Bagai Cabe Merah Dan Cabe Hijau

Permulaan bulan Maret ini terasa begitu spesial bagiku. Bukan karena mendapat kiriman dari orangtua, karena ini sudah biasa tiap bulan. Dan juga bukan karena pinanganku diterima, karena memang aku belum pernah meminang siapa-siapa. Tetapi ide untuk mendiskusikan suatu hal yang menurutku amat urgen akhirnya teraplikasi juga.

Tepat tanggal 1 Maret 2007 di Sayap Selatan Masjid Kampus UGM, sore hari yang cerah selepas shalat Ahsar terjadilah sebuah kajian, kajian yang berisi bayan (penjelasan) dari seorang Ustadz, anggota sebuah gerakan dakwah yang ingin melanjutkan kembali kehidupan Islam.

Penjelasan dari Ustadz Titok itu bagai menyibakkan awan gelap yang menyelimuti alam pikiranku selama ini. Penjelasan itu menurutku sangat mendalam sekali, walau dengan kerendahan hatinya, beliau menyatakan bahwa apa yang beliau lakukan barulah laksana menyentuhkan satu ujung jari ke kulit terluar dari lautan ilmu yang luas. Yang dengan kelemahan itu kami bertambah cinta kepada para ulama dan bertambah kecil di hadapan Allah Ta’alaa.” Begitu, tulis beliau dalam makalahnya.

Sejak mengenal Islam lebih intensif kelas 2 SMA, aku menjadi sangat bersemangat belajar agama yang dipeluk oleh Michael Jackson ini. Sebenarnya, di Palembang sana, aku sudah ikut kajian umum sejak kelas 3 SMP, tapi karena aku pindah ke Yogya, aku jadi tidak bisa ikut kajian itu lagi.

Masih melekat erat dalam pikiranku ketika itu, saat-saat yang kutunggu adalah kajian yang membahas masalah pacaran. Tiba saat tanya jawab, ada salah seorang remaja yang umurnya lebih tua dariku menanyakan tentang pacaran Islami, adakah? Lalu dijawab dengan tenang dan kalem oleh Ustadz itu, “Ada, tetapi setelah menikah. Klo sebelum menikah, tidak ada.” Jujur, pada saat itu, mungkin bukan aku saja yang kecewa dengan jawaban itu, hampir semua orang kecewa, terutama yang remaja. Walau aku sudah dengar jawaban tentang bagaimana hukum pacaran dalam Islam, tetapi perasaanku belum menyatu dengan Islam. Di sekolah, walau aku tidak pernah pacaran, tetapi pada dasarnya akulah yang menjadi pemicu bagi mereka yang ingin pacaran. Aku sering membuatkan “kata-kata gombal” untuk teman-temanku yang ingin “menembak” seorang wanita yang diincarnya. AstaghfiruLlahal ‘Azhiim.

Itu saat aku SMP, kembali ke masa SMA kelas 2. Suatu hari, saat jam istirahat, temanku yang juga anak SDI (Sie Dakwah Islam) memberikan sebuah makalah yang berisi tentang sesatnya beberapa gerakan dakwah, salah satunya adalah gerakan dakwah yang juga diikuti oleh ustadz yang sering mengisi kajian umum di masjid dekat rumahku di Palembang.

Aku yang waktu itu lagi seneng-senengnya jadi orang Islam yang kaffah malah jadi down. “Benarkah, Ustadz Mahmud itu sesat?”, gumamku dalam hati. Aku hampir tidak percaya hal itu, tapi biarlah, aku mencoba untuk meng-iya-kan apa yang ada di makalah itu. Berbulan-bulan, bertahun-tahun, aku ikuti kajian ustadz-ustadz di Masjid Kampus UGM dan Masjid al-Hasanah depan Mirota Kampus, tempat-tempat kajian ini ditunjukkan juga oleh temanku yang bawa makalah itu-semoga Allah selalu melindunginya-. Betapa kagetnya, ketika suatu hari aku mendengar kajian dari salah sorang ustadz yang memfatwakan bahwa menghadiri pengajian yang diisi oleh Ustadz Ja’far Umar Thalib adalah haram.

Aku kembali terguncang. Di saat yang sama aku mendapat tawaran untuk halaqoh di sebuah gerakan yang tercatat sebagai gerakan yang sesat dalam makalah yang diberikan oleh temanku. Agak lama kuberpikir, akhirnya kuterima.

Aku penasaran dan kubuka kembali makalah itu, dimanakah letak kesesatan gerakan yang didirikan oleh Syaikh Taqiyyuddin an-Nabhani-semoga Allah merahmatinya- ini. “Hadits Ahad tidak bisa dijadikan dalil dalam perkara-perkara aqidah”, inilah titik pangkal utama kesesatan gerakan ini, begitu kata makalahnya. Lalu aku coba tanyakan ini pada mushrif ku, tapi aku merasa kurang puas. Aku mulai membandingkan pendapat yang bertentangan dari majalah ke majalah dan dari buku ke buku. Sejurus kemudian, aku mulai berselancar di internet, tak beda, polemik ini juga ramai dibicarakan di internet. Suhu yang terasa dari diskusi-diskusi yang ada di dunia maya ini sangat panas, penuh kebencian, dan sering terlontar kata-kata yang kasar dari masing-masing pihak. Awalnya aku hanya sebagai penonton, tapi lama kelamaan aku mulai memegangi salah satu pendapat dan mencoba untuk membenturkannya dengan pendapat lain. AlhamduliLlah, pendapatku ini cukup kuat untuk sekadar dipatahkan. Yang pada akhirnya pendapat inilah yang aku pegangi sampai sekarang bahkan mungkin yang akan datang, insya Allah.

Namun, setelah mendengar penjelasan dari Ustadz Titok kemarin, aku mulai sadar bahwa pendapat yang aku pegangi ini seperti cabe merah, dan pendapat yang berseberangan dengan pendapatku itu seperti cabe hijau. Beda warna, bentuk, dan jenis masakannya, tetapi sebenarnya, fungsinya sama saja, untuk membuat suatu masakan itu terasa pedas.

Begitu juga dengan polemik tentang hadits ahad. Titik perbedaannya memang terletak pada banyak hal, antara lain, apakah hadits ahad itu berfaedah kepada keyakinan 100% atau tidak. Lalu, apakah hadits ahad sah dijadikan dalil dalam perkara aqidah. Yang kemudian berpangkal kepada, apa arti aqidah itu sendiri. Ternyata, usut punya usut, pengertian aqidah yang dipahami oleh ahli ushul fiqih dan ahli hadits itu berbeda. Ahli ushul fiqih punya “garis yang lebih tebal” dari ahli hadits. Intinya, aqidah menurut pengertian ahli ushul fiqih jika salah satu perkaranya ditolak, dapat berimplikasi kepada kekufuran, sedangkan ahli hadits berpendapat bahwa ada yang berimplikasi kepada kukufuran dan ada yang tidak sampai berimplikasi kepada kekufuran jika menolaknya.

Ahli ushul fiqih yang didalamnya terdapat nama-nama ulama klasik seperti al-Amidi (al-Ihkam), al-Ghozali (al-Mustashfa’), Asy-Syaukani (Irsyadul Fuhul), al-Bazdawiy (Kasyful Asrar), al-Asnawy (Syarh al-Asnawy), dan yang kontemporer seperti an-Nabhani (Syakhshiyah Islamiyah), Abu Zahrah (Ushul Fiqh), Abdul Wahhab Kholaf, Mahmud Syaltut (Aqidah wa Syariah). Dan beberapa ulama kontemporer seperti Sayyid Quthb, al-Buthi, al-Qorodhowy, Muhammad al-Ghozali. Serta beberapa ahli hadits klasik seperti Imam an-Nawawi (Syarh Shahih Muslim), al-Khotib al-Baghdadi (al-Kifayah) dan juga al-Qosimi (Qawa’idut tahdist) berpendapat bahwa hadits ahad yang shahih tidak berimplikasi kepada keyakinan 100%, sehingga tidak bisa dijadikan dalil dalam masalah aqidah. Pendapat ini juga diadopsi oleh para ahli ushul fiqih dari madzhab tiga imam besar; Abu Hanifah, Malik dan Syafi’i.

Lihat saja pernyataan Imam an-Nawawi, pengarang kitab terkenal Riyadhus Shalihin yang juga bermadzhab Syafi’i berikut ini :

“Inna ishuladdiini wajibul i’tiqoodi bihaa ‘an thoriiqittawaaturi, ammal furuu’u falaayajibu tawaafuruttawaaturi

(Ushuluddin (Aqidah) harus diyakini berdasarkan pada sanad yang mutawatir, sedangkan masalah furu’ dalam fiqih tidak harus mutawatir) [Pernyataan ini dikutip dari buku Hadits Ahad dalam Aqidah, karya Syaikh Fathi Muhammad Salim, halaman 139 kitab Imam Nawawi yang dimaksud adalah Syarh Shahih Muslim, tt.]

Sedangkan para ahli hadits klasik seperti Ibnu Sholah (Muqaddimah) yang berpendapat bahwa hadits ahad yang shahih berfaedah kepada keyakinan 100%. Ibnu Hajar al-Asqolani dalam al-Nukhbah berkata : “Khabar (hadits ahad) yang diperkuat dengan qarinah (pendukung-pendukungnya) memberikan pengertian ilmu yaqiiny”. Serta Imam Ibnu Hazm dari kalangan ulama Ushul yang juga mengatakan bahwa hadits shahih memberikan pengertian ilmu qath’iy (keyakinan 100%). Yang pada gilirannya menghasilkan kesimpulan, bahwa hadits ahad yang shahih bisa dijadikan dalil dalam masalah aqidah. Pendapat ini juga diadopsi oleh sebagian ulama madzab Hanbaliyah, seperti Syaikhul Islam Imam Ibnu Taymiyah dari kalangan ulama klasik dan nama-nama seperti Syaikh Nashiruddin al-Albani, Syaikh Bin Baaz, Syaikh Ibnu Utsaimin, Syaikh al-Hilaly-Semoga Allah merahmati mereka semua- dari kalangan ulama kontemporer.

Lantas dimana titik persamaannya?

Titik persamaannya adalah pada kapan seseorang itu bisa dikatakan kafir ketika mengingkari suatu dalil. Para ahli ushul akan tetap berkata pada titik aqidah, sedangkan para ahli hadits yang berpendapat hadits ahad berimplikasi kepada keyakinan 100% akan mengatakan titiknya pada pangkal aqidah. Jadi, menurut para ahli hadits, selain qoth’iy dari segi periwayatannya perlu juga sesuatu yang disebut muhkam dalam suatu dalil. Muhkam disini berarti suatu dalil yang mempunyai penunjukkan makna yang jelas. Tidak ada makna lain selain makna yang ditunjukkan oleh dalil itu. Nah.. jika suatu dalil sudah memenuhi kriteria qoth’iy dan muhkam, maka barangsiapa yang mengingkarinya akan jatuh kepada kekafiran.

Perlu diketahui, pendapat seperti ini sama seperti pendapat para ahli ushul. Ahli Ushul Fiqih berpendapat bahwa aqidah harus digali dari dalil yang qoth’iy, baik itu tsubut maupun dalalah-nya. Qoth’iy Tsubut disini berarti sumber periwayatannya 100% dari Rasul SAW, tidak ada keraguan walau setitikpun, tidak bisa tidak, kita seperti dipaksa melihat dengan mata kepala sendiri bahwa Rasul SAW memang mengucapkannya; ahli hadits mengatakannya sebagai qoth’iy saja. Sedangkan Qoth’iy dalalah disini berarti sama dengan muhkam, yaitu penunjukkan maknanya hanya satu, tidak ada kemungkinan makna lainnya. Nah.. ulama ushul fiqihpun berpendapat bahwa jika suatu dalil telah memenuhi kriteria Qoth’iy tsubut dan dalalah-nya, maka dalil tersebut layak dijadikan dalil dalam perkara aqidah. Sedangkan yang mengingkarinya disebut kafir. Seperti seorang yang mengingkari secara sadar dan tanpa tekanan akan adanya malaikat, hari akhir, atau mengingkari ayat tentang puasa, jihad, qishosh, dan lain-lain maka orang tersebut jatuh kedalam kekafiran.

Pada titik ini tidak ada perbedaan diantara kaum Muslimin termasuk antara ahli hadits dan ahli ushul fiqih, semuanya sama, satu kata, kafir. Namun kembali kepada apakah hadits ahad itu berimplikasi kepada keyakinan 100% (qoth’iy), maka disini memang terjadi perbedaan pendapat dikalangan ulama baik salaf maupun khalaf, baik klasik maupun kontemporer, baik diantara ahli ushul maupun ahli hadits. Namun sekali lagi, kita akan menemukan titik temu yang akan meredam amarah, menurunkan suara yang meninggi, dan mendinginkan jiwa yang panas.

Jujur, jujur, jujur.. Jika anda –yang memegangi pendapat bahwa hadits ahad dapat dijadikan dalil dalam masalah aqidah– bertanya kepadaku dengan pertanyaan: “apakah kamu percaya akan adanya siksa kubur?”, maka aku akan menjawab: “Percaya”, lalu anda akan bertanya lagi, “Kafirkah orang yang mengingkari siksa kubur?”, maka aku akan menjawab, “Tidak, hanya saja orang tersebut tidak banyak baca hadits.”, dan aku yakin inilah jawaban yang juga akan anda jawab, ketika mendapat pertanyaan yang sama.

Terakhir, tulisan ini bukanlah mencari yang paling kuat diantara yang dua. Atau membantah yang satu diantara yang lain. Tetapi tulisan ini sebenarnya hanyalah sebuah refleksi sederhana dari seorang hamba yang telah merasakan bagaimana panasnya perdebatan, tingginya suara, dan bergumulnya amarah ketika berbincang mengenai masalah ini.

Dan satu hal yang wajib diingat, bahwa tulisan ini tidaklah pantas, bahkan sangat tidak pantas disandingkan dengan tulisan siapapun yang membahas masalah yang sama. Karena apa yang aku tuliskan ini tidak sampai menyentuhkan satu jemari seperti yang dilakukan Ustadz Titok, tetapi hanya mencoba menghembuskan udara dingin lagi sejuk ke lapisan kulit terluar dari lautan ilmu yang sangat dalam, agar pori-pori yang ada di lapisan kulit terluar ini menjadi dingin kembali setelah sekian lama merasakan panas. Demikianlah..

[Hanif al-Falimbani]

(Yogyakarta, 3 Maret 2007, 06.21am)

8 Tanggapan to “Bagai Cabe Merah Dan Cabe Hijau”

  1. ibnu Says:

    adzab kubur mutawatir mas…yg riwayatin banyak hadistnya jadi mutawatir ma’nawi….kemudian ada juga di alqur’an ttg siksaan kepada fir’aun yg ditampakkan padanya neraka tiap pagi dan petang..

    jadi bener seperti kata mas…mungkin mas gak baca hadist.sehingga mengingkari aqidah Islam.

    orang yg ingkar itu beda sama orang yg bodoh..org yg ingkar tuh gak percaya ketika diberi tahu…klo orang bodoh ya seperti yg kata mas tadi…”mungkin orang itu gak baca hadist” gak tau hadist bukan berarti mengingkari lhooo

  2. Hanichi Kudou Says:

    Ooo.. mutawatir tho Kang, dalam kitab apa yah..?

    Klo yg namanya mutawatir ma’nawi kan dari hadits ahad trus ditarik maknanya, bukan kualitas sanadnya yg memang bener-bener mutawatir. Bisa saja, ulama lain memahami suatu hadits dengan makna yg berbeda.. nggeh mboten..?

    AstaghfiruLlah.. Kang.. kang.. saya kayaknya ndak pernah nulis klo sy mengingkari aqidah ISlam..

    Waduh Kang.. kapan ya saya nulis klo saya mengingkari hadits ahad.. Ndak pernah gitu lho.. Demi Allah ndak pernah..

    Hayooo.. mesti Kang Ibnu belum baca artikel saya seluruhnya ya KAng, atau belum jelas? Atau malah terlalu jelas sejelas sinar mentari yang menyilaukan mata Kang Ibnu..??🙂

  3. anak baru ngaji Says:

    sebenarnya penjelasannya sederhana, permasalahn hadist ahad dlm aqidah itu muncul karena perbedaan pendefinisian dari aqidah dan al iman. hal ini terjadi karena tidak ada hadist yang mendefinisikan secara lafadz tentang arti aqidah dan iman, para ulama umunya menyimpulkan dari hadist – hadist rasul tentang iman
    , karena perbedaan pemahan bhs arab dan pengetahuan akan qarinah dalil maka mereka menyimpilkan definisi berbeda seperti yg di tulis pada tulisannya mas hanichi, padahal setelah melihat aplikasinya ternyata sama aja antara mereka yaitu ada yg kafir kalau tidak mempercayai suatu hadist yag sampai nutawatir mutlak dan berdosa besar kalau menolak hadist ahad shahih

  4. Hanichi Kudou Says:

    BismiLlah..

  5. alfaizi Says:

    Setuju sama komentar 2 dan 3. Nggak setuju sama komentar no 1.

  6. aluq Says:

    JAdi, hadits ahad yang shohih, ketika berbicara ttg keimanan kepada Alloh, kepada Rasul, kepada azab kubur, kepada malaikat, ….. cukup di-cilukba … aja ya Mas ….. hehehe …

    pertanyaan saya, apa saja keimanan / nilai2 aqidah yang disusun/berdalil dg hadits ahad, mas …..? Contohnya aja kali.

    Misal, hadits ttg azab kubur itu … apakah hadits ahad? pembuktiannya gimana?
    Kalo secara maknawi, banyak hadits ahad yang berbicara ttg azab kubur, apakah berarti azab kubur itu memang tidak ada?

    Saya khawatir keyakinan saya bahwa azab kubur memang ada, adalah keyakinan yang salah.

    Terima kasih ….

    = aluq =

  7. Hanichi Kudou Says:

    Afwan, tapi pertanyaan antum sudah dijawab di tulisan saya, mohon dibaca sekali lagi, dan agak dihayati. JazakLlah khoiran.

  8. emira Says:

    subhanalloh, menyamakan persepsi itu tidak mudah.
    saya yakin ketika inti diskusi ini ketemu, insya Allah sepakat semua.
    begitu ya, mas ?

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s


%d blogger menyukai ini: