasti? Padahal, apakah ada shahabat yang mendengar sabda nabi shollallaahu ‘alaihi wa sallam kemudian mengatakan: “sabda nabi shollallaahu ‘alaihi wa sallam yang kita dengar barusan ini qoth’i, ia harus kita benarkan secara pasti dan harus kita gunakan sebagai dalil aqidah, sedangkan sabda nabi shollallaahu ‘alaihi wa sallam yang kita dengar tadi pagi maka itu dzonny, tidak bisa kita gunakan sebagai hujjah untuk perkara yang menuntut kepastian (aqidah)!”. Apakah ada shohabat yang membagi-bagi sabda nabi shollallaahu ‘alaihi wa sallam menjadi qothi-dzonniy, kemudian menolak yang dzonniy dalam aqidah seperti yang dilakukan Taqiyuddiin?

Jawabnya: memang benar, jika kita mendengar langsung apa yang disabdakan Nabi shollallaahu ‘alaihi wa sallam, maka kita harus membenarkan dengan pasti seluruh apa yang beliau sabdakan, jika itu menyangkut perkara aqidah dan hukum syara’. Sabda Nabi yang kita dengar dalam aqidah dan hukum itu merupakan wahyu dari Allah, bukan ijtihad beliau sendiri. Sehingga semuanya pasti benar, mendustakannya adalah kafir kepada kerasulan Muhammad shollallaahu ‘alaihi wa sallam. Dengan begitu sabda nabi shollallaahu ‘alaihi wa sallam yang kita dengar secara langsung itu tidak dibagi-bagi menjadi qoth’i dan dzonniy. Tidak juga dibagi menjadi dlo’if, hasan dan shohih. Tidak pula menjadi ghorib, ‘aziz, mustafidl dan mutawatir. Tidak ada yang áliy tidak ada yang nazil. Tidak ada pula yang berta’arudl (bertentangan) sehingga harus ada yang rajih (dipilih) dan yang marjuh (dikalahkan) . Tidak ada yang muttashil, munqothi’, mu’allaq, maupun mursal. Tidak seorang shohabat pun yang mendengar sabda Nabi shollallaahu ‘alaihi wa sallam secara langsung membagi-bagi sunah menjadi banyak macam seperti itu.

Tapi kenapa para ulama membagi-bagi hadits yang mereka dengar dari para guru mereka menjadi bermacam-macam? Kemudian mereka menolak hadits yang mereka anggap maudlu’, munkar, syadz, mudlthorob, munqothi’, mu’allaq, mu’allal, dan jenis-jenis hadits dlo’if yang lain? Hal itu telah kita ketahui bersama. Lantas kenapa tidak ditanyakan kepada para ulama itu: “kenapa kalian menolak sabda Nabi shollallaahu ‘alaihi wa sallam?”.

Jawabnya kita sudah tahu, bahwa mengimani sunah sebagai hujjah itu berbeda dengan mengambil as sunah dari orang yang meriwayatkannya. Para ulama tidak mendengar sunah langsung dari nabi shollallaahu ‘alaihi wa sallam. Mereka mendengarnya dari orang lain, yang mana orang itu juga mendengarnya dari orang lain. Maka mereka menyeleksi mana orang-orang yang pantas diterima periwayatannya dan mana yang tidak dengan metode yang ketat. Dengan begitu, mereka mengambil sebagian hadits yang mereka anggap kuat dan menolak yang dianggap lemah. Yang mereka terima pun ada yang tergolong hasan, dan ada yang shohih. Hadits shohih lebih kuat dari hadits hasan. Hadits dari keenam kitab induk lebih kuat dari hadits-hadits yang lain. Hadits shohih yang diriwayatkan bersama antara Al Bukhori dan Muslim lebih kuat dari semua hadits shohih yang bukan diriwayatkan oleh keduanya. Hadits shohih dari Al Bukhori lebih kuat dari hadits Muslim. Lebih dari itu, semua hadits ahad yang shohih tidak lebih kuat dari hadits mutawaatir.

Begitulah, kekuatan hadits itu bertingkat-tingkat. Jika hadits ahad itu semuanya qoth’i, niscaya dia tidak bertingkat-tingkat. Dan jika dia qoth’i, niscaya dia tidak lebih lemah dari hadits mutawaatir. Mana ada sesuatu yang telah qoth’i bisa dianggap lebih lemah dari yang lain? Dan ingat, yang dianggap memiliki kelemahan bukanlah as sunah, melainkan periwayat, atau metode periwayatan. wallaahu a’lam

3. Tidak Menjadikan Hadits Ahad Sebagai Hujjah Dalam Aqidah Bukan Berarti Menentang Orang Yang Meriwayatkannya

Ada orang yang bertanya: “anda tidak menjadikan hadits ahad sebagai hujjah dalam aqidah, padahal anda ini bukan ahli hadits. Sedangkan Imam Al Bukhori yang jelas jauh lebih tahu tentang hadits dari pada anda, telah mencantumkan hadits-hadits yang tidak anda pakai dalam aqidah itu. Apakah anda merasa bahwa diri anda lebih paham dari pada Imam Al Bukhori?”.

Maka jawabnya tidak. Kami tidak lebih alim dari Imam Besar itu. Tapi kami hanya mengatakan bahwa apa yang mereka riwayatkan secara ahad tidak qoth’i, tidak bisa dipastikan bahwa nabi shollallaahu ‘alaihi wa sallam memang mengatakan seperti apa yang beliau terima. Tapi kami juga tidak mendustakan apa yang beliau terima. Dengan metode yang beliau gunakan, hadits yang didapat maksimal menghasilkan gholabatudz- dzon, yakni kearah pembenaran yang kuat, kecuali yang mutawaatir maka dia qoth’i.

Kami berpendapat beliau tidak menyatakan bahwa apa yang beliau riwayatkan adalah 100% benar dari Nabi shollallaahu ‘alaihi wa sallam. Pernyataan seperti ini telah diriwayatkan dari Imam Ahmad -menurut salah satu dari dua riwayat (lihat buku Al Qorodlowi: Sunah Nabi Sumber Ilmu Pengetahuan dan Peradaban, Gema Insani Press).

Di samping itu, kebanyakan para pemilik kitab hadits belum melakukan istidlaal dengan hadits-hadits yang mereka riwayatkan. Mereka hanya menyajikan hadits yang mereka anggap shohih dengan apa adanya tanpa syarah dan tanpa menunjukkan aspek pendalilannya. Mereka belum berhujjah dengan hadits-hadits itu untuk menunjukkan sikap mereka dalam masalah aqidah maupun hukum.

Disamping itu, kami tidak berpendapat bahwa meriwayatkan hadits ahad yang mengandung aspek aqidah itu tidak boleh (yang biasanya berupa khobar ghoib). Boleh-boleh saja meriwayatkan hadits tentang Dajjal, Imam Mahdi, atau turunya Isa ‘alaihis salam. Yang tidak bisa dilakukan adalah menjadikan masalah Dajjal ini sebagai bagian dari masalah yang harus dibenarkan secara pasti, sehingga menganggap kafir siapa saja yang meragukannya. Padahal, dalilnya hadits ahad, yang hanya bisa dibenarkan dengan pembenaran yang kuat tapi tidak sampai pasti. Tapi juga tidak boleh mengingkarinya.

Di samping itu, jika hadits ahad yang mengandung masalah aqidah itu tidak boleh diriwayatkan, maka tidak akan pernah ada hadits aqidah yang mutawaatir, seperti tentang adanya syafaat. Sebab hadits mutawaatir pada hakekatnya tersusun dari hadits ahad, yang diriwayatkan dari orang ke orang. Hanya saja riwayat-riwayat yang masing-masing ahad itu jumlahnya banyak sehingga tidak mungkin perowinya sepakat berbohong atau jatuh pada kesalahan yang sama. Wallaahu Al muwaffiq ilaa aqwamith thoriiq

Shollallaahu ‘alaa sayyidinaa Muhammad wa ‘alaa aalihi wa ash-haabihi wa sallam

walhamdulillaahi Rabbil ‘aalamiin

***

Jogja, 1 Maret 2007

Titok Priastomo (Penulis adalah Ketua Gema Pembebasan DIY, mahasiswa Fakultas Peternakan UGM)

35 Tanggapan to “Tulisan Luar”

  1. Bagai Cabe Merah Dan Cabe Hijau « Hanichi Kudou Says:

    […] Tulisan Luar […]

  2. ibnu Says:

    jadi ada orang yang berdoa minta sama Allah ..mohon dilindungi dari fitnah dajjal…cuman dia sendiri ragu…dajjal itu ada apa ada apa engga… begitu ya maksudnya..

    aqidah kok nebak2..

  3. abee Says:

    Mas, mbok belajar ilmu ushul hadits dulu lah..biar nggak salah kaprah. Tahu nggak sih hadits ahad itu apa?

  4. Hanichi Kudou Says:

    :: Kagem Kang Ibnu ::

    jadi ada orang yang berdoa minta sama Allah ..mohon dilindungi dari fitnah dajjal…cuman dia sendiri ragu…dajjal itu ada apa ada apa engga… begitu ya maksudnya..

    Wela.. sopo kui Kang.. walah.. walah.. kok iso yo.. Nek aku mboten kok Kang, aku ki percoyo karo sek jenenge fitnah dajjal kok, nyantai wae Kang..

    aqidah kok nebak2..

    Wealaahh.. sopo maneh kui Kang.. Nggeh mboten saget Kang, Aqidah kok nebak-nebak.. Aqidah niku tashdiiqul jazm, jadinya dalilnya harus wajibul i’tiqoodi bihaa ‘an thoriiqittawaaturi,. TApi hadits ahad tidak boleh diingkari, nggeh mboten Kang Ibnu.. Nggeh tho..

    :: Kagem Kang Abee ::

    Mas, mbok belajar ilmu ushul hadits dulu lah..biar nggak salah kaprah. Tahu nggak sih hadits ahad itu apa?

    Inggih Kang.. Matur nuwun nasehatnya.. Kalo setahu saya ya Kang, setahu saya lho ini, klo salah mohon dikoreksi, hadits ahad itu hadits yang tidak memenuhi syarat-syarat hadits mutawatir (Pengantar Ilmu Hadits, Manna’ al-Qohthoni), atau menurut Syaikh Dr. Mahmud Thahhan, dalam taisiru mushtholah hadits, hadits ahad itu hadits yang jumlah perawi pada tiap thobaqotnya tidak sampai ke derajat mutawatir, bisa satu, dua, atau tiga, namun tidak sampai derajat mutawatir.. nggeh mboten Kang..🙂

  5. Rara Says:

    Assalamu’aaikum akh,
    Masalah hadits ahad ya ?
    Ana mau tanya ni, waktu Rosul Mengutus Mu’adz bin Jabal kesebuah daerah, trus nabi menanyakan dengan apa ia akan memberikan keputusan. ia pun menjawab, dengan al-quran trus jika tidak ada maka ia akan ijtihad …..,

    Nah yang jadi pertanyaan ana adalah, setelah sampai mu’adz bin jabal ke daerah yang dituju untuk menyebarkan Aqidah, syariat dll. apakah ini tidak bisa dijadikan hujjah. Karena hanya dari mu’adz sendiri (Ahad) yang mebawa khobar itu (aqidah) ?

    Muhun jawabane kiyai, permios….

  6. Hanichi Kudou Says:

    Assalamu’aaikum akh,

    Wa’alaykumussalaam Rara,

    Masalah hadits ahad ya ?

    Iya sih..

    Ana mau tanya ni, waktu Rosul Mengutus Mu’adz bin Jabal kesebuah daerah, trus nabi menanyakan dengan apa ia akan memberikan keputusan. ia pun menjawab, dengan al-quran trus jika tidak ada maka ia akan ijtihad …..,

    Nah yang jadi pertanyaan ana adalah, setelah sampai mu’adz bin jabal ke daerah yang dituju untuk menyebarkan Aqidah, syariat dll. apakah ini tidak bisa dijadikan hujjah. Karena hanya dari mu’adz sendiri (Ahad) yang mebawa khobar itu (aqidah) ?

    Muhun jawabane kiyai, permios…

    Pertama, al-Quran yang sekarang ada di masa kita adalah al-Quran yang telah di-itsbat atau ditetapkan sebagai kabar yang mutawatir, melalui pengumpulan yang dilakukan secara mutawatir pada zaman Khalifah Abu Bakar ash-Shiddiq ..

    Kedua, konteks hadits itu bukan membicarakan masalah aqidah, kenapa demikian? karena Muadz bin Jabal mengatakan bahwa jika tidak ada dalilnya dalam al-Quran maka yg digunakan adalah as-Sunnah, jika tidak ada juga dalam as-Sunnah maka Muadz akan melakukan ijtihad. Nahh.. dalam aqidah, tidak ada ijtihad. Karena dalil aqidah haruslah dalil yang Qoth’i (pasti 100%), sehingga yang dibicarakan dalam hadits itu bukan dalam konteks aqidah, karena jikalau dalam konteks aqidah, maka PASTI Rasul shallallahu a’laihi wa sallam akan menolaknya, tetapi Rasul meng-iyakannya, berbati yang dibicarakan dalam hadits itu bukanlah dalam konteks aqidah, karena sekali lagi, dalil aqidah tidak bisa didapatkan melalui jalan ijtihad.

    Ketiga, Yang dibicarakan dalam hadits itu adalah masalah-masalah hukum (Ahkam) bukan maslaah aqidah. (kok diulang ya.. ndak apa-apalah biar keliatan lebih tegas).

    Keempat, Saya mah bukan kiyai, tapi priyayi, hehe nggak deng.. saya hanya manusia biasa..🙂

  7. Rara Says:

    Wah mas, yang ana maksud adalah pelajaran2 tentang aqidah yang dibawa muadz bin jabal yang diberikan kepada penduduk daerah itu, apakah ini tidak termasuk khobar ahad ? apakah ini harus dipungkiri juga karena hanya mu’adz yang bawa ?

  8. Hanichi Kudou Says:

    Ya, pelajaran-pelajaran tentang aqidah yang dibawa Muadz bin Jabal seorang kepada penduduk suatu daerah adalah khobar ahad. Dan Khobar ahad ini secara kualitas sangat-sangat tinggi, karena hanya ada satu perowi yang langsung berhubungan dengan RAsul shallallahu ‘alaihi wa sallam, tetapi tetap, statusnya sebagai khobar ahad. Umar bin Khattab ra. pernah menolak riwayat salah satu ayat al-Quran yang diriwayatkan oleh Hafshah, anaknya sekaligus Ummul Mukminin, istri Rasul shallallahu ‘alaihi wa sallam. Jadi dalam masalah Aqidah, riwayat ahad bisa saja ditolak.

    Namun jangan sampai anti terjebak dan berhenti sampai disini dalam memahami tulisan saya ini, tapi saya katakan, khabar ahad yang shahih wajib dibenarkan, tetapi pembenarannya tidak sampai para derajat qoth’iy (100% benar), tidak ada sebutir debu pun kesalahan.

    Sehingga jika seandainya saya ada ada di masa itu ditengah-tengah penduduk yang didakwahi oleh shahabat Muadz bin jabar radhiyaLlahu ‘anh dalam masalah aqidah, maka saya akan membenarkannya, dan akan saya katakan orang yang tidak percaya kepada perkataan Muadz sebagai orang yang agak terganggu jiwanya, namun jika dia muslim, maka dia tidak Kafir. Demikianlah..

  9. ce-mote Says:

    hanichi said :
    Ketiga, Yang dibicarakan dalam hadits itu adalah masalah-masalah hukum (Ahkam) bukan maslaah aqidah. (kok diulang ya.. ndak apa-apalah biar keliatan lebih tegas)

    pertanyaan :
    Antum dapat darimana pemahaman seperti ini? silakan hadits tersebut dibaca lagi yg bener terus baca syaroh-nya dari ulama.
    kok bisa2nya mengatakan yg disampaikan Mu’adz hanya masalah ahkam?

    Andai saja yang ke Yaman ini Mu’adz tidak sendiri/dtemani sahabat yang lain 1 aja tentu mas hanichi akan mengatakan yang di sampaikan Mu’adz adalah : Islam dan semua perkara tentang Islam termasuk di dalamnya akidah

    bukan begitu bukan..

    huehehehe..

  10. Abu Aqil Al-Atsy Says:

    Salam kenal Hanichi, Ikut Nimbrung ne.

    Dari Jawaban Ente kepada Rara, dapat ana kutip ne.
    khabar ahad yang shahih wajib dibenarkan, tetapi pembenarannya tidak sampai para derajat qoth’iy (100% benar)

    Trus Ente Bilang :
    Sehingga jika seandainya saya ada ada di masa itu ditengah-tengah penduduk yang didakwahi oleh shahabat Muadz bin jabar radhiyaLlahu ‘anh dalam masalah aqidah, maka saya akan membenarkannya, dan akan saya katakan orang yang tidak percaya kepada perkataan Muadz sebagai orang yang agak terganggu jiwanya

    Ini Aqidah Ente apa HTI yach ?

  11. Abu Aqil Al-Atsy Says:

    Ngutip lagi ne, Ente bilang begini ;

    Sehingga jika seandainya saya ada ada di masa itu ditengah-tengah penduduk yang didakwahi oleh shahabat Muadz bin jabar radhiyaLlahu ‘anh dalam masalah aqidah, maka saya akan membenarkannya, dan akan saya katakan orang yang tidak percaya kepada perkataan Muadz sebagai orang yang agak terganggu jiwanya

    Nah, Berarti kalo ndak percaya ama hadits ahad sama dengan Orang yang terganggu Jiwanya, Gila ya ? alias GELO ? atau pikun ? atau punya sakit jiwa kali ?

  12. Hanichi Kudou Says:

    :: Kagem Kang ce-mote dan Kang Abu Aqil Al-Atsy ::

    Aduh Kang Mas.. rasa-rasanya saya sudah kehabisan tenaga buat mempermasalahkan hal yang seperti ini. Sedang Umat Islam diluar sana terus menerus menderita dalam naungan pemerintahan yang dzalim. Marilah kita saling memaklumkan dalam perbedaan ini, karena memang para ulama terdahulupun demikian halnya.

    Begini sajalah, saya mohon komentar saya berikut ini dibaca dengan hati-hati:

    1. Faedah hadits ahad, apakah berimplikasi kepada qoth’iy atau tidak adalah permasalahan para ulama baik khalaf maupun salaf.

    2. Saya pribadi (jangan dihubung-hubungkan dengan HT, karena saya memang belum menjadi anggota HT) mengadopsi bahwa Hadits ahad wajib diterima namun tidak berimplikasi kepada keyakinan 100% (qoth’iy).

    3. Saya percaya kepada hadits ahad, saya ulangi, saya percaya kepada hadits ahad.

    4. Saya percaya kepada Siksa kubur, saya percaya kepada Shirotul Mustaqiim, saya percaya akan adanya haudhl, saya percaya nanti akan datangnya dajjal.

    Cukup? Insya Allah..

  13. rudi irfan Says:

    sebemnarnya yang menentukan hadist itu mutawatir atau ahad adalah jumlah jalur perawinya ( buat rara ) buakn yg menyampaikan , jd kalau yang menyampaikan ke orang yg mengumpulkan hadist dari berbagai perawi yang berbeda di tiap jalur dan orang berbeda ditiap tingkatan jalur ( thaqobbat ) maka dia sampai ke derajat mutawatir. jadi yang dimaksud mas hanichi adalah kebenaran iotu bertingkat, hadist mutawatir memberikan koskuensi pada kekafiran ( makanya para shahabat begitu teliti pada saat membukukan al Qur’an ) sedangkan tidak percaya pada hadist ahad yg shahih tidak maka tidak sampai kafir tapi dosa yang besar, kalau dalam makalah mas hanichi hal ini disebabkan pemahaman kebenaran yg bertingkat dan perbedaan pada masalah definisi aqidah dan iman yg kemudian para ulama berbeda – beda. kalau mau baca buku pendukung ada yg bagus yaitu buku aqidah salaf & khalaf karangan syeikh yusuf qhardawi

  14. Rara Says:

    rudi irfan said :

    sebemnarnya yang menentukan hadist itu mutawatir atau ahad adalah jumlah jalur perawinya ( buat rara ) buakn yg menyampaikan

    Trus ana mau tanya ni, Dari Pertanyaan ana diatas, Mu’adz itu sebagai apa ? Perawi atau Penyampai Pesan ya ?

    Apa penduduk waktu itu harus mencari perawi2 lain dari khabar yang di bawa mu’adz ? haihata….

  15. Rara Says:

    rudi irfan said :

    hadist mutawatir memberikan koskuensi pada kekafiran

    Apa artinya ini ya ? wah pemahaman baru ni ? Takut akh.

  16. Abu Al-Jauzaa' Says:

    Buat mas Hanichi,…. lumayan panjang juga artikel sampeyan di sini. Sangat banyak yang bisa dikomentari, baik melalui rujukannya (kelihatanyya antum hanya menukil terjemahan saja ya mas, tidak merujuk ke kitab aslinya ?), istidlalnya, istinbathnya, dan yang lainnya.
    Mungkin lain kali ana bisa komentari di sini atau juga mungkin di forum lain yang lebih luas sifatnya……….

    Catatan kecil :

    1. Antum menyebut Imam An-Nawawi dalam Syarahnya ya ? Coba deh antum tengok kembali dalam Syarah Shahih Muslim, dari mulai muqaddimah sampai bab-bab tafshilnya. Benar bahwa beliau mengatakan hadits ahad sifatnya dhanny. Tapi apakah beliau tidak mengamalkan hadits ahad dalam masalah aqidah atau mengatakan bahwa : “saya tidak membenarkannya seratus persen”, atau yang lainnya. Tunjukkan kepada ana buktinya dari Shahih Muslim !! Kalau bisa, silakan tulis dengan lafadh Arabic-nya !!

    2. Antum menyebutkan Al-Khathib Al-Baghdadi yang kelihatannya antum nukil untuk mendukung pendapat antum. Tunjukkan pada ana kalimat beliau yang mendukung pendapat An-Nabhani !!

    3. Ana lihat, apa yang antum paparkan berbeda dengan paparan tokoh HT yang lain. Yang nampak bagi ana, apa yang antum sampaikan merupakan gabungan dari beberapa masukan kritik para ulama terhadap masalah hadits ahad ke HT. Kebetulan ana tinggal di Bogor yang banyak pentolan HT-nya. Ana lihat, apa yang antum opaparkan hanyalah bernuansa teoritis belaka (tentunya dengan melihat beberapa variasi pendapat tokoh HT di tanah air). Mas, sampeyan pernah mbaca lembaran Ad-Dausiyah atau kitab Al-Istidlal bidh-Dhann nya Fathi Salim ?

    4. Antum menjawab hadits Mu’adz. Sangat banyak yang sebenarnya bisa ana komentari. Sedikit saja yang pasti : Jawaban antum ketika menisbatkan hadits Mu’adz adalah salah. Kenapa salah ? Yang ditanyakan oleh akh Rara adalah riwayat yang ada di Shahih Bukhari dan yang lainnya yang berisi dakwah ke Negeri Yaman. Adapun isi komentar antum (jawaban) adalah sebuah hadits DLA’IF yang menyatakan tentang kaifiyah Mu’adz memutuskan masalah. Yang pertama : Al-Qur’an, As-Sunnah, dan ijtihad. Sekali lagi : Hadits ini Dla’if karena dalam rantai rawinya ada perawi yang majhul. Silakan buka dalam Shahih Bukhari (tentang hadits yang ditanyakan oleh akh Rara). Kalau antum mau menyanggah, silakan antum bawakan riwayatnya secara lengkap dari Shahih Bukhari di sini. Ana akan lihat (dan kebetulan ana sudah tahu permasalahan hadits ini).
    Tegasnya : Rasulullah shallallaahu ‘alaihi wasallam mengutus Mu’adz ke Yaman untuk menyampaikan permasalahan aqidah.

    5. Antum menyebut bahwa qira’at Al-Qur’an sekarang ini adalah mutawatir. Dan dari penjelasan ustadz HT yang bernama Hafidh Abdurrahman dan yang lainnya mengatakan bahwa salah satu bukti aqidah hanyalah diterima berdasarkan hadits mutawatir saja dengan beristinbath tentang penulisan Al-Qur’an. Pertanyaan ana ke antum : “Apakah memang syarat penulisan Al-Qur’an itu (sebagaimana yang ada sekarang ini) adalah harus mutawatir sebagaimana definisi mutawatir menurut ilmu musthalah ? Jawab dengan bukti.

    6. Antum menyebutkan teori Dhann. Pertanyaan ana : “Apakah seseorang memang diharamkan beraqidah dengan Dhann ?”. Bagaimana antum menjelaskan tentang ayat : “Alladziina TADHUNNUUNA annahum mulaa

  17. Abu Al-Jauzaa' Says:

    MAAF MAS TITOK,… KOMENTAR ANA DI NOMOR 16 KE-KLIK. JADI BELUM SELESAI. BERIKUT ANA PASTE COPAS LAGI :

    mas Hanichi,…. lumayan panjang juga artikel sampeyan di sini. Sangat banyak yang bisa dikomentari, baik melalui rujukannya (kelihatanyya antum hanya menukil terjemahan saja ya mas, tidak merujuk ke kitab aslinya ?), istidlalnya, istinbathnya, dan yang lainnya.
    Mungkin lain kali ana bisa komentari di sini atau juga mungkin di forum lain yang lebih luas sifatnya……….

    Catatan kecil :

    1. Antum menyebut Imam An-Nawawi dalam Syarahnya ya ? Coba deh antum tengok kembali dalam Syarah Shahih Muslim, dari mulai muqaddimah sampai bab-bab tafshilnya. Benar bahwa beliau mengatakan hadits ahad sifatnya dhanny. Tapi apakah beliau tidak mengamalkan hadits ahad dalam masalah aqidah atau mengatakan bahwa : “saya tidak membenarkannya seratus persen”, atau yang lainnya. Tunjukkan kepada ana buktinya dari Shahih Muslim !! Kalau bisa, silakan tulis dengan lafadh Arabic-nya !!

    2. Antum menyebutkan Al-Khathib Al-Baghdadi yang kelihatannya antum nukil untuk mendukung pendapat antum. Tunjukkan pada ana kalimat beliau yang mendukung pendapat An-Nabhani !!

    3. Ana lihat, apa yang antum paparkan berbeda dengan paparan tokoh HT yang lain. Yang nampak bagi ana, apa yang antum sampaikan merupakan gabungan dari beberapa masukan kritik para ulama terhadap masalah hadits ahad ke HT. Kebetulan ana tinggal di Bogor yang banyak pentolan HT-nya. Ana lihat, apa yang antum opaparkan hanyalah bernuansa teoritis belaka (tentunya dengan melihat beberapa variasi pendapat tokoh HT di tanah air). Mas, sampeyan pernah mbaca lembaran Ad-Dausiyah atau kitab Al-Istidlal bidh-Dhann nya Fathi Salim ?

    4. Antum menjawab hadits Mu’adz. Sangat banyak yang sebenarnya bisa ana komentari. Sedikit saja yang pasti : Jawaban antum ketika menisbatkan hadits Mu’adz adalah salah. Kenapa salah ? Yang ditanyakan oleh akh Rara adalah riwayat yang ada di Shahih Bukhari dan yang lainnya yang berisi dakwah ke Negeri Yaman. Adapun isi komentar antum (jawaban) adalah sebuah hadits DLA’IF yang menyatakan tentang kaifiyah Mu’adz memutuskan masalah. Yang pertama : Al-Qur’an, As-Sunnah, dan ijtihad. Sekali lagi : Hadits ini Dla’if karena dalam rantai rawinya ada perawi yang majhul. Silakan buka dalam Shahih Bukhari (tentang hadits yang ditanyakan oleh akh Rara). Kalau antum mau menyanggah, silakan antum bawakan riwayatnya secara lengkap dari Shahih Bukhari di sini. Ana akan lihat (dan kebetulan ana sudah tahu permasalahan hadits ini).
    Tegasnya : Rasulullah shallallaahu ‘alaihi wasallam mengutus Mu’adz ke Yaman untuk menyampaikan permasalahan aqidah.

    5. Antum menyebut bahwa qira’at Al-Qur’an sekarang ini adalah mutawatir. Dan dari penjelasan ustadz HT yang bernama Hafidh Abdurrahman dan yang lainnya mengatakan bahwa salah satu bukti aqidah hanyalah diterima berdasarkan hadits mutawatir saja dengan beristinbath tentang penulisan Al-Qur’an. Pertanyaan ana ke antum : “Apakah memang syarat penulisan Al-Qur’an itu (sebagaimana yang ada sekarang ini) adalah harus mutawatir sebagaimana definisi mutawatir menurut ilmu musthalah ? Jawab dengan bukti.

    6. Antum menyebutkan teori Dhann. Pertanyaan ana : “Apakah seseorang memang diharamkan beraqidah dengan Dhann ?”. Bagaimana antum menjelaskan tentang ayat : الَّذِينَ يَظُنُّونَ أَنَّهُم مُّلاَقُوا رَبِّهِمْ وَأَنَّهُمْ إِلَيْهِ رَاجِعُونَ

    [2:46] (yaitu) orang-orang yang meyakini, bahwa mereka akan menemui Tuhannya, dan bahwa mereka akan kembali kepada-Nya.

    Disitu penerjemah menerjemahkan kalimat : YADHUNNUUNA dengan “meyakini”. Padahal makna asalnya adalah “menyangka/beranggapan”. Maka dari itu, dhann dari seorang yang beriman adalah kuat dan diterima serta memberikan ilmu yang bisa diamalkan. Kembali kepada masalah ilmu hadits. Sebagian persyaratan perawi maqbul telah antum sebutkan. Bukankah dengan persyaratan ketat tersebut khabar yang ia sampaikan wajib diterima, diyakini, dan diamalkan ? Lho gimana ini ?

    7. An-Nabhani menyatakan tentang definisi iman : “pembenaran/ pengakuan (terhadap suatu hal) yang bersifat pasti, sesuai dengan fakta dan didasarkan atas bukti” (tashdiiqul jazm almuthobaqu lil waqii’i ‘an daliilin). Menurut antum sendiri bagaimana sebagai pengikutnya ? benar atau salah ? Apakah setiap aqidah harus dapat dibuktikan dengan fakta ? Kalau mendefiniskan iman dengan cara begini, berapa banyak hal yang terkait dengan iman tidak dapat dipakai berdasarkan definisi syadz ini. Contohnya : Jannah. Bukankah Jannah ini merupakan sifat khabariyyah semata ? Dan yang lain sebagainya…..

    8. Antum menulis : “Jika periwayatan dari orang-orang yang adil dan dlobit itu sudah 100 % menjamin kebenaran sebuah hadits, seharusnya tidak mungkin terjadi pertentangan antara dua hadits yang diriwayatkan oleh orang-orang yang tsiqoh. Sebab, dua hal yang bertentangan tidak mungkin sama-sama benar. Salah satu dari keduanya dapat dipastikan salah atau palsu. Contohnya adalah hadits-hadits yang bertentangan mengenai cara menempatkan tangan saat turun untuk sujud dan bangkit dari sujud. Kita berani memastikan salah satu pihak dari hadits-hadits yang bertentangan itu pasti salah, meskipun keduanya diriwayatkan oleh orang-orang yang adil dan dlobit. Hanya saja kita tidak bisa mematikan mana yang salah.”

    Abu Al-Jauzaa’ berkata : “Yang nampak bagi ana adalah bahwa dalam hal ini antum sepertinya tidak memahami ilmu hadits (padahal Kitab Taisir Musthalah Hadits karya Dr. Mahmud Ath-Tahhan telah diterjemahkan dalam oleh HT. yang editornya adalah tetangga ana di Bogor). Dalam ilmu hadits hal itu disebut Mukhtalaf. Ada beberapa hal yang dapat dilakukan mengenai beberapa hadits yang “kelihatan” bertentangan. Namun harus diteliti dahulu, mungkin salah satu hadits adalah lemah, sehingga yang diunggulkan adalah hadits yang lain. Bila hadits tersebut sama-sama shahih, harus diteliti, mungkin ada qarinah nasikh mansukhnya. Yang mansukh tentu harus ditinggalkan. Mungkin pula kedua hadits tersebut bisa dijamak/digabungkan pengertiannya melalui Thariqul-Jam’i wat-Taufiq. Dan jika kita belum memahaminya juga, maka kita tawaquf akan hal itu. Pada prinsipnya, sebuah hadits shahih tidak mungkin bertentangan dengan hadits shahih lainnya. Adapun pengklasifikasian antara hadits ahad dan mutawatir, bukan ditinjau dari maqbul atau mardudnya. Tapi sampainya kepada kita. Sehingga tidak ada hubungannya untuk menolak atau menerima hadits ahad atau mutawatir jikalau shahih. Adapun pengklasifikasian ahad dan mutawatir sangat berguna jika terjadi ta’arudl. Maka dari itu, kita mengenal hadits syadz dan mahfudh. Kita menolak hadits syadz karena menyelisihi para perawi yang lain yang lebih banyak dan lebih tsiqah/dlabt daripadanya.
    Adapun contoh yang antum berikan di atas, maka hadits yang mengatakan turun lutut dahulu adalah dla’if. Dan yang shahih adalah yang mengatakan turun kedua tangan terlebih dahulu. Panjang jika paparkan uraian takhrij kedua hadits ini.
    Dan yang dla’if, pasti salah dan ditolak. Silakan antum pelajari Taisir Musthalah Hadits yang telah diterjemahkan oleh HT itu !!

    Maka, dalam kaidah yang telah para ulama tetapkan, hadits mutawatir memberikan ilmu yang bersifat dlarury, sedangkan hadits ahad memberikan ilmu yang bersifat nadhary, yaitu membutuhkan usaha penelitian.

    9. Antum mengatakan dengan menisbatkan sebuah perkataan kepada Imam Ahmad (yang antum nukil dari tulisan Dr. Al-Qardlawi). Tahukah antum apa isi perkataan Imam Ahmad tersebut ? Dalam hal ini ada dua pendapat yang ternukil dari Imam Ahmad. Dan yang lucunya, kaum HT menukil satu pendapat beliau yang telah dinyatakan sebagai pendapat lemah dari ulama madzhab Hanbaly dengan “menyembunyikan” perkataan beliau (Imam Ahmad) yang lebih masyhur. Apa isi kedua perkataan Imam Ahmad tersebut ? Ana ingin lihat seberapa jauh penelitian antum tentang perkataan Aimmah !!

    10. Antum menulis bahwa Dajjal, siksa kubur, dan turunnya Isa adalah hadits Ahad. Kalau boleh tahu…. dari siapa antum menukil perkataan ini ? Dari Syamsuddin Ramadlan ? atau Abdurrahman Al-Baghdadi yang juga tetangga jauh ana di Bogor ? Pernyataan ini sekaligus menambah keyakinan ana bahwa para tokoh HT adalah orang yang tidak tahu masalah hadits dan ilmu hadits. Di sini ana tidak mencela antum, karena antum pun juga cuma “menukil” saja dari tokoh-tokoh HT antum. Sama seperti ana. Maka di sini ana akan mengatakan : “Ketahuilah wahai akhi,…. hadits mengenai adzab qubur, Dajjal, atau turunnya ‘Isa ‘alaihis-salaam adalah mutawatir”. Dan tentu yang mengatakan ini adalah para ahli hadits terdahulu maupun sekarang. Bukan para ulama mut’akhkhirin yang menyimpang seperti Muhammad Al-Ghazali, Mahmud Syaltut, Sayyid Quthb, dan yang lainnya yangkebetulan idem dengan pendapat HT. Hadits hanya dapat diketahui dari ahli hadits. Bukan dokter, bukan filsafat, manthiqiyyin, tukang sayur, dan yang lainnya.

    11. Dan lain-lain…………..

    Maaf kalau kepanjangan. Ini baru uraian singkatnya. Kalau antum mengaku bukan anggota HT, ana ucapkan : Syukur alhamdulillah……. Pendetailan ta’qib atas uraian antum tentu akan sangat panjang dan butuh waktu untuk menuliskannya.

    Akhukum : Abu Al-Jauzaa’

  18. Hanichi Kudou Says:

    BismiLlaahirrohmaanirrohiim..

    Pertama, saya adalah Hanichi, bukan Mas TITOK. Hanichi dan Mas Titok itu beda orangnya, alias dua tubuh manusia yang punya nama berbeda, Mas Titok itu adalah Anggota HT, karena itu kan tulisan ini saya ataruh di halaman Tulisan Luar. Jadi, kalau antum tanyakan hal ini kepada Mas Titok, maka insya Allah nanti akan saya sampaikan.

    Kedua, Kalau antum berkenan mengomentari tulisan ana, silahkan baca dan komentari DISINI.

    Ketiga, saya yang bodoh ini akan mencoba menjawab poin-poin antum secara singkat dari diri saya pribadi, Hanichi, bukan MAS Titok, karena saya ndak ingin ada darah yang memanas lagi.

    Poin 1 Sekali lagi, komentar antum ini telah membuktikan kembali perbedaan definisi aqidah yang kita tabbanni. Dan perbedaan ini yang dibahas mendalam dalam tulisan Mas Titok diatas.

    Poin 2 Ini akan saya tanyakan kepada Mas Titok.

    Poin 3 Klo saya, Hanichi, boleh jawab, apa yang Mas Titok paparkan dalam tulisannya diatas tidak ada bedanya dengan tokoh HT yang lain, karena memang seperti itu, hanya saja Mas Titok agak mempertegas di bagian tertentu, yaitu perbedaan definisi yang ditabbanni mengenai aqidah. Oleh karena itu, yang saya lihat selama ini, antum dan teman-teman dari Salafy masih koma dalam memahami hakikat perbedaan yang sebenarnya sama saja. Mohon dibaca lagi ya tulisan diatas..

    Poin 4 Ada perbedaan antara tabligh dan itsbat. Yang ada dalam hadits itu adalah bolehnya tabligh (menyampaikan) masalah aqidah walaupun hanya satu orang.

    Poin 5 Kang Mas, Antum tahu kapan hadits pertama kali dibukukan? dan kapan al-Quran dibukukan? Pasti antum tahulah.. beda kan.. hehe🙂

    Poin 6 Ya, tapi kan makna dzann yang antum katakan hanya pada beberapa ayat, ada ayat lain yang menyatakan bahwa dzann itu adalah dugaan, pasti antum jg sudah tahu, ya kaan.. Berarti, definisi dzonn saja masih berbeda, bagaimana mungkin antum mau menyamakan definisi yang dipahami oleh syabab HT dengan definisi antum, lalu antum menjugde syabab HT dengan definisi yang antum tabbanni.

    Poin 7 Nahhh.. kan ini sudah dibahas di tulisan MAs Titok diatas, ketahuan ya.. hayoo sudah baca lengkap belumm.. hehehhe BAca dulu lah akh..🙂

    Poin 8 Lhoo.. hadits tentang kaki dahulu itu shahih lho MAs.. antum pernah baca al-Umm?? Disana Imam Syafii mengatakan bahwa klo mau sujud itu kaki dulu. Jangan karena berbeda trus mendho’ifkan yg lain lah Mas.. jangan lah.. ndak baik.. konsekuensinya berat..🙂

    Poin 9 Klo masalah ini memang ada perebdaan di kalangan mazhab HAnabilah, lantas pertanyaannya kenapa antum menyesatkan HT kerana berbeda dalam masalah ini?? Kan Aneh tho Kang?? al-Qordhowy sendiri yg sudah men-tahqiq pendapat mazhab Hanabilah. Coba lihat buku Sunnah, ilmu Penegtahuan dan PEradaban terbitan Tiara Wacana.

    Poin 10 Mohon, jangan gitulah Kang.. saya dan MAs Titok tentunya juga punya perasaan, klo antum memang berniat untuk menunjukki kami jalan yang kuat ya jangan dengan kata-kata seperti itu lah..🙂

    Poin 11 Klo bisa ajak teman-teman yg lain untuk berdiskusi disini.

    Saya, HAnichi, memang belum menjadi anggota HT, tapi saya menjadi semakin tertarik untuk menjadi anggota HT karena penjelasan antum diatas, Syukron ya Mas,, JazakLlah khoiran..🙂

    Akhukum : Hanichi Kudou

  19. rajaiblis Says:

    halaahhhh …
    yg begini koq malah panjang … !

    wakkakakakaaaaaa …

  20. Hanichi Kudou Says:

    Ya saya juga bingung Kang.. Kenapa kita mengaku pengikut ulama Salaf tapi ndak mengikuti sikapnya, kan Ulama Salaf juga beda pendapat, seperti kata Kang Abu al-JAuzaa’, tapi kenapa dengan dalih seperti ini kita harus saling menyesatkan, sudahlah..

  21. Muhammad Yusuf Al-Kalimantani Says:

    Hadits ahad tidak boleh dijadikan hujjah dalam perkara ‘aqidah. Pendapat ini merupakan pendapat terkuat yang wajib untuk diikuti. Siapa saja yang menolak perkara ini sungguh ia telah merendahkan akal pikirannya sendiri. Semoga Allah menyadarkan orang-orang yang bebal, dan menunjukkan orang-orang yang ragu.
    Untuk menepis pendapat-pendapat yang menyatakan bahwa hadits ahad wajib dijadikan hujjah dalam masalah ‘aqidah, maka kami akan memaparkan secara ringkas penjelasan yang dipilih oleh jumhur ‘ulama.
    Al-quran adalah pokok keimanan kaum muslim, dan ia harus ditetapkan dengan riwayat-riwayat yang mutawatir. Riwayat-riwayat ahad yang diklaim sebagai al-Quran harus ditolak sebagai bagian dari al-Quran.
    Berikut ini kami ketengahkan riwayat-riwayat ahad yang dianggap al-Quran, akan tetapi tidak boleh diyakini sebagai al-Quran:
    – Bukhari dalam kitab Tarikhnya menyatakan sebuah riwayat dari Hudzaifah, ia berkata, artinya” Saya pernah membaca surat al-Ahzab pada masa Nabi saw dan tujuh puluh ayat daripadanya saya sudah lupa, dan saya tidak mendapatkannya di dalam al-Quran sekarang.’[Durr al-Mantsur, jilid 5, hal. 180.]
    Riwayat ini adalah riwayat ahad. Seandainya riwayat ini bisa digunakan hujjah dalam masalah ‘aqidah, tentu kita harus menyakini juga bahwa surat al-Ahzab yang tertuang dalam mushhaf Imam, tidak lengkap. Sebab, ada 70 ayat dalam surat al-Ahzab yang telah hilang. Padahal, keyakinan semacam ini tentu akan berakibat fatal bagi kebersihan dan keotentikan al-Quran al-Karim sebagai kalamullah dan mukjizat terbesar dari Rasulullah saw. Menyakini riwayat ini sama artinya menuduh al-Quran telah mengalami tahrif (perubahan).
    – Riwayat semacam ini juga diketengahkan oleh Abu Ubaid di dalam al-Fadlaail dan Ibnu Mardawaih dari ‘Aisyah, ia menyatakan, “Pada masa Nabi saw, surat al-Ahzab dibaca sebanyak dua ratus ayat. Akan tetapi, ketika ‘Utsman menulis mushhaf dia tidak bisa mendapatkannya kecuali sebagaimana yang ada sekarang ini.” [al-Itqan, jilid II, hal.25, lihat juga Duur al-Mantsur, jilid 5; hal.180]
    Seandainya riwayat ahad ini harus diyakini, maka lebih dari separuh surat al-Ahzab telah hilang, tepatnya seratus dua puluh tujuh ayat telah hilang dari surat al-ahzab. Sebab, surat al-Ahzab yang ada di dalam Al-Quran hanya sampai tujuh puluh tiga ayat. Walhasil, riwayat ini tidak boleh diyakini bahkan harus ditolak untuk dijadikan hujjah dalam masalah ‘aqidah. Seorang muslim dilarang sama sekali menyakini bahwa ada ayat Quran yang tidak terlembaga dalam mushhaf ‘Utsmaniy.

    – Imam al-Anbariy meriwayatkan dalam Mashahif dan al-Hasan, Ibnu Sirin, dan Zuhri dalam hadits panjang yang menceritakan tentang pengumpulan Al-Quran, disana disebutkan, “Abu Bakar ra memerintah seorang mu’adzin untuk mengumumkan kepada masyarakat, siapa saja yang memiliki sesuatu dari al-Quran agar mereka menyerahkannya. Hafshah salah seorang Ummul Mukminin berkata, “Jika kalian sampai pada ayat ini , beritahulah aku! (Hafidzu ‘ala al-shalawaat wa al-shalaat al-wustha…). Setelah sampai pada ayat tersebut, mereka menyampaikan kepada Hafshah. Hafshah berkata, “Tulislah, hafidzu…wa al-shalaat al-wustha, wa al-shalaat al-‘ashr..”. ‘Umar ra bertanya, “Apakah kamu punya saksi?” Hafshah menjawab, “Tidak!”. ‘Umar berkata, “Demi Allah, kami tidak akan memasukkan apa yang disaksikan oleh seorang perempuan sedangkan ia tak punya bukti.”
    Riwayat Hafshah ini juga tidak boleh diyakini sebagai al-Quran. Sebab, ia adalah khabar ahad. Padahal, riwayat-riwayat ahad tidak boleh diyakini sebagai bagian al-Quran. Sebab, jika riwayat ini diyakini sama artinya menyakini bahwa al-Quran telah mengalami pengurangan, karena tidak mencantumkan lafadz “al-‘ashr”.
    – Imam Malik meriwayatkan dalam al-Muwatha’, dan Ibnu Dawud dalam Mashahif dari Ummul Mukminin ‘Aisyah ra, ia berkata, “Telah turun ayat tentang 10 (kali isapan) susuan yang mengharamkan (menjadikan mahram), kemudian dihapus dengan 5 kali (isapan) susuan. Kemudian Rasulullah saw meninggal, sedangkan beliau menyatakan ia adalah al-Quran.” Namun demikian, tak seorangpun shahabat yang memperhatikan riwayat ini. Mereka tidak menulisnya di dalam Mushhaf.
    – Ibnu Abi Dawud meriwayatkan dalam Mashahif, al-Haakim, dan selain keduanya dari Mushhafnya Ubay bin Ka’ab, ia menuturkan ayat tentang kifarah (denda) budak. Di dalam mushhafnya Ubay tersebut disebutkan, “fa shiyaam tsalaats ayaam mutatabi’aat fi kifaarat al-yamiin”[berpuasa tiga hari berturut-turut untuk kifarat al-yamin].”
    Akan tetapi, riwayat ini juga tidak dicantumkan ke dalam mushhaf imam, sebab riwayat tersebut adalah khabar ahad. Riwayat ini juga tidak boleh dianggap sebagai al-Quran. Sebab, seandainya ia harus diyakini, maka al-Quran yang terlembaga di dalam mushhaf ‘Utsmaniy tidak lagi otentik, alias telah mengalami pengurangan. Dalam masalah ini, Imam Syafi’iy menolak riwayat ini, sebab ia dinukil dengan jalan ahad [lihat al-Ihkam fi Ushul al-Ahkaam, al-Amidiy]
    – Imam Ahmad, Haakim dari Katsir bin Shalat, ia berkata, “Adalah Ibn al-‘Ash dan Zaid bin Tsabit sedang menulis mushhaf. Lalu, sampailah mereka kepada ayat ini, maka Zaid berkata, “Saya mendengar Rasulullah saw bersabda, “al-Syaikh wa syaikhaat idza zanaya [kakek dan nenek jika berzina].”, ‘Umar berkata, “Bukankah engkau tahu bahwa seorang kakek, jika ia tidak muhshon akan dijilid, sedangkan jika seorang pemuda berzina, dan ia muhshon, maka dirajam”.

    – Dalam riwayat Muwatha’ ‘Umar berkata dalam khutbahnya, “Seandainya bukan karena orang-orang mengatakan bahwa ‘Umar bin Khaththab telah menambah Kitabullah, sungguh aku akan menulisnya (ayat rajam), sungguh kami telah membacanya”.
    Namun demikian, riwayat ini bukanlah al-Quran dan tidak boleh diyakini sebagai ayat yang dihapus (mansukh). Sebab, riwayat ini adalah khabar ahad. Kita telah memahami bahwa khabar ahad tidak menghasilkan apapun kecuali hanya sekedar dzan saja. Al-Quran tidak ditetapkan kecuali dengan jalan kepastian (qath’iy), bukan dzan. Padahal, al-Quran adalah salah satu rukun dari rukun-rukun ‘aqidah yang harus diimani baik yang global maupun yang rinci. Seandainya riwayat ini bisa digunakan hujjah dalam masalah keyakinan (‘aqidah) tentu kita harus menyakini bahwa mushhaf ‘Utsmaniy tidak lagi otentik. Sebab, mereka tidak melembagakan ayat rajam yang disampaikan oleh ‘Umar ra di dalam mushhaf ‘Utsmaniy.
    – Ada pula riwayat yang dikeluarkan oleh Ahmad, al-Bazari, Thabarani, Ibnu Mardawaih dengan jalan shahih dari Ibnu ‘Abbas dan Ibnu Mas’ud, bahwa Ibnu Mas’ud dan Ibnu Abbas tidak memasukkan al-Mu’awidzatain (surat al-Falaq dan al-Naas) dari mushhafnya. Keduanya menyatakan bahwa al-Quran tidak tercampur dengan sesuatu yang bukan dari Kitabullah. Menurut kedua shahabat itu, al-mu’awidzatain bukan termasuk al-Quran, namun hanya perintah Allah kepada Nabi saw untuk berlindung dengan keduanya”.
    – Imam Fakhr al-Raziy menuturkan, bahwa sebagian kitab-kitab terdahulu telah menyebutkan bahwa Ibnu Mas’ud telah mengingkari surat al-Fatihah dan al-Mu’awidzatain sebagai bagian dari al-Quran.( al-Hafidz al-Suyuthiy, al-Itqaan fi ‘Uluum al-Quran, hal.79)
    – Imam Nawawiy dalam Syarh al-Muhadzdzab menyatakan: Seluruh kaum muslim telah bersepakat bahwa, al-Mu’awidzatain dan al-Fatihah merupakan bagian dari al-Quran. Siapa saja yang mengingkari keduanya [sebagai bagian dari al-Quran] telah terjatuh dalam kekafiran. Sedangkan riwayat yang dinukil dari Ibnu Mas’ud adalah bathil, dan sama sekali tidak shahih.
    – Al-Bazariy menyatakan, “Tidak ada seorangpun dari kalangan shahabat yang mengikuti Ibnu Mas’ud. Telah disahkan dari Nabi saw, bahwa beliau saw membaca keduanya dalam sholat, dan mu’awidzatain ditetapkan dalam mushhaf. Walhasil, para shahabat ra menolak khabar dari shahabat Ibnu Mas’ud ra, karena ia adalah khabar ahad yang tidak sampai kepada derajat mutawatir dan qath’iy.
    – Ibnu Hazm di dalam kitabnya al-Qadh al-Ma’aliy Tatmiim al-Majaliy, berkata, “Riwayat ini merupakan pendustaan atas nama Ibnu Mas’ud.” [al-Hafidz al-Suyuthiy, al-Itqaan fi ‘Uluum al-Quran, hal.79]
    – Ibnu Hajar dalam Syarh al-Bukhari menyatakan: “Telah dishahihkan dari Ibnu Mas’ud bahwa ia telah mengingkari al-Mu’awidzatain.” Riwayat senada juga dituturkan oleh Imam Ahmad dan Ibnu Hibban, bahwa Ibnu Mas’ud tidak menulis al-Mu’awidzatain di dalam mushhafnya. [Al-Hafidz al-Suyuthiy, Al-Itqaan fi ‘Uluum al-Quran, hal.79]
    Lalu, apakah berdasarkan riwayat ahad ini, anda akan menarik kesimpulan bahwa al-Mu’awidzatain bukanlah bagian dari al-Quran? Seandainya anda menyatakan, bahwa riwayat Ibnu Mas’ud ini harus diyakini, tentunya al-Quran telah mengalami tahrif (perubahan). Seandainya kita menyatakan, bahwa hadits ahad yang diriwayatkan dari Ibnu Mas’ud ini tidak boleh diyakini, maka anda telah menyelamatkan al-Quran dari adanya tahrif.
    Seluruh riwayat di atas telah menunjukkan kepada kita bahwa, riwayat ahad tidak boleh digunakan hujjah untuk membangun pokok keimanan. Perilaku para shahabat untuk tidak melembagakan riwayat-riwayat ahad yang diklaim sebagai al-Quran merupakan bukti nyata, bahwa khabar ahad tidak boleh dijadikan hujjah dalam perkara ‘aqidah.
    Allahul Haadiy wal Muwaffiq ila Aqwaamith Thaariq

  22. Muhammad Yusuf Al-Kalimantani Says:

    Wahai kaum muslimin sudah saatnya kita bergerak bersama mewujudkan tegaknya kembali Khilafah Islamiyah

    Ingatlah wahai saudaraku menegakkan syari’at Allah dengan tertegaknya Khilafah Islamiyyah merupakan refleksi tauhid uluhiyyah yang paling tinggi. Mengabaikan perkara ini akan menjatuhkan siapapun ke lembah dosa dan kehinaan. Mengapa kita tidak segera terhimpun dan bersatu untuk menegakkan kembali Khilafah yang agung ini, agar syari’at Allah bisa diterapkan secara kaamil dan syamil; dan agar tauhid uluhiyyah kita tidak terkotori? Mengapa kita tidak menyibukkan diri untuk urusan ini? Sementara itu kita malah asyik masyuk dengan masalah ikhtilaf yang sampai hari kiamat tidak akan pernah selesai?

  23. Hanichi Kudou Says:

    Allahu Akbar..!!!

    Syukron, JazakaLlah khoiran katsiro atas penjelasannya ustadz..

    Wahai kaum muslimin sudah saatnya kita bergerak bersama bahu membahu mewujudkan tegaknya kembali Khilafah Islamiyah ‘ala minhajin nubuwwah, untuk melanjutkan kembali kehidupan Islam yang kaffah, sehingga huddud bisa ditegakkan, jihad tertinggikan dan umat termuliakan..

    Allahu akbar…!!!

  24. faiz Says:

    assalaamu’laikum

    Buat mas Ibnu, anda tidak baca tulisan ini sama sekali, anda cuma lihat judul, ya kan?? ngaku deehh!!!

    untuk mas rara, masalah pengutusan Mu’adz sudah dibahas oleh Abu Hamid Al Ghozali rahimahullaah dalam Al Mushtasfa, sebagaimana dikutip oleh Said Ramadlan Al Buthi dalam Al-Laa Madzhabiyyah -madzhab tanpa-madzhab, penerbit Al Kautsar. Baca dehh…..!!!

    untuk abu aqil, ya, mengingkari hadits ahad memang sebuah kesalahan. Hal itu sudah dijelaskan dalam artikel di atas. Jadi serangan antum tidak masuk.

    Untuk Abul Jauza’, siapa yang menganggap hadits-hadits tentang turun dari untuk sujud itu mukhtalaf? Dan siapa yang memasukkan hadits itu dalam kategori mudlthorib? Jawabnya, itu tergantung penelitian seorang muhaqqiq. Al Albani rahimahullaah tiddak menganggapnya mudlthorib, beliau mentarjih yang tangan dulu, sementara Ibnu Utsaimin rahimahullah menguatkan yang lutut dulu. Sementara menurut yang saya dengar dari ustadz yang ngisi di masjid kampus ugm, yang juga salafi, An Nawawi rahimahullah tidak menguatkan salah satunya, beliau menganggap sama-sama kuat. Yang benar yang mana? gak tahu. tapi yang jelas menganggap salah satunya pasti benar dan yang satunya pasti salah adalah tidak mungkin. Jadi, bagi kita cukup mentarjih salah satu pendapat dengan pembenaran kuat yang tidak sampai qoth’i, kemudian kita amalkan, tanpa menganggap pendapat lain bathil, sebab ini memang masalah amal yang tidak menuntut kepastian.
    Masalah “kesesuaian dengan fakta”, itu kita ketahui dari dalil. Afwan, ustadz abul jauza’ ini tidak memperhatikan uraian singkat tentang dalil dalam artikel itu . Dalil ada yang aqli ada yang sam’i/naqli/khobari. Masalah-masalah indrawi buktinya ‘aqli, seperti Mu’jizat Al Qur’an, yakni aspek kebahasaannya yang melemahkan manusia. Sedang masalah ghoib diketahui faktanya melalui dalil naqli, seperti masalah sifat Allah, adzab qubur, dajjal, malaikat, jin dll. Inilah pendapat Taqiyuddiin. Ini bisa dipahami oleh orang yang membaca buku beliau dengan jujur
    wassalam

  25. Abu Aqil Al-Atsy Says:

    Silahkan Baca Kitab Wujubu akhaza bi haditsil Ahad fi ‘Aqidah Karya AlBany. Semua pembahasan antum sudah dibantah oleh syeikh. Jadi, kita ndak usah buang tenaga lagi. Insya Alloh akan memberikan Petunjuk tentang hal ini. Kecuali bagi orang-orang yang menutup telinganya rapat2 dari Kebenaran. Wassalam

  26. abusalma Says:

    Assalamu’alaikum Warohmatullahi Wabarokatuh

    Kepada saudaraku Hanichi Kudou (atau Fikri Tirto?)
    Saya sudah membaca artikel tulisan saudara Titok ini, walaupun ulasannya cukup panjang dan cukup berbobot ada beberapa poin yang akan saya ta’qib (sanggah) dan insya Alloh akan saya turunkan dalam blog saya http://dear.to/abusalma.
    Namun, sebelumnya saya ingin mengklarifikasi beberapa hal dulu, biar semakin jelas istilah-2 yang digunakan agar –sebagaimana dikehendaki saudara Titok- tidak terjadi misinterpretasi atau penafsiran yang keliru. Oleh karena itulah, para ulama salafan wa kholafan ketika hendak menyanggah atau membantah –terutama thd ahli kalam-, mereka berupaya untuk tahriirul ishtilaah (membebaskan/menjelaskan istilah sehingga jelas apa yg dimaksud oleh pengucap). Oleh karena itu, saya ingin meminta klarifikasi dan mengkonfirmasi dahulu beberapa hal sebelum saya menurunkan tulisan ta’qib saya thd ulasan saudara Titok ini.

    1. Tentang kata zhon yang sering dibawakan oleh Saudara Titok –termasuk juga anda dan juga syabab HT lainnya-. Kata zhon yang anda fahami bagaimana, lalu juga zhon yang difahami HT –apabila anda tahu- juga yg seperti apa? Karena dari siyaqul kalam dan lisanul hal saudara Titok ketika berbicara atau mengatakan kata zhon, maka yang dimaksud adalah pembenaran yang tidak pasti
    Sebagaimana ucapan Saudara Titok berikut :

    Kemudian jika ada yang menanyakan: kenapa Taqiyuddiin An Nabhaani mengatakan bahwa hadits nabi yang mutawatir itu qoth’i, memberi faedah ilmu, harus dibenarkan secara pasti, sedang hadits nabi yang ahad itu tidak qoth’i, hanya menghasilkan dzon (pembenaran yang tidak sampai pasti), dan tidak boleh dibenarkan secara pasti?

    Antum sendiri juga menyatakan :

    Poin 6 Ya, tapi kan makna dzann yang antum katakan hanya pada beberapa ayat, ada ayat lain yang menyatakan bahwa dzann itu adalah dugaan, pasti antum jg sudah tahu, ya kaan.. Berarti, definisi dzonn saja masih berbeda, bagaimana mungkin antum mau menyamakan definisi yang dipahami oleh syabab HT dengan definisi antum, lalu antum menjugde syabab HT dengan definisi yang antum tabbanni.

    Jadi, makna zhon yang ditabanni oleh HT apa, sekaligus juga dalil-dalilnya…

    2. Ulasan saudara Titok menjelaskan bahwa, Syaikh an-Nabhani rahimahullahu memahami bahwa aqidah itu adalah ”Tashdiqul Jazm al-Muthobaqoh lil Waqi’ ’an daliilin”, yang ingin saya tanyakan adalah siapa salaf an-Nabhani yang membuat istilah sebagaimana apa yang beliau utarakan dan apa dalilnya? Sebutkan satu saja sudah cukup insya Alloh.

    3. Apa bedanya iman, aqidah, yaqin dan tashdiq menurut saudara Titok atau menurut yang difahami HT, kalo bisa dengan dalilnya.

    4. Bagaimana pemahaman saudara Titok –atau anda-, apakah gholabatuzh zhan bisa berfaidah pada al-yaqin ataukah tidak?

    5. Saudara Titok memahami bahwa definisi iman menurut Ushuliyyun dan muhadditsun berbeda, lalu saudara Titok menjelaskan bahwa :

    ahli ushul menggunakan istilah “iman” untuk mengidentifikasi “faktor pembatas antara keislaman dan kekufuran” yang tidak lain adalah aspek pembenaran atau keyakinan terhadap masalah-masalah ushuluddiin. Sedangkan masalah ikrar dan amal tidak mereka masukkan dalam pengertian iman, tapi mereka anggap sebagai konsekuensi, tanda, dan dampak dari keimanan. Masalah kualitas kuat-lemahnya iman mereka anggap sebagai kuat-lemahnya pengaruh iman tatkala seseorang menjalankan berbagai aktivitas dalam kehidupannya (idrak shilatu billaah). Kemaksiatan mengurangi iman artinya mengurangi hubungan hamba dengan Allah, dan ketaatan menambah iman artinya menambah hubungan hamba dengan Allah. Bagi kami, pendapat sebagian besar ushuliyuun adalah yang lebih tepat. Beriman dengan keberadaan jin, iblis, dan malaikat adalah pengetahuan dan pembenaran secara pasti saja. Orang beriman harus mengatakan “kami percaya sepenuhnya dengan keberadaan jin”, perkataan ini adalah konsekuensi dari iman, bukan iman itu sendiri.

    Pertanyaan saya adalah siapakah diantara Ushuluyyin yang dimaksud oleh saudara Titok yang memahami definisi iman sebagaiaman yang disebutkan beliau.

    6. Saudara Titok menyebutkan di dalam uraiannya tentang definisi aqidah menurut muhadditsun yg selaras dengan apa yg dinashkan oleh al-Qur’an dan as-Sunnah, yaitu

    iman itu bukan sekedar pembenaran pasti di dalam hati, tapi juga mencakup pengikraran secara lisan, dan pengamalan dalam perbuatan. Mereka mengatakan bahwa iman itu bercabang-cabang, ada yang apa bila diingkari menyebabkan kekafiran, tapi ada cabang iman yang bila diingkari tidak menyebabkan kafir, hanya menyebabkan dosa. Mereka juga mengatakan bahwa iman itu ada yang kuat dan ada yang lemah. Iman yang lemah bisa menguat dan iman yang kuat bisa melemah. Iman bisa diperkuat dengan ketaatan dan bisa diperlemah dengan kemaksiatan.

    Dan apa yg disebut ini adalah definisi iman menurut ahlus sunnah
    Lalu, saudara Titok menyandarkannya kepada Ushuliyun bahwa

    masalah ikrar dan amal tidak mereka masukkan dalam pengertian iman, tapi mereka anggap sebagai konsekuensi, tanda, dan dampak dari keimanan.

    Dan menyandarkan pendapat ini kepada ulama ushuluddin. Yang ingin saya tanyakan, siapakah ulama ushuluddin yang dimaksud, bisakah diberikan nama dan letak perkataannya ini di dalam kitab-2 mereka?

    7. Mengenai Murji’ah, saya ingin bertanya kepada saudara Titok –atau anda- yg turut menyebut kelompok ini di dalam uraiannya, bagaimana definisi iman yang difahami Murji’ah… dapatkah anda menjelaskannya? Ada berapa macamkah murji’ah itu? Apakah Murji’ah mendefinisikan iman sebagai tashdiq saja ataukah tidak? Apakah Murji’ah memasukkan amal ke musammal iman (pengertian iman) atukah tidak?

    8. Saya masih sedikit rancu dengan masalah keimanan yg dipaparkan oleh saudara Titok, karena saya pernah membaca bahwa masalah ghoibiyah/sam’iyah yang tdk bisa diindera adalah termasuk masalah iman atau aqidah. Sedangkan masalah imanyiah haruslah qoth’i ast-Tsubut/al-wurud dan qoth’i ad-Dilalah, ada dua hal di sini yang ingin saya tanyakan
    a.) Khobar ahad adl Zhonni ats-Tsubut, sehingga tdk memenuhi syarat keimanan, implikasinya hadits ahad yang bercerita ttg ghoibiyah/sam’iyah semisal siksa kubur, dajjal, haudh, dll tdk berimplikasi pd syarat utk dijadikan masalah keimanan. Sedangkan masalah yang dibicarakan hadits ini adl masalah ghoibiyah/sam’iyah yg akal tdk berperan di dalamnya juga tdk bisa diindera, shg implikasinya keimanan yg seharusnya berbicara di sini. Namun karena hadits tsb tdk memenuhi syarat utk dijadikan landasan keimanan, maka tdk boleh diimani. Cukup dibenarkan saja. Di sini saya menangkap beberapa kontradiksi –luruskan apabila saya salah-, yaitu :
    — Apabila berita ghoibiyah/sam’iyah yg seharusnya merupakan masalah keimanan namun tdk memenuhi syarat utk dijadikan landasan keimanan, sedangkan menurut anda hadits ini diterima tdk ditolak, serta hadits ini dibenarkan. Pertanyaannya adl : hadits ini termasuk masalah apa? Amaliyah kah? Ahkam kah? Atau apakah?
    — Anda memahami bahwa membenarkan (tashdiq) itu berbeda dengan mengimani. Mengimani itu harus tashdiqul jazm, apabila tdk jazm maka itu bukan mengimani –begitukan implikasinya-?? Karena mengimani itu harus jazm tdk ada sebutir debupun keraguan di dalamnya. Nah, di sini anda mengatakan adanya keraguan walaupun sebutir debu, ini artinya dalam masalah tashdiq atau membenarkan bisa jadi ada sebutir, dua butir atau seratus butir debu keraguan di dalamnya, sehingga tdk 100% pembenaran. Mungkin hanya 99,99% atau 95% atau angka-2 prosentase lainnya-lah. Nah, berarti bisa dikatakan bahwa anda membenarkan berita ghoibiyah/sam’iyah dalam hadits ahad diiringi dengan adanya beberapa butir keraguan thdnya, atau tdk 100% pembenaran. Apakah asumsi saya ini salah? Harap diluruskan…
    — Apabila asumsi saya di atas benar, dan memang seharusnya demikian karena mrp konsekuensi logis, artinya anda membedakan secara nyata tashdiq dengan iman. Maka apakah salah apabila dikatakan bahwa anda membenarkan masalah keimanan oleh hadits ahad namun anda tdk menjadikannya dalam masalah keimanan. Atau dalam kata lain, ”anda menolak hadits ahad dalam masalah keimanan”. Ucapan ini tdk salah toh, karena ucapannya bukan, ”anda menolak hadits ahad” saja, namun ”anda menolak hadits ahad dalam masalah keimanan”, maka implikasinya bisa saya katakan : ”anda menolak berita ttg Dajjal, siksa kubur, fitnah kubur, dll dalam masalah keimanan”, ”anda tdk mengimani dajjal, fitnah kubur, siksa kubur” dll… ucapan saya ini benar kan… karena pembenaran tdk sama dg pengimanan. Maka anda hanya membenarkan saja karena anda tdk mengimani… benarkah demikian???
    b) khobar yang ”zhonni ad-Dilalah” yaitu yang penunjukkannya tdk pasti sehingga menimbulkan multiinterpretasi. Saya ingin tanya, masalah asma’ wa shifat tmsk dalil yang qoth’i atau zhonni dilalahnya? Demikian pula dengan masalah qodho’ wa qodar, dll… harap dijelaskan. Apabila anda mengatakan qoth’i mana buktinya, dan apabila anda mengatakan zhonni apa juga dalilnya…

    9. kembali ke masalah aqidah. Di sini saya mencatat bahwa masalah aqidah adalah apabila ada yg berselisih di dalamnya maka implikasinya adalah salah satunya kafir, dan ini diklaim sbg pendapat ulama ushuliyyun (saya rancu, ushuliyyun yg dimaksud adl ulama ushulud dien atau ushul fiqh, bisakah dijelaskan?). Yang ingin saya tanyakan adalah siapakah ulama ushuluyin yang berpendapat demikian? Bisakah disebut namanya dan penukilannya di dalam buku tsb? Lalu, perselisihan antara ahlus sunnah dengan khowarij, mu’tazilah, murji’ah, jabariyah, syi’ah, dll tmsk dalam perselisihan apakah? Aqidahkah atau selainkah? Tentu saja apabila aqidah yg berselisih maka kelompok-2 itu adl kafir… tlg berikan penjelasan ttg hal ini

    10. Masalah hadits ahad dan mutawatir. Dikatakan bahwa hadits mutawatir adl hadits yang diriwayatkan oleh banyak perowi yang menurut adat kebiasaan para rowi itu tidak mungkin bersepakat bohong atau tidak mungkin sama-sama salah dalam periwayatannya. Pertanyaan saya adl apa syarat hadits itu dikatakan mutawatir? Dalam masalah ini ada khilaf diantara ulama, dan yg kuat menyatakan bahwa tdk ada batasan jumlahnya. Namun, ini tetap menjadi suatu musykilah tersendiri, karena ada di antara para ulama yang menyatakan bahwa hadits ahad itu diriwayatkan lebih dari 4, ada lagi yang meriwayatkan lebih dari 10, ada lagi yg menyatakan lebih dari 40, dst… bagi yg menyatakan hadits mutawatir bersyarat lebih dari 40 maka tentu saja menyatakan bahwa jumlah dibawahnya adl ahad. Maka dg demikian penetapan suatu hal yg qoth’i dan zhonni diantara mereka akan berbeda, sehingga penetapan masalah aqidah juga akan berbeda. Padahal definisi sebelumnya dg persayaratan qoth’i ats-tsubut qoth’i ad-dilalah mengharuskan bahwa perbedaan aqidah dlm ta’rif ini dpt menyebabkan salah satunya kafir… bagaimana???

    11. mengenai hadits mutawatir ma’nawi. Apakah ini tmsk qoth’i ats-tsubut ataukah tdk? Karena beberapa du’at HT dlm masalah ini tampak berbeda. Ada diantara mereka ketika menyebut masalah ulumul hadits atau llmu mustholahul hadits bahwa mutawatir ma’nawi itu ada. Namun syaikh Muhammad Fathi Salim dalam al-Istidlal bizh zhonni fil aqo’id menyatakan secara tegas bahwa mutawatir ma’nawi itu tdk ada. Implikasinya dlm hal ini, tentu saja syabab HT yg menyatakan hadits mutawatir itu ada dan ia dikarenakan tawaturnya maka qoth’i ats-tsubut, shg otomatis mengimani masalah aqidah (baca : perkara yg wajib dibenarkan secara pasti) di dalamnya, sedangkan syabab HT yg menolaknya tentu saja tdk akan mengimaninya alias menolak utk mengimani walaupun membenarkan. Ini artinya bisa jadi dalam satu tubuh HT keimanan mereka berbeda, padahal dlm definisi HT perbedaan mslh keimanan berimplikasi pd salah satu kufur, loh…???

    12. ini juga penting, atas dasar apa pembedaan masalah aqidah, amaliyah, ahkam dan akhlaq dibentuk dimana dalam masalah selain aqidah boleh beristidlal dg dalil yg zhonni sedangkan dlm mslh aqidah tidak? Apabila dikatakan krn masalah aqidah itu hrs tashdiq bil jazim, sedangkan amaliyah, ahkam dan akhlaq tidak… maka saya tanyakan mana dalilnya… sekarang saya ingin bertanya :
    — seseorang yang mengucapkan celaan atau mencela Alloh dan Rasul-Nya –bukan karena paksaan, lupa atau khilaf- itu kafir atau tidak???
    — seseorang yang sujud di depan patung namun ia mengingkari dengan hatinya bahwa patung itu TUHAN namun ia melakukannya untuk pengagungan atau main-main, kafir ataukah tidak???
    Bagi org yg mempelajari aqidah dan tauhid, tentu saja amal di atas adl pembatal keislaman. Sekarang permasalahnnya adl amalan di atas tmsk aqidah atau amal?
    Apabila dikatakan masalah aqidah, maka saya tanyakan, ’kan definisi aqidah yg anda fahami adl pembenaran dg pasti saja, jadi apabila ia benarkan patung tsb sbg TUHAN atau ia benarkan celaannya kpd Alloh dan Rasul-Nya, maka baru ia bisa dikafirkan, apabila tdk maka ia tdk kafir… apakah begini??
    Apabila dikatakan, masalah ini ada dalilnya secara qoth’i dari al-Qur’an dan as-Sunnah bahwa pelakunya diancam dg kekufuran, maka yg melanggar suatu yg qoth’i hukumnya kafir, maka saya tanyakan… kalo begitu ini masalah aqidah kan? Aqidah yang berupa amal. Jadi intinya aqidah itu dpt berupa keyakinan di dalam hati, iqrar dg lisan, maupun amal perbuatan, yg dapat menghantarkan kepada kekufuran. Benar atau tidak ucapan saya ini?
    Apabila benar, maka atas dasar apa pemilah-2an masalah qoth’i dan zhonni di dalam beramal, lagi pula bukankah HT memahami bahwa amal itu suatu yg terpancar dari aqidah???

    Yah mungkin segini aja dulu pertanyaan-2 saya, semoga bisa dijawab. Sebab jawaban ini nanti yg akan saya jadikan dasar konfirmasi di dalam ta’qib saya thd ulasan saudara Titok di atas. Sebenarnya masih ada pertanyaan-2 lainnya, namun saya rasa ini sudah cukup.
    Saya sepakat, bahwa khilafah islamiyyah ’ala minhajun nubuwwah itu yang sedang kita harapkan dan upayakan. Namun, jangan karena upaya utk mendapatkan buah perjuangan kita melupakan esensi perjuangan itu sendiri. Mari kita tegakkan khilafah di dalam diri kita masing-2, keluarga kita dan saudara-2 kita. Mari kit tegakkan syariat Islam mulai dari diri kita, keluarga, saudara dan teman-2 kita. Dan syariat tertinggi kita adl uluhiyah, yaitu esensi dakwah Rasulullah dan para nabi, yaitu tauhidul ibadah.
    Betapa banyak kaum muslimin yg terjerat oleh virus-2 syirik dan bid’ah, mereka jauh dari agama mereka. Oleh karena itu kita harus mengupayakan umat ini kembali ke agama mereka agar kehinaan umat ini terangkat (sebagaimana hadits Rasulullah ttg ghutsa’ / buih), kita harus mengembalikan kejayaan umat dg metode sebagaimana salaf dahulu jaya, kita harus memenuhi syarat-2 kemenangan dan diraihnya khilafah sebagaimana dalam surat an-Nur 55 : yaitu alladziina aamanu wa ’amiluu ash-Shaalihaat (orang-2 yg beriman dan mengamalkan amal sholih), mereka yang mengimani apa yg dibawa oleh Alloh dan rasul-Nya tanpa memilah-2 dan memilih-2, serta mereka beramal sholih yaitu amal yang ikhlas lillahi ta’ala dan ittiba’ (mencontoh) Rasulullah, dan juga dengan syarat : ya’budunanii wa laa yusyrikunna bii syai`a yaitu mereka yang menyembah semata-2 hanya kepada Alloh dan tdk mempersekutukannya dg sesuatu apapun.
    Na’am, inilah syarat-2 kemenangan yg sekiranya harus dipenuhi oleh kaum muslimin. Karena musuh kaum muslimin ini ada dua, yaitu dari luar dan mereka ini adl musuh yg jelas, yg mana mereka akan berhadapan dg kaum muslimin pd hari peperangan yakni kaum kuffar, dan musuh dari dalam, yaitu kaum munafiqin, zindiq, ahli bid’ah dan ahli ahwa’ yang merusak agama dari dalam, yg mana mereka adl musuh yg berbahaya, karena mereka tdk berhadapan langsung di medan perang dg kaum muslimin, bahkan mereka bersama kaum muslimin, dan menyerang kaum mulsimin dari dalam dan belakang barisan kaum muslimin. Allohumma…
    Semoga Alloh mempersatukan kaum muslimin di atas barisan sunnah dan mencapai kejayaannya…

  27. Hanichi Kudou Says:

    :: Abu Aqil Al-Atsy ::

    Wah.. klo gitu saya boleh minta softkopinya atau bisa saya dapatkan dimana ya buku itu?? Klo antum berkenan mengirimi sofcopy buku itu, kirim saja ke agunghanif@gmail.com. JAzakaLlah khoiran..

    :: Abu Salma ::

    AlhamduliLlah..

    Nanti saya telaah dulu ya Ustadz.. Insya Allah Mas Titok langsung yang akan jawab.. JAzakaLlah khoiran atas kunjungannya..🙂

  28. daan Says:

    (Afwan, karena artikelnya kepanjangan, dan saya takut nanti dituntut hak cipta dari yang bersangkutan, maka artikel yang dikirimkan oleh saudara daan saya tampilkan judulnya saja yang langsung saya link-kan ke situs aslinya, kepada saudara daan, harap maklum, saya juga sudah baca artikelnya sejak lama kok tenang saja🙂 )

    Kehujjahan Hadits Ahad Dalam Masalah Akidah

  29. ARIN Says:

    ass…
    tolong kasih tau tentang qodho’ qodar menurut jabariyah

  30. Hanichi Kudou Says:

    ::ARIN::

    ‘alaikumussaalam

    Insya Allah… tapi kalau antum mau liat-liat dikit, saya ada beberapa tulisan yang sedikit nyindir tentang JAbariyyah DISINI dan DISINI. Tapi nanti saya coba tulis secara terpisah dan lebih mendetil, semoga Allah memudahkannya.

  31. aban tetep ga suka vanilla dan baru belajar mikir Says:

    Wah koq responnya panjang bgt…trus masing2 pihak berusaha mencari pembenaran atas pendapatnya sendiri..
    Pie tho???itu kan bisa bikin bingung org yg blm tau ato mungkin ga tau pa2 ttg masalah ini….
    Gmn Islam mo bangkit klo masing2 pihak malah saling menyalahkan pihak lain….bukannya kerjasama malah saling berusaha mencari pembenaran atas pendapatnya:-(

    ::pesen dari anak baru mulai belajar untuk berpikir

  32. Abu Salma Says:

    Assalamu’alaikum Warohmatullahi Wabarokatuh
    Hanya ingin bertanya saja… bagaimana tanggapan saudara Titok terhadap pertanyaan saya di atas…
    Saya sangat mengharapkan sekali ada suatu klarifikasi dan jawaban dari saudara Titok atau selainnya tentang musykilah yang saya dapatkan dalam uraian di atas. INi semua -wallohi- adalah dalam rangka untuk saling belajar dan mengingatkan… menegakkan pilar-pilar nasehat untuk menuju wihdatul ummah…
    Wassalamu’alaikum Warohmatullahi Wabarokatuh

  33. Hanichi Kudou Says:

    ‘alaikumussalaam Warohmatullahi Wabarokatuh
    AlhamduliLlah sudah saya sampaikan tanggapn antum ke Mas Titok, tapi mungkin beliau belum sempat membuatnya, Beliau juga sudah punya Blog tersendiri, DISINI.
    AlhamduliLlah.. saya sangat senang dengan iklim diskusi seperti ini. dan Semoga tetap terjaga. JazakaLlahu Khoiran katsiro.
    Wa’alaikumussalaam Warohmatullahi Wabarokatuh

  34. dhimas lazuardi Says:

    assalamualaikum
    panjang ya.. isi komennya dulu lah
    salam kenal

  35. abu almas Says:

    assalamualaikum,
    Saudara2ku kita harus hati-hati terhadap perilaku taashub terhadap pendapat kelompok atau taashub kepada pendapat ulama suatu kelompok. Jangan sampai kita meyesat-nyesatkan orang yang berbeda pendapat hanya dengan menggunakan pendapat seorang atau beberapa ulama. Ini adalah taashub terhadap pendapat ulama. Dan ini tidak boleh. Kita hanya boleh taashub kepada Al-quran atau assunah intu sendiri. Bukan terhadap pendapat seseorang mengenai Al-Quran atau assunah. Jadi taashub terhadap yang qoth’i2 aja lah dimana tidak akan ada perbedaan pendapat di antara para ulama.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s


%d blogger menyukai ini: