Halo dunia!

Agustus 25, 2007

Welcome to WordPress.com. This is your first post. Edit or delete it and start blogging!

Saatnya Menjadi Orang “Aneh”

Maret 15, 2007

angkat royaSore tadi, selepas shalat Ashar yang menyejukkan, aku halaqoh (ngaji) kitab Min Muqowwimat an-Nafisiyah al-Islamiyah, dalam bahasa Indonesianya kitab ini dapat berarti “Pilar-Pilar Pengokoh Nafsiyah Islamiyah”. Jujur, kitab ini jika dibaca sendiri saja bisa membuat mata menitikkan air mata, apalagi jika dibimbing oleh seorang Musyrif (pembimbing). Dan Musyrif ku telah dengan elegan menerangkan paragraf demi paragraf. Ada beberapa kalimat yang membuatku terenyuh. Beliau kurang lebih bilang kayak gini :

Antum itu orang Aneh, mau-maunya, sore-sore waktunya istirahat, sejuk begini waktunya nyantai-nyantai, ehh.. malah capek-capek kesini untuk halaqoh.

Aneh. Kami semua tahu, kata-kata itu bukan bermaksud untuk menjelek-jelekkan kami atau memarahi kami. Tapi kata-kata itu hanya untuk menyegarkan suasana. Kenapa? Karena kalau mau aneh-anehan, yang paling aneh itu justru beliau sendiri, udah dateng jauh-jauh cuman untuk ketemu sama kita-kita yang culun ini, trus ngisi halaqoh lagi, nggak dibayar lagi. Halaqohnya itupun gak sebulan sekali atau seminggu kali, tapi dua kali tiap minggu, ya, dua kali tiap minggu. Belum lagi kunjungan-kunjungan beliau yang rutin setiap minggu ke kos-kosan kami. SubhanaLlah.. Benar-benar “aneh” musyrifku ini. Kok mau-maunya gitu lho..

Al-Quran, itulah yang menggerakkan kita untuk capek-capek kesini, yang menggerakkan kita untuk terus bergelut di jalan dakwah. Al-Quran-lah yang telah menuntun kita untuk melakukan kerja sebagaimana kerjanya para Nabi, mengemban dakwah.

Ya, memang bab yang dibahas waktu itu adalah “Memelihara al-Quran”. Dan beliau menceritakan bagaimana para sahabat yang mulia memelihara al-Quran. Para sahabat RasulaLlah shallallahu ‘alaihi wa sallam selalu membasahi lisannya dengan al-Quran, membacanya dengan sungguh-sungguh, menelaah ayat-ayatnya, mengamalkan isinya dan mendakwahkannya, hingga jari-jemarinya pun menjadi saksi, seolah-olah mereka seperti al-Quran yang berjalan. Jiwa merekapun tergetar oleh ayat-ayat adzab, dan hati mereka pun menjadi senang karena ayat-ayat rahmat. Air mata mereka bercucuran karena tunduk terhadap kemukjizatan dan keagungannya, serta patuh terhadap hukum-hukum dan hikmahnya.

Sesuatu yang paling berharga bagi kaum Muslim umumnya, dan para pengemban dakwah khususnya, adalah bahwa hendaknya al-Quran senantiasa menjadi penyiram hati mereka, dan teman setia yang mengiringi setiap langkah mereka. Karena al-Quran akan membimbing mereka untuk meraih semua kebaikan, dan mengangkat kedudukan mereka lebih tinggi dan lebih tinggi lagi. Mereka harus senantiasa memeliharanya di tengah malam dan penghujung siang, dengan membaca, menghafal dan mengamalkannya, sehingga mereka akan menjadi sebaik-baik generasi khalaf, mewarisi generasi salaf yang terbaik.

Begitulah isi paragraf ketiga dari kitab yang sedang kami bahas bab Memelihara al-Quran.

Kita semua tahu, saat ini, al-Quran ditempatkan di hati-hati kaum muslimin tidak pada tempatnya. Kaum Muslimin saat ini cenderung hanya menempatkan al-Quran dalam lemari-lemari mereka yang rapat tertutup debu, sehingga hati merekapun tertutupi dari hidayah yang ditunjukkan oleh al-Quran. Mereka tahu bahwa kitab mereka itu al-Quran, tetapi mereka tidak meyakini kebenaran al-Quran, terbukti, dalam hati mereka masih ada rasa keberatan jika al-Quran memerintahkan mereka untuk berjihad, jika al-Quran memerintahkan mereka untuk menegakkan hukum qishosh, jika al-Quran memerintahkan mereka untuk menutup aurat, memakai jilbab dan mengenakan kerudung secara sempurna. Jiwa mereka terbawa arus dunia yang begitu kencangnya menerpa, hingga mereka tak mampu melawannya. Hanya orang-orang yang “aneh” sajalah yang bisa melawannya.

Ya, orang-orang yang “aneh”, orang-orang yang menghabiskan waktu mereka di jalan dakwah, orang-orang yang memeras tenaga dan jiwa mereka untuk menerapkan al-Quran, yang tega menghabiskan kapasitas memori otaknya untuk memikirkan keterpurukan umat, menyeru umat menuju jalan yang Haq, dan menjauhkan mereka dari jalan yang bathil.

Inilah orang-orang yang sebagian besar masyarakat saat ini menyebutnya sebagai orang-orang “aneh”, orang-orang yang tidak silau dengan gemerlapnya uang, berlimpahnya harta benda, tingginya jabatan, atau banyaknya gelar. Mereka inilah orang-orang yang dalam hati mereka terkatakan, “Hanya Ridho dan pahala dari Allah-lah yang kami harapkan, karena Dialah penguasa hari dimana kami akan hidup abadi selamanya, ya, selamanya, abadi

Huuuuhhhhh……. BismiLlahirrohmaanirrohiim, kini saatnya bagi diriku, untuk menjadi orang “aneh”, Ya Allah.. ridhoi lah.. AlhamduliLlah..

“Akan datang suatu kaum kepada Allah pada hari kiamat nanti. Cahaya mereka bagaikan cahaya matahari.

Abu Bakar berkata, “Apakah mereka itu kami wahai RasuluLlah?”

RasuluLlah bersabda, “Bukan, tapi kalian mempunyai banyak kebaikan. Mereka adalah orang-orang fakir yang berhijrah. Mereka berkumpul dari berbagai penjuru bumi.”

Kemudian beliau bersabda, “Kebahagiaan bagi orang-orang yang terasing, kebahagiaan bagi orang-orang yang terasing.

Ditanyakan kepada beliau, “Siapakah orang-orang terasing itu?”

Beliau SAW bersabda, “Mereka adalah orang-orang shalih, yang jumlahnya sedikit diantara manusia yang buruk. Orang yang menentang mereka lebih banyak dari pada orang yang menaatinya.

(HR Ahmad dan ath-Thabraani dari Abdullah bin Amru, ia berkata: Pada suatu hari saat matahari terbit aku berda di dekat Rasulullah SAW., lalu beliau SAW bersabda (yang artinya): [seperti hadits diatas]… al-Haitsami berkata hadits ini dalam al-Kabir mempunyai banyak sanad. Para perawinya shahih).

(Hanif al-Falimbani, Yogyakarta, 14 Maret 2007, 11.25pm)

Tasyahud Akhir Dalam Shalat Dua Rakaat, Duduknya Tawarruk Atau Iftirasy?

Maret 15, 2007

Sebelum masuk ke pembahasan judulnya, saya akan menjelaskan sedikit tentang apa itu Tawarruk, Iftirasy, dan Tasyahud Akhir.

Duduk tawarruk yaitu duduk dengan meletakkan pinggul dilantai dengan mengeluarkan telapak kaki yang kiri (melalui bawah tulang kering kaki kanan) dan menegakkan telapak kaki yang kanan. Atau biasanya kita duduk seperti ini di rakaat terakhir sebelum salam.

Duduk iftirasy yaitu duduk dengan menduduki telapak kaki kirinya dan menegakkan telapak kakinya yang kanan. Atau biasanya kita duduk seperti ini pada tasyahud awal.

Tasyahud Akhir adalah duduk tasyahud setelah sujud yang kedua pada rakaat terakhir dalam suatu shalat. Artinya, duduk sebelum kita melakukan salam.

Hal ini sebagaimana yang dijelaskan dalam hadits Abu Humaid As-Sa’idi yang menyebutkan :

Jika duduk dalam raka’at kedua, beliau (Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam) duduk dengan menduduki telapak kaki kirinya dan mengakkan telapak kakinya yang kanan, sedang jika duduk dalam raka’at terakhir, beliau mengelaurkan telapak kakinya uyang kiri (melalui bawah tulang kering kaki kanan) dan mengakkan telapak kakinya yang kanan, sementara beliau duduk di tempat duduknya (dilantai)” (HR Bukhari)

Baik, sekarang kita masuk ke dalam pembahasan judulnya. Ahlul ilmi berbeda pendapat tentang kapan duduk tawarruk, apakah ada dalam tasyahud awal atau hanya ada dalam tasyahud akhir.

Menurut Mazhab Imam Malik, duduk tawarruk ada dalam tasyahud awal dan tasyahud akhir.[1] Jadi anda jangan heran atau kaget dan gelisah, jika ada orang yang ketika duduk tasyahud awal pada shalat maghrib tetapi dia malah duduk tawarruk. Ada dua kemungkinan, dia menggunakan mazhab Maliki dalam shalatnya atau memang dia lupa.

Menurut Mazhab Imam Abu Hanifah, baik dalam tasyahud awal ataupun dalam tasyahud akhir, cara duduknya adalah duduk iftirasy.[2] Jadi jangan heran dan gelisah, ketika ada orang yang ketika duduk dalam tasyahud akhir pada shalat maghrib tetapi dia malah duduk iftirasy. Ada dua kemungkinan, dia menggunakan mazhab Abu Hanifah dalam shalatnya atau memang dia lupa dan tidak sadar.

Menurut pendapat Imam Ahmad, setiap shalat yang didalamnya terdapat 2 tasyahud, cara duduknya dalam tasyahud akhir adalah dengan duduk tawarruk, sedang dalam shalat yang didalamnya tidak terdapat 2 tasyahud maka cara duduknya adalah dengan duduk iftirasy.[3] Jadi jangan heran atau sedih ketika anda melihat orang yang shalat shubuh dua rakaat, tetapi dalam tasyahud akhirnya dia malah duduk iftirasy, atau duduk seperti duduk tasyahud awal. Kemungkinannya, dia menggunakan pendapat Imam Ahmad tadi.

Menurut pendapat Imam Syafi’i, bahwa dalam tasyahud yang terjadi sebelum salam (baik dalam shalat yang 2,3, maupun 4 rakaat, atau tasyahud akhir), cara duduknya adalah duduk tawarruk, sedang pada tasyahhud yang lain, cara duduknya adalah dengan duduk iftirasy[4]. Dan inilah yang dipahami kebanyakan umat Muslim di Indonesia yang memang sebagian besar menggunakan mazhab Imam Syafi’i dalam shalatnya.

Imam Nawawi berkata dalam Syarhnya 5/84[5]:

Adapun menurut mazhab Syafi’i, adalah duduk iftirasy dalam tasyahud awal dan duduk tawarruk dalam tasyahud akhir; hal ini didasarkan pada Hadits Abu Humaid As-Sa’idi, dan aku telah mendapatkan Hadits ini dalam Shahih Bukhari yang mana hadits ini dengan jelas menerangkan perbedaan cara duduk dalam kedua tasyahud. Imam Syafi’i berkata: ‘Hadits-hadits yang menjelaskan tentang duduk tawarruk atau duduk iftirasy adalah bersifat mutlaq. Didalamnya tidak dijelaskan secara rinci apakah duduk tawarruk atau duduk iftirasy itu dikerjakan dalam kedua tasyahud atau dalam salah satu dari kedunya. Namun Abu Humaid telah menjelaskan hal ini dan ini diperkuat dengan Hadits yang aku temukan bahwa mereka (para sahabat) menyebutkan tentang dikerjakannya duduk iftirasy dalam tasyahud awal dan duduk tawarruk dalam tasyahud akhir. Demikianlah yang dijelaskan (dalam Hadits Abu Humaid). Karenanya, sudah seharusnya bagi kita utuk mengambil kesimpulan dari dalil yang mujmal ini, Wallahu a’lam’”

Dalam hadits lain disebutkan :

Sehingga jika beliau shallallahu ‘alaihi wa sallam telah berada pada raka’at yang padanya terdapat salam, cara duduk beliau adalah dengan mengeluarkan telapak kakinya yang kiri dan duduk tawarruk dengan pantat dan paha sebelah kiri. “Mereka (Para shahabat Abu Humaid) berkata: “Engkau benar! Memang demikianlah cara beliau shallallahu ‘alaihi wa sallam mengerjakan shalat.” (HR Abu Dawud, Dishahihkan Albani dalam Shahih Sunan Abi Dawud 1/141).[6]

Bahkan menurut pengungkapan dari Syaikh Sa’id bin ‘Ali bin Wahf al-Qahthani dalam buku terjemahan dari bahasa Arab karangan beliau yang berjudul “Tata Cara Shalat Nabi (Shalatul Mukmiin) ” halaman 187 terbitan Irsyad Baitus Salam, bahwa beliau pernah mendengar dari Syaikh Bin Baz –rahimahuLlah- berkata sewaktu mensyarahi Ar-Raudh 2/82: “Sunnahnya, adalah duduk tawarruk dalam tasyahud akhir dengan menegakkan telapak kaki kanan, sedang dalam tasyahud awal adalah duduk dengan cara menduduki telapak kaki kiri dan menegakakn telapak kaki kanan.

Sedangkan kita ketahui bahwa yang dinamakan tasyahud akhir adalah duduk sebelum salam, baik shalatnya itu dua rakaat, tiga rakaat maupun empat rakaat. Demikianlah yang afdhal, yakni duduk iftirasy dalam tasyahud awal dan duduk tawarruk dalam tasyahud akhir, dikarenakan Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam melakukan yang demikian.[7]

Setelah melihat perbedaan dikalangan ulama Salaf tentang hal ini, maka tidak selayaknya kita yang “baru kemarin sore” mbaca al-Quran ini mengatakan saudaranya yang lain yang berbeda cara duduknya pada tasyahud akhir dalam shalat dua rakaat sebagai ahlul bid’ah, perlu diketahui, hal itu amat menyakitkan, amat menyakitkan wahai saudaraku…

Indah sekali jika yang ada dalam benak kita seperti apa yang dikatakan Imam Syafi’i, “Pendapatku benar, tetapi masih mungkin mengandung kesalahan, dan pendapat anda salah tapi masih mungkin mengandung kebenaran”. SubhanaLlah..

(Hanif al-Falimbani, Yogyakarta, 15 Maret 2007, 01.16am)


[1] Lihat catatan kaki Syaikh Sa’id bin ‘Ali bin Wahf al-Qahthani dalam buku terjemahan dari kitab bahasa Arab karangan beliau yang berjudul “Shalatul Mu’miin / Tata Cara Shalat Nabi (edisi bahasa Indonesia)” halaman 182-183 terbitan Irsyad Baitus Salam cetakan ke-10. (Baca : Zaadul Ma’ad (oleh Ibnu Qoyyim al-Jauziyah-red.) 1/243, Syarh Shahih Muslim oleh an-Nawawi 5/84, Nailul Authar (oleh asy-Syaukaniy-red.) 2/54, al-Mughni (Oleh Ibnu Qudamah-red.) 2/225-228.)

[2] Idem.

[3] Idem.

[4] Idem.

[5] Idem.

[6] Ibid, halaman 184.

[7] Ibid, halaman 184-187.

Mau Kasih Judul Apa?

Maret 12, 2007

Waktu saya ngeliat tulisan di salah satu blog, saya jd inget waktu Mas Titok ngisi Kajian di Masjid Mujahidin UNY, beliau kurang lebih bilang gini :

“Kalau antum diizinkah oleh Allah untuk mengarang sebuah novel yang didalamnya berisi cerita riwayat hidup antum mulai dari umur nol tahun hingga ajal menjemput, antum ingin kasih judul novel itu apa.. antum ingin kasih judul novel itu apa..? Apakah judulnya itu ‘Cerita hidup tentang seorang Insinyurkah?? Programmerkah?? Ilmuwankah?? Kimiawankah?? Professorkah??’ Atau satu kata saja, antum beri judul novel itu dengan kata ‘ASY-SYAHIID..’ ”

SubhanaLlah.. waktu itu, saya langsung merinding…

Gimana.. kalau anda ingin kasih judul apa? Samakah? atau bedakah?

(Ingat, Satukan pikiran dan perasaan anda.)

Lulus UGM, Mau Jadi Jongos atau Pengkhianat?

Maret 5, 2007

Kalian itu kuliah disini bukan mau jadi apa-apa selain jadi kader-kader Kolonialis!!

Begitulah kurang lebih teriak Bang Soni-panggilan gaul Revrisond Baswir-kepada ratusan audiens yang memadati UC (University Center) UGM. Orang yang mengagumi Bung Karno inipun mengaku, kalimat itupula yang dia ucapkan didepan para mahasiswanya. Bang Soni pun menuturkan bahwa dia sangat sedih ketika melihat banyak mahasiswa yang rela antri untuk bayar registrasi, tapi saat dia lulus cuman jadi-maaf- jongos. Berarti mereka itu antri untuk jadi jongos.

Itulah sepenggal kejadian dalam Seminar Nasional yang bertema “Disfungsi Intelektual dalam Pengelolaan Sumber Daya Alam (Refleksi kasus Natuna)”, seminar ini diadakan oleh KIMM (Kajian Ilmiah Mahasiswa Muslimah) dan BEM FE UGM. Pembicara yang hadir yaitu Dr. Ing. Kusnanto (Ketua Jurusan Teknik Fisika UGM), Revrisond Baswir (Dosen FE UGM/Kepala Pusat Studi Ekonomi Kerakyatan UGM), dan Ir. Dwi Condro Triono, M.Ag (Anggota MUI, HTI, Dosen STEI Hamfara). Ditambah dua orator, dari BEM FE UGM dan Ketua Muslimah HATI (Harmoni Amal Titian Ilahi)-ITB.

Seminar ini diawali dengan orasi dari BEM FE UGM. Orator mengajak metode pendidikan yang ada saat ini agar memandang masalah dari berbagai sudut pandang, karena siapa tahu, salah satu sudut pandangnya adalah sudut pandang yang benar. Orasi kedua dilanjutkan dengan pemaparan data-data yang sangat rijit mengenai Sumber Daya Alam yang ada di Indonesia, dan apa yang telah, sedang dan akan dilakukan ITB dalam me-resource-nya, hal ini dipaparkan oleh Ketua Muslimah HATI-ITB yang juga mahasiswi Teknik Kimia ITB. Satu hal yang menarik dari data rinci yang dia paparkan adalah bahwa ternyata Indonesia tidak perlu pusing-pusing memikirkan sumber energi alternatif, seperti solar, biodiesel, biofuel, atau bio-bio yang lain. Karena sejatinya Indonesia itu punya kekayaan alam yang luar biasa banyaknya, yang mestinya memikirkan energi alternatif itu adalah negara-negara yang menjajah Indonesia dengan perusahaannya seperti Chevron, Halliburton, Exxon, dll, karena merekalah sebenarnya yang tidak punya SDA.

Seminar mulai memasuki pemaparan dari para pembicara. Pembicara pertama, Dr. Ing. Kusnanto menilai bahwa diperlukan sikap profesionalitas dalam mengolah SDA, agar hasil yang didapat lebih maksimal dan sempurna. Suasana menjadi hangat ketika seminar memasuki pemaparan Bang Soni. Beliau langsung mengambil tempat di podium, dan mengatakan bahwa tidak setuju dengan judul Seminarnya, judul yang diusulkannya adalah “Pengkhianatan Intelektual dalam Pengelolaan Sumber Daya Alam”. Dengan berapi-api, beliau melanjutkan bahwa mahasiswa lulusan UGM yang masuk ke perusahaan-perusahaan asing yang menyedot kekayaan alam Indonesia tidak beda dengan pengkhianat bangsa. Walau gaji yang mereka dapatkan itu besar namun jika dibandingkan dengan kekayaan alam negeri ini yang disedot, sungguh tidak ada apa-apanya, sehingga pantaslah mereka disebut sebagai-maaf- kacung murahan.

Selain itu, beliau memaparkan betapa peran mafia berkeley dalam menggolkan UU Penanaman Modal asing di pertengahan tahun 60-an menjadi gerbang awal para ‘penjajah’ untuk kembali menjajah Indonesia. Karena ketika Soeharto pertama kali menjadi presiden waktu itu didirikan apa yang disebut dengan CGI (Consultative Group of Indonesia), dan yang menjadi ketuanya adalah Belanda. Bisa dibayangkan, betapa bodohnya kita, lepas dari penjajahan fisik ke penjajahan ekonomi yang lebih parah, keluar dari lubang biawak, masuk ke lubang buaya.

Belum selesai sampai disini, dengan semangat demonstran yang menggebu-gebu, bapak yang sudah separuh baya ini mengatakan tanpa tendeng aling-aling bahwa sebenarnya yang menjadikan Indonesia terpuruk seperti ini adalah UGM, dan juga universitas-universitas lain seperti ITB dan UI. Mengagetkan memang, beliau beralasan bahwa stakeholder, pemegang kebijakan mulai dari Presiden, menteri dan pejabat-pejabat terkait mulai dari era kemerdekaan sampai sekarang merupakan lulusan universitas yang katanya terkemuka ini. Saat ini saja, setidaknya Menko Ekuin dan Menteri Keuangan dipegang oleh lulusan UGM. Dan ini kembali membuktikan, peran UGM amat buruk dalam membangun kepribadian bangsa, karena kurikulum yang diajarkan adalah kurikulum yang memang didesain agar para lulusannya menjadi antek-antek kolonialis. Walau pintar tapi yang ada dalam pikiran mereka tidak jauh dari kaya, rumah mewah, istri cantik atau suami ganteng, punya anak pun diusahakan nantinya mewarisi jabatan mereka sebagai jongos. Dan banyak lagi data-data lain yang akan membuat kita tercengang, tertawa, sekaligus sedih, betapa nestapanya negeri ini.

Di sesi terakhir, Ustadz Condro-begitu, Bang Soni memanggilnya- memaparkan sebuah tingkatan pendidikan yang betul-betul brilian dan orisinil. Dengan gaya bicara yang diselingi humor-humor renyah, beliau membelalakkan mata kita bahwa pada faktanya, pendidikan yang ada di Indonesia mulai dari Play group sampai S3 hanya sampai pada tingkatan ketiga dari enam tingkat pendidikan yang beliau konsepkan. Tingkat pertama merupakan tingkatan anak Playgroup sampai SMA, yaitu bisa meng-identifikasi fakta. Tingkatan kedua, yaitu tingkatan dimana seseorang mampu melihat lebih mendalam dari sebuah fakta, atau bisa dikatakan dia adalah seorang yang mengerti tentang ilmu murni dari suatu fakta, anak MIPA misalnya, kimia murni, fisika murni, matematika murni, dsb.

Tingkatan ketiga adalah tingkatan dimana seseorang mampu melakukan rekayasa dari ilmu murni yang didapatkannya, contohnya adalah engineering, tingkatan ini banyak dipegang oleh anak-anak jurusan teknik, teknik kimia, teknik fisika, dan juga jurusan sosiatri yang merekayasa ilmu sosiologi. Para pencari ilmu tingkat S2 maupun S3 pun tidak keluar dari Tingkat tiga ini, hanya saja bidang yang mereka geluti lebih spesifik. Nah.. pendidikan di Indonesia ini didesain mandeg sampai pada tingkatan ketiga ini. Lantas bagaimana tingkatan keempat, kelima dan keenam?

Ustadz Condro yang juga anggota Majelis Ulama Indonesia ini men-jlentreh-kan dengan tenang dan kalem bahwa tingkatan keempat itu adalah tingkatan dimana orang yang telah mencapai tingkatan ketiga berhenti sejenak lalu merenungi, Untuk apa dia hidup? Darimana dan akan kemana mereka setelah kehidupan ini? Mendalam sekali, hingga orang yang telah mendapatkan jawaban yang benar dari pertanayan-pertanyaan itu akan menjadikan jawaban itu sebagai asas dalam kehidupannya, poros bagi langkahnya, dan menjadi kacamata ketika dia memandang sesuatu. Atau dalam bahasa Islam, unsur yang menjadi kacamata, poros dan asas itu dinamakan Aqidah.

Tingkatan kelima dan keenam adalah ketika Aqidah yang telah diyakininya sebagai kebenaran itu diterapkan dalam kehidupan nyata, inilah yang dinamakan Syariah. Bukan hanya diangan-angan atau dibuku-buku. Sehingga masalah-masalah yang ada pada dunia yang maju ini mampu dipecahkan oleh orang yang telah mencapai tingkatan keenam dengan menggunakan standar/aqidah yang menjadi way of life-nya tadi, inilah tingkatan yang hanya bisa dicapai oleh orang yang bernama Mujtahid. Hal ini sangat beralasan, karena seorang mujtahid, sebelum mengeluarkan fatwa tentang suatu fakta, maka dia harus tahu sedalam-dalamnya fakta yang akan dia hukumi itu. Misal saja, seorang mujtahid haruslah tahu fakta tentang internet atau jaringan sedalam-dalamnya ketika ia ingin memfatwakan hukum aktivitas Hacker atau Cracker dalam pandangan Islam.

Walhasil, sesungguhnya merupakan harga yang pantas jika mujtahid seperti Imam Malik, Syafi’i, Abu Hanifah, Hambali namanya tetap harum hingga sekarang, kitab-kitabnya yang berumur ribuan tahun hampir tiap hari dirujuk oleh para ulama jaman sekarang. Atau orang seperti Ibnu Rusyd, pengarang kitab perbandingan madzhab terkenal di kalangan anak IAIN (sekarang UIN), Bidayatul Mujtahid. Kitabnya yang lain tentang kedokteran yang berjudul Kulliyyat fi ath-Thibb (16 jilid) juga menjadi kitab rujukan di hampir seluruh Universitas di Eropa hingga saat ini.

Pertanyaannya, klo memang Islam itu rahmat bagi seluruh alam, apa iya, ada dalil tentang pengelolaan sumber daya alam? Jawabnya, Ada, Islam dalam Sistem Ekonomi Islam juga mengatur pengelolaan sumber daya alam. Salah satu contoh kecilnya, Rasul shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda dalam hadits shahih yang sangat terkenal :

الْمُسْلِمُونَ شُرَكَاءُ فِي ثَلاَثٍ الْمَاءِ وَالْكَلإَِ وَالنَّارِ

al-Muslimuuna syurokaau fii tsalatsin al-ma’i wal kala’i wan naari” [Kaum Muslimin itu berserikat dalam tiga perkara, yaitu padang rumput (hutan), air, dan api (energi) (HR Abu Dawud dan Ahmad)].

buku KhilafahDan satu hal yang paling penting adalah bahwa Sistem Ekonomi Islam itu akan sempurna dan benar-benar dirasakan rahmatnya oleh seluruh alam ketika sistem pemerintahan yang mengatur kehidupan masyarakatnya juga merupakan sistem yang didasarkan kepada al-Quran dan As-Sunnah, sistem itu tiada lain tiada bukan adalah sistem Khilafah Islamiyyah.

Oke, sekarang mumpung masih didunia, silahkan anda memilih, karena anda memang masih bisa memilih; Lulus dari UGM, ingin menjadi jongos atau pengkhianat? Ataukah ingin melepaskan diri dari itu semua, yaitu dengan melepaskan penghambaan kepada manusia menuju penghambaan sepenuhnya kepada Allah robbul izzati? Jawaban ada ditangan anda, ya benar, ada ditangan anda. Ya Allah saksikanlah, saya telah menyampaikannya..

[Hanif al-Falimbani]

(Yogyakarta, 5 Maret 2007, 06.30am)

Bagai Cabe Merah Dan Cabe Hijau

Maret 3, 2007

Permulaan bulan Maret ini terasa begitu spesial bagiku. Bukan karena mendapat kiriman dari orangtua, karena ini sudah biasa tiap bulan. Dan juga bukan karena pinanganku diterima, karena memang aku belum pernah meminang siapa-siapa. Tetapi ide untuk mendiskusikan suatu hal yang menurutku amat urgen akhirnya teraplikasi juga.

Tepat tanggal 1 Maret 2007 di Sayap Selatan Masjid Kampus UGM, sore hari yang cerah selepas shalat Ahsar terjadilah sebuah kajian, kajian yang berisi bayan (penjelasan) dari seorang Ustadz, anggota sebuah gerakan dakwah yang ingin melanjutkan kembali kehidupan Islam.

Penjelasan dari Ustadz Titok itu bagai menyibakkan awan gelap yang menyelimuti alam pikiranku selama ini. Penjelasan itu menurutku sangat mendalam sekali, walau dengan kerendahan hatinya, beliau menyatakan bahwa apa yang beliau lakukan barulah laksana menyentuhkan satu ujung jari ke kulit terluar dari lautan ilmu yang luas. Yang dengan kelemahan itu kami bertambah cinta kepada para ulama dan bertambah kecil di hadapan Allah Ta’alaa.” Begitu, tulis beliau dalam makalahnya.

Sejak mengenal Islam lebih intensif kelas 2 SMA, aku menjadi sangat bersemangat belajar agama yang dipeluk oleh Michael Jackson ini. Sebenarnya, di Palembang sana, aku sudah ikut kajian umum sejak kelas 3 SMP, tapi karena aku pindah ke Yogya, aku jadi tidak bisa ikut kajian itu lagi.

Masih melekat erat dalam pikiranku ketika itu, saat-saat yang kutunggu adalah kajian yang membahas masalah pacaran. Tiba saat tanya jawab, ada salah seorang remaja yang umurnya lebih tua dariku menanyakan tentang pacaran Islami, adakah? Lalu dijawab dengan tenang dan kalem oleh Ustadz itu, “Ada, tetapi setelah menikah. Klo sebelum menikah, tidak ada.” Jujur, pada saat itu, mungkin bukan aku saja yang kecewa dengan jawaban itu, hampir semua orang kecewa, terutama yang remaja. Walau aku sudah dengar jawaban tentang bagaimana hukum pacaran dalam Islam, tetapi perasaanku belum menyatu dengan Islam. Di sekolah, walau aku tidak pernah pacaran, tetapi pada dasarnya akulah yang menjadi pemicu bagi mereka yang ingin pacaran. Aku sering membuatkan “kata-kata gombal” untuk teman-temanku yang ingin “menembak” seorang wanita yang diincarnya. AstaghfiruLlahal ‘Azhiim.

Itu saat aku SMP, kembali ke masa SMA kelas 2. Suatu hari, saat jam istirahat, temanku yang juga anak SDI (Sie Dakwah Islam) memberikan sebuah makalah yang berisi tentang sesatnya beberapa gerakan dakwah, salah satunya adalah gerakan dakwah yang juga diikuti oleh ustadz yang sering mengisi kajian umum di masjid dekat rumahku di Palembang.

Aku yang waktu itu lagi seneng-senengnya jadi orang Islam yang kaffah malah jadi down. “Benarkah, Ustadz Mahmud itu sesat?”, gumamku dalam hati. Aku hampir tidak percaya hal itu, tapi biarlah, aku mencoba untuk meng-iya-kan apa yang ada di makalah itu. Berbulan-bulan, bertahun-tahun, aku ikuti kajian ustadz-ustadz di Masjid Kampus UGM dan Masjid al-Hasanah depan Mirota Kampus, tempat-tempat kajian ini ditunjukkan juga oleh temanku yang bawa makalah itu-semoga Allah selalu melindunginya-. Betapa kagetnya, ketika suatu hari aku mendengar kajian dari salah sorang ustadz yang memfatwakan bahwa menghadiri pengajian yang diisi oleh Ustadz Ja’far Umar Thalib adalah haram.

Aku kembali terguncang. Di saat yang sama aku mendapat tawaran untuk halaqoh di sebuah gerakan yang tercatat sebagai gerakan yang sesat dalam makalah yang diberikan oleh temanku. Agak lama kuberpikir, akhirnya kuterima.

Aku penasaran dan kubuka kembali makalah itu, dimanakah letak kesesatan gerakan yang didirikan oleh Syaikh Taqiyyuddin an-Nabhani-semoga Allah merahmatinya- ini. “Hadits Ahad tidak bisa dijadikan dalil dalam perkara-perkara aqidah”, inilah titik pangkal utama kesesatan gerakan ini, begitu kata makalahnya. Lalu aku coba tanyakan ini pada mushrif ku, tapi aku merasa kurang puas. Aku mulai membandingkan pendapat yang bertentangan dari majalah ke majalah dan dari buku ke buku. Sejurus kemudian, aku mulai berselancar di internet, tak beda, polemik ini juga ramai dibicarakan di internet. Suhu yang terasa dari diskusi-diskusi yang ada di dunia maya ini sangat panas, penuh kebencian, dan sering terlontar kata-kata yang kasar dari masing-masing pihak. Awalnya aku hanya sebagai penonton, tapi lama kelamaan aku mulai memegangi salah satu pendapat dan mencoba untuk membenturkannya dengan pendapat lain. AlhamduliLlah, pendapatku ini cukup kuat untuk sekadar dipatahkan. Yang pada akhirnya pendapat inilah yang aku pegangi sampai sekarang bahkan mungkin yang akan datang, insya Allah.

Namun, setelah mendengar penjelasan dari Ustadz Titok kemarin, aku mulai sadar bahwa pendapat yang aku pegangi ini seperti cabe merah, dan pendapat yang berseberangan dengan pendapatku itu seperti cabe hijau. Beda warna, bentuk, dan jenis masakannya, tetapi sebenarnya, fungsinya sama saja, untuk membuat suatu masakan itu terasa pedas.

Begitu juga dengan polemik tentang hadits ahad. Titik perbedaannya memang terletak pada banyak hal, antara lain, apakah hadits ahad itu berfaedah kepada keyakinan 100% atau tidak. Lalu, apakah hadits ahad sah dijadikan dalil dalam perkara aqidah. Yang kemudian berpangkal kepada, apa arti aqidah itu sendiri. Ternyata, usut punya usut, pengertian aqidah yang dipahami oleh ahli ushul fiqih dan ahli hadits itu berbeda. Ahli ushul fiqih punya “garis yang lebih tebal” dari ahli hadits. Intinya, aqidah menurut pengertian ahli ushul fiqih jika salah satu perkaranya ditolak, dapat berimplikasi kepada kekufuran, sedangkan ahli hadits berpendapat bahwa ada yang berimplikasi kepada kukufuran dan ada yang tidak sampai berimplikasi kepada kekufuran jika menolaknya.

Ahli ushul fiqih yang didalamnya terdapat nama-nama ulama klasik seperti al-Amidi (al-Ihkam), al-Ghozali (al-Mustashfa’), Asy-Syaukani (Irsyadul Fuhul), al-Bazdawiy (Kasyful Asrar), al-Asnawy (Syarh al-Asnawy), dan yang kontemporer seperti an-Nabhani (Syakhshiyah Islamiyah), Abu Zahrah (Ushul Fiqh), Abdul Wahhab Kholaf, Mahmud Syaltut (Aqidah wa Syariah). Dan beberapa ulama kontemporer seperti Sayyid Quthb, al-Buthi, al-Qorodhowy, Muhammad al-Ghozali. Serta beberapa ahli hadits klasik seperti Imam an-Nawawi (Syarh Shahih Muslim), al-Khotib al-Baghdadi (al-Kifayah) dan juga al-Qosimi (Qawa’idut tahdist) berpendapat bahwa hadits ahad yang shahih tidak berimplikasi kepada keyakinan 100%, sehingga tidak bisa dijadikan dalil dalam masalah aqidah. Pendapat ini juga diadopsi oleh para ahli ushul fiqih dari madzhab tiga imam besar; Abu Hanifah, Malik dan Syafi’i.

Lihat saja pernyataan Imam an-Nawawi, pengarang kitab terkenal Riyadhus Shalihin yang juga bermadzhab Syafi’i berikut ini :

“Inna ishuladdiini wajibul i’tiqoodi bihaa ‘an thoriiqittawaaturi, ammal furuu’u falaayajibu tawaafuruttawaaturi

(Ushuluddin (Aqidah) harus diyakini berdasarkan pada sanad yang mutawatir, sedangkan masalah furu’ dalam fiqih tidak harus mutawatir) [Pernyataan ini dikutip dari buku Hadits Ahad dalam Aqidah, karya Syaikh Fathi Muhammad Salim, halaman 139 kitab Imam Nawawi yang dimaksud adalah Syarh Shahih Muslim, tt.]

Sedangkan para ahli hadits klasik seperti Ibnu Sholah (Muqaddimah) yang berpendapat bahwa hadits ahad yang shahih berfaedah kepada keyakinan 100%. Ibnu Hajar al-Asqolani dalam al-Nukhbah berkata : “Khabar (hadits ahad) yang diperkuat dengan qarinah (pendukung-pendukungnya) memberikan pengertian ilmu yaqiiny”. Serta Imam Ibnu Hazm dari kalangan ulama Ushul yang juga mengatakan bahwa hadits shahih memberikan pengertian ilmu qath’iy (keyakinan 100%). Yang pada gilirannya menghasilkan kesimpulan, bahwa hadits ahad yang shahih bisa dijadikan dalil dalam masalah aqidah. Pendapat ini juga diadopsi oleh sebagian ulama madzab Hanbaliyah, seperti Syaikhul Islam Imam Ibnu Taymiyah dari kalangan ulama klasik dan nama-nama seperti Syaikh Nashiruddin al-Albani, Syaikh Bin Baaz, Syaikh Ibnu Utsaimin, Syaikh al-Hilaly-Semoga Allah merahmati mereka semua- dari kalangan ulama kontemporer.

Lantas dimana titik persamaannya?

Titik persamaannya adalah pada kapan seseorang itu bisa dikatakan kafir ketika mengingkari suatu dalil. Para ahli ushul akan tetap berkata pada titik aqidah, sedangkan para ahli hadits yang berpendapat hadits ahad berimplikasi kepada keyakinan 100% akan mengatakan titiknya pada pangkal aqidah. Jadi, menurut para ahli hadits, selain qoth’iy dari segi periwayatannya perlu juga sesuatu yang disebut muhkam dalam suatu dalil. Muhkam disini berarti suatu dalil yang mempunyai penunjukkan makna yang jelas. Tidak ada makna lain selain makna yang ditunjukkan oleh dalil itu. Nah.. jika suatu dalil sudah memenuhi kriteria qoth’iy dan muhkam, maka barangsiapa yang mengingkarinya akan jatuh kepada kekafiran.

Perlu diketahui, pendapat seperti ini sama seperti pendapat para ahli ushul. Ahli Ushul Fiqih berpendapat bahwa aqidah harus digali dari dalil yang qoth’iy, baik itu tsubut maupun dalalah-nya. Qoth’iy Tsubut disini berarti sumber periwayatannya 100% dari Rasul SAW, tidak ada keraguan walau setitikpun, tidak bisa tidak, kita seperti dipaksa melihat dengan mata kepala sendiri bahwa Rasul SAW memang mengucapkannya; ahli hadits mengatakannya sebagai qoth’iy saja. Sedangkan Qoth’iy dalalah disini berarti sama dengan muhkam, yaitu penunjukkan maknanya hanya satu, tidak ada kemungkinan makna lainnya. Nah.. ulama ushul fiqihpun berpendapat bahwa jika suatu dalil telah memenuhi kriteria Qoth’iy tsubut dan dalalah-nya, maka dalil tersebut layak dijadikan dalil dalam perkara aqidah. Sedangkan yang mengingkarinya disebut kafir. Seperti seorang yang mengingkari secara sadar dan tanpa tekanan akan adanya malaikat, hari akhir, atau mengingkari ayat tentang puasa, jihad, qishosh, dan lain-lain maka orang tersebut jatuh kedalam kekafiran.

Pada titik ini tidak ada perbedaan diantara kaum Muslimin termasuk antara ahli hadits dan ahli ushul fiqih, semuanya sama, satu kata, kafir. Namun kembali kepada apakah hadits ahad itu berimplikasi kepada keyakinan 100% (qoth’iy), maka disini memang terjadi perbedaan pendapat dikalangan ulama baik salaf maupun khalaf, baik klasik maupun kontemporer, baik diantara ahli ushul maupun ahli hadits. Namun sekali lagi, kita akan menemukan titik temu yang akan meredam amarah, menurunkan suara yang meninggi, dan mendinginkan jiwa yang panas.

Jujur, jujur, jujur.. Jika anda –yang memegangi pendapat bahwa hadits ahad dapat dijadikan dalil dalam masalah aqidah– bertanya kepadaku dengan pertanyaan: “apakah kamu percaya akan adanya siksa kubur?”, maka aku akan menjawab: “Percaya”, lalu anda akan bertanya lagi, “Kafirkah orang yang mengingkari siksa kubur?”, maka aku akan menjawab, “Tidak, hanya saja orang tersebut tidak banyak baca hadits.”, dan aku yakin inilah jawaban yang juga akan anda jawab, ketika mendapat pertanyaan yang sama.

Terakhir, tulisan ini bukanlah mencari yang paling kuat diantara yang dua. Atau membantah yang satu diantara yang lain. Tetapi tulisan ini sebenarnya hanyalah sebuah refleksi sederhana dari seorang hamba yang telah merasakan bagaimana panasnya perdebatan, tingginya suara, dan bergumulnya amarah ketika berbincang mengenai masalah ini.

Dan satu hal yang wajib diingat, bahwa tulisan ini tidaklah pantas, bahkan sangat tidak pantas disandingkan dengan tulisan siapapun yang membahas masalah yang sama. Karena apa yang aku tuliskan ini tidak sampai menyentuhkan satu jemari seperti yang dilakukan Ustadz Titok, tetapi hanya mencoba menghembuskan udara dingin lagi sejuk ke lapisan kulit terluar dari lautan ilmu yang sangat dalam, agar pori-pori yang ada di lapisan kulit terluar ini menjadi dingin kembali setelah sekian lama merasakan panas. Demikianlah..

[Hanif al-Falimbani]

(Yogyakarta, 3 Maret 2007, 06.21am)

Antara Benci, Rindu, dan Biasa-Biasa Saja

Februari 28, 2007

Kemarin, ketika aku pulang ke Palembang, ada cerita menarik. Suami dari adik kandung ayahku, atau singkatnya Pamanku, tengah diliputi dilema. Dia adalah seorang PNS di Departemen Perhubungan Udara di Palembang. Beberapa minggu yang lalu, dia mendapatkan promosi dari Dirjen Perhubungan Udara untuk pindah kerja di PT Persero Angkasa Pura II (AP II), BUMN yang bergerak di bidang jasa pelayanan ke-bandarudara-an, tepatnya, pamanku ini ditempatkan untuk bekerja sebagai controller ATC (Air Traffic Control) di Bandara Internasional Sultan Mahmud Badaruddin II, Palembang.

Pamanku ini bukanlah lulusan STPI (Sekolah Tinggi Penerbangan Indonesia), tapi hanya tamatan SMA biasa. Umurnya bahkan sudah mencapai angka 40-an. Tetapi dari segi kemampuan, beliau ini punya seabrek pengalaman tentang ‘dunia udara’. Dan kemampuan lain yang menjadi salah satu faktor penentu adalah beliau ini sangat mahir berbahasa Inggris. Faktor lain, aku kira adanya ‘orang dalam’ di AP II Pusat yang tahu betul bagaimana keseharian pamanku yang tidak pernah lepas dari masjid.

Dilemanya bukan terletak pada faktor-faktor diatas, tetapi terletak pada atasan kantornya sendiri. Anehnya, atasan dan juga teman kerjanya tidak ridho akan kepindahtugasan pamanku ke AP II. Pasalnya, dia juga mengajukan permohonan untuk pindah ke AP II, tetapi gagal. Dengan segala cara, mulai dari membanting pintu kantor sampai mengadu ke Kepala Dinas, dia mencoba untuk menghentikan laju kepindahan pamanku. Dia beranggapan bahwa dialah yang lebih layak untuk mendapatkan promosi itu. Akhir kata, proses kepindahtugasan paman saya menjadi terhambat dan belum terealisasi sampai sekarang.

Dari penggalan cerita diatas, kita dapat memahami bagaimana perasaan pamanku, tetapi tentunya, kita lebih dapat memahami bagaimana perasaan atasan pamanku.

Kata kuncinya adalah perasaan, jika perasaan atasan paman senang atas promosi yang didapat oleh pamanku, tentunya masalah akan selesai. Tapi kenyatannya tidak. Dari sini, banyak orang bependapat bahwa, ‘Oleh karena itu, Jangan gunakan perasaan!’.

Jika ada orang yang beranggapan bahwa jangan gunakan perasaan dalam hidup ini, maka saya katakan kepadanya bahwa Allah ‘azza wa jalla sendiri telah memaklumkan adanya perasaan dalam diri seorang hamba.

Allah SWT berfirman :

كُتِبَ عَلَيْكُمُ الْقِتَالُ وَهُوَ كُرْهٌ لَكُمْ وَعَسَى أَنْ تَكْرَهُوا شَيْئًا وَهُوَ خَيْرٌ لَكُمْ وَعَسَى أَنْ تُحِبُّوا شَيْئًا وَهُوَ شَرٌّ لَكُمْ وَاللَّهُ يَعْلَمُ وَأَنْتُمْ لا تَعْلَمُونَ

“Diwajibkan atas kamu berperang, padahal berperang itu adalah sesuatu yang kamu benci. Boleh jadi kamu membenci sesuatu, padahal ia amat baik bagimu, dan boleh jadi (pula) kamu menyukai sesuatu, padahal ia amat buruk bagimu; Allah mengetahui, sedang kamu tidak mengetahui.” (TQS al-Baqarah [2]: 216)

Benci, itulah perasaan manusia akan perang. Tapi, Allah justru mewajibkannya. Sesuatu yang kita benci, terkadang merupakan sesuatu yang amat baik bagi kita. Dan sesuatu yang sangat kita sukai, terkadang malah merupakan sesuatu yang amat buruk bagi kita. Inilah yang terjadi jika pikiran mengikuti perasaan, bukan perasaan mengikuti pikiran.

Seringkali kita menyukai sesuatu yang salah dan membenci yang benar; menyukai jalan ke neraka dan membenci jalan ke sorga. Kata Nabi SAW, ‘Jalan ke sorga itu diliputi oleh hal-hal yang tidak disukai syahwat, sedangkan jalan neraka diliputi oleh perkara-perkara yang disukai oleh syahwat’ (huffat al-Jannatu bil al-Makaarihi, wa huffat al-Naaru bi asy-syahawaat).

Perasaan, itulah yang seringkali menguasai diri manusia. Ketika mendapatkan nilai yang bagus, tentu saja ada perasaan gembira dihati; begitu pula saat mendapatkan uang, tulisan dimuat di koran, acara pengajian berhasil, orang yang dikontak mau mengaji, bertemu dengan keluarga atau teman lama, berkumpul bersama orang-orang shalih, pinangan diterima, atau mendapatkan hadiah. Semua orang pasti akan merasa senang.

Kita juga pasti akan merasa bersedih hati, ketika kehilangan uang, ditinggal mati oleh ayah-ibu, judul TA ditolak terus, atau ketika kita mendapat sebuah sms yang berbunyi : “Maaf akhi, bukannya saya tidak menghormati permintaan akhi. Tapi rasanya kita cukup menjalin ukhuwah saja dalam perjuangan. Saya doakan semoga akhi menemukan pasangan lain yang lebih baik dari saya.” Duhai, betapa luluhleburnya hati ini, runtuh berkeping-keping.

Rasa marah juga seringkali muncul ketika harga diri dilecehkan, amanat disia-siakan, janji diingkari, dan lainnya. Itulah realitas perasaan dalam diri manusia, hingga berkumpullah didalam setiap orang perasaan senang-susah, sedih-gembira, ridha-tidak ridha, marah-rela, mendukung-menghalangi, kecewa-bangga, dan lainnya. YA, inilah manusia, sebab hanya benda mati saja yang tidak memiliki perasaan.

Perasaan adalah suatu hal yang sangat manusiawi, namun yang menjadi persoalan adalah standar atau tolak-ukur apa yang wajib digunakan ketika memunculkan perasaan kita? Sebagai seorang Muslim, tentu saja teladan yang terbaik adalah RasuluLlah SAW. Oleh karena itu, layak diketahui oleh kita yang mengaku Muslim bahwa Rasul SAW menyatakan bahwa:

Laa yu’minu ahadukum hatta yakuuna hawaahu taba’aa limaa ji’tubihii

“Tidaklah beriman seorang diantara kalian hingga hawa nafsunya tunduk kepada apa yang aku bawa [Al-Qur’an dan As-Sunnah]” (Hadits Hasan Shahih, Imam An-Nawawi telah meriwayatkannya dalam kitab al-Hujjah dengan sanad Shahih dari Abdullah bin ‘Amr bin al-‘Ash).

Hingga hawa nafsunya tunduk kepada apa yang aku bawa”, Apa yang dibawa oleh Rasul? Tentu saja al-Quran dan As-Sunnah. Berarti, sebagai seorang Muslim, kita wajib menundukkan hawa nafsu kita hanya kepada al-Qur’an dan As-Sunnah saa, jika tidak, maka kita akan dianggap belum sempurna keimanannya.

Saya ingin mengibaratkan arti kata tunduk seperti seorang prajurit kepada seorang Jendralnya. Seorang prajurit pastilah akan selalu tunduk akan setiap perintah dari Jendralnya, walaupun dia disuruh nggelongsor di parit, minum air rawa, push-up 200 kali, atau tidur di pinggir sungai, itu semua pasti akan dilakukannya, karena apa? Karena dia tunduk, jika tidak tunduk ada konsekuensinya, dia akan dihukum. Disini, sang prajurit bisa saja terlihat tunduk di depan jendralnya tetapi hatinya ia memberontak, namun apa yang diminta oleh Rasul? “Hawa nafsunya tunduk kepada apa yang akau bawa”. Luar biasa, bukan hanya secara fisik, tetapi juga dalam hal yang tidak terlihat oleh mata, perasaan atau hawa nafsunya mesti tunduk.

Ketika al-Quran menerangkan akan keharaman riba (2:275), bukan hanya secara fisik kita tidak mengambil riba dari uang yang kita tabung di Bank atau beralih menabung ke Bank Syariah, tetapi kita juga dituntut untuk merasa gerah ketika melintas di halaman depan sebuah Bank. Kita akan melihat para pegawai Bank yang berada dalam kantor yang selalu sejuk tidak lebih dari sekadar orang-orang yang berinterkasi dengan keharaman.

Begitu pula ketika ada seorang Muslimah yang ingin kaffah dalam memeluk Islam merasa terhina. Dia merasa terhina ketika ada seorang lelaki yang mengaku menyukai wanita yang berjilbab tetapi gaya berifikir dan bersikapnya tidak mencerminkan bahwa dia memang pantas disebut sebagai seorang yang menyukai muslimah yang berjilbab secara sempurna. Perasaan seorang muslimah seperti ini merupakan hal yang sangat manusiawi dan bahkan sangat baik dalam pandangan syariat.

Begitu pula perasaan seorang lelaki Muslim yang menyukai wanita berjilbab. Ini adalah perasaan yang bahkan diwajibkan, karena tidak ada lagi model wanita yang dirindukan oleh seorang lelaki yang beriman selain wanita yang mengenakan jilbab dan kerudung secara sempurna dan juga wanita yang selalu menjaga tutur katanya didepan lelaki asing, wanita yang tidak berpacaran, dan tidak pula tabarruj.

Begitu pula ketika kita melihat ada seorang yang mengerjakan shalat sunnah rawatib, kita akan merasa senang melihat hal itu, dan kitapun terdorong untuk melakukan shalat itu juga, karena memang ada seruan dari Allah untuk berlomba-lomba dalam kebaikan. Bukan malah benci dan beranggapan bahwa orang yang mengerjakan shalat itu sok aksi, sok alim, sok tahu tentang agama, dll.

Sama halnya saat kita menjadi makmum seorang imam yang panjang dalam membaca ayat al-Qurannya. Mestinya kita senang, karena pahala yang didapat akan bertambah banyak, disamping untuk mengecek hafalan kita.

Demikian pula halnya dalam masalah khilafiyah, yaitu perkara-perkara yang memang terjadi perselisihan pendapat dikalangan ulama. Perasaan kita akan selalu mengatakan bahwa perselisihan yang terjadi dalam permasalahan cabang agama adalah hal yang wajar. Perasaan kita akan berucap seperti ucapan terkenal Imam Syafi’i bahwa “Pendapat saya benar tapi masih mungkin mengadung kesalahan, dan pendapat anda salah tetapi masih mungkin mengandung kebenaran”, subhanaLlah. Bahkan ulama sekaliber Imam Syafi’i saja ketika dipersilahkan untuk menjadi Imam shalat dikalangan mazhab Imam Abu Hanifah, beliau lantas mengerjakan shalat sesuai dengan tata cara mazhab Imam Abu Hanifah, luar biasa.

Seorang mukminah yang menyadari bahwa memakai cadar adalah mubah akan biasa-biasa saja ketika melihat seorang wanita yang memakai cadar, karena dia menyadari dengan segenap pikirannya bahwa memakai cadar itu ya boleh-boleh saja. Sebaliknya, seorang mukminah yang menyadari bahwa memakai cadar itu adalah wajib atau sunnah akan menganggap seorang muslimah yang tidak bercadar itu ya monggo saja, wong itu pendapatnya, dan para ulama memang berbeda pendapat dalam hal ini. Yang mestinya diperkarakan adalah ketika ada seorang muslimah yang tidak menutup aurat dan mengenakan jilbab serta kerudung dengan sempurna ditambah lagi berpacaran dan berikhtilath (bercampur baur). Rasa sedih semestinya muncul dalam hati kita ketika melihat hal yang demikian.

Begitu juga dalam masalah khilafiah lainnya. Seorang Muslim tidak merasa resah, gerah apalagi benci terhadap orang yang berbeda pendapat dengannya, karena dia memahami dengan sepenuh hati bahwa khilafiah itu manusiawi. Pada titik ini, sadar atau tidak sadar dia telah menyatukan pikiran dan perasaannya.

Beberapa waktu yang lalu heboh masalah poligami, karena da’i kondang Aa Gym nikah lagi. Bagi kita yang mampu menyatukan pikiran dan perasaan yang Islami, tentu hal ini adalah biasa-biasa saja, toh poligami itu memang mubah (boleh), bukan sunnah apalagi wajib. Mau poligami ya monggo, ndak ya ndak apa-apa, gitu lho. Energi kemarahan dan kekesalan justru harus ditujukan kepada oknum-oknum kaum Muslimin atau oknum-oknum Ulama yang mengharamkan poligami karena alasan jender atau memelintir dan memotong sebagian ayat al-Quran dan Hadits.

Masih banyak contoh lain yang bisa menggambarkan tentang bagaimana bila perasaan berbicara menggunakan standar Islam. Misalnya, ketika kaum Muslimin di Irak saat ini berada dalam ketakutan yang luar biasa, ketakutan yang bahkan merekapun tidak pernah memimpikannya dalam tidur. Semestinya, kita kaum Muslimin yang telah mendengar bahwa kaum Muslim itu satu tubuh, tidak ada waktu lagi untuk tertawa gembira terbahak-bahak, tidak ada waktu lagi untuk berleha-leha. Air mata kita semestinya menetes sebanyak tetesan air mata rakyat Irak yang setiap harinya begelung dengan kesedihan ditinggal mati saudaranya yang dibunuh oleh tentara Kafir.

Energi kemarahan kita selayaknya diarahkan kepada tentara Israel yang ingin menghancurkan al-Aqsa, bukan kepada saudara seaqidah yang beda suku atau beda kampung, hanya karena masalah rebutan wanita. Energi kebencianpun tidak pantas kita habis-habiskan untuk membenci saudara seaqidah yang berbeda harakah, mazhab, atau bendera. Semestinya energi itu kita himpun, dan kita arahkan bersama kepada kaum kafir yang terus-menerus, siang dan malam menghambat kembalinya kehidupan Islam ditengah-tengah kaum Muslimin.

Ada sebuah fragmen kehidupan Rasul yang patut kita renungi, ketika itu ada seorang wanita Quraisy yang mencuri, karena merasa iba dan kasihan terhadap wanita ini, orang-orang Quraisy mencoba bertanya kepada Rasul, mereka beranggapan ada kemungkinan hukumannya akan dikurangi karena wanita tersebut adalah salah satu wanita terpandang. Lalu diutuslah salah seorang sahabat, Usamah bin Zaid, Usamah bin Zaid ini adalah orang yang dikasihi oleh Rasullullah SAW. Lalu Usamah bin Zaid menyampaikan masalah ini kepada Rasul, Kemudian Rasulullah SAW bersabda: “Apakah kamu akan melindungi orang yang terkena salah satu dari hukuman Allah Ta’ala?” Beliau SAW lantas berdiri dan berpidao dengan menyatakan :

Sesungguhnya yang membinasakan orang-orang sebelum kamu sekalian adalah bila ada salah seorang yang terpandang diantara mereka mencuri maka mereka membiarkannya, tetapi bila yang mencuri itu orang yang lemah maka mereka melaksanakan hukuman. Demi Allah, seandainya Fatimah putri Muhammad itu mencuri, niscaya aku potong tangannya” (HR Bukhari dan Muslim)

Sungguh, Rasul SAW telah memberikan teladan yang sempurna dalam menyatukan pikiran dan perasaan atas dasar Islam. Rasulullah SAW marah karena hukum Allah SWT dilanggar dan diinjak-injak. Begitu juga kita, yang semestinya marah ketika hukum-hukum Islam tidak diterapkaan, dilecehkan, bahkan dirusak oleh sebagian kaum Muslimin sendiri. Jika kita telah sampai pada titik ini, berarti kita telah menanamkan Islam dalam diri kita, mengalirkan Islam dalam aliran darah kita, dan menjadikan Islam sebagai satu-satunya kacamata yang kita pakai dalam memandang setiap masalah. Dan kita tidak merasa keberatan setitikpun menerima ketetapan ini.

Allah SWT berfirman :

فَلا وَرَبِّكَ لا يُؤْمِنُونَ حَتَّى يُحَكِّمُوكَ فِيمَا شَجَرَ بَيْنَهُمْ ثُمَّ لا يَجِدُوا فِي أَنْفُسِهِمْ حَرَجًا مِمَّا قَضَيْتَ وَيُسَلِّمُوا تَسْلِيمًا

Maka sekali-kali tidak, demi Rabmu, mereka (pada hakekatnya) tidak beriman hingga mereka menjadikanmu (Muhammad) sebagai pemutus hukum dalam perkara yang mereka perselisihkan. Lalu, tidak ditemukan dalam diri mereka sendiri keberatan atas apa yang engkau tetapkan, dan mereka berserah diri (menerima ketetapanmu) semenyerah-menyerahnya.” (TQS. An-Nisaa [4] : 65)

Dalam ayat ini disebutkan, “Lalu, tidak ditemukan dalam diri mereka sendiri keberatan atas apa yang engkau tetapkan,” tidak disebutkan “mereka tidak keberatan”. Gaya seperti ini menunjukkan ketegasan arti bahwa memang benar-benar mereka itu tidak keberatan, sampai-sampai bila mereka mencari keberatan tersebut dalam diri mereka sendiri, niscaya mereka tidak akan menemukannya. Disamping tidak ada sedikitpun keberatan dalam jiwa mereka, secara sikap mereka “berserah diri (menerima ketetapanmu) semenyerah-menyerahnya”. Terlihat jelas, pikiran dan perasaannya menyatu dengan Islam; begitupula sikapnya. WaLlahu a’lam bish shawab.

Hanif al-Falimbani

(Yogyakarta, 28 Feb 2007, 04.05am [Tulisan diatas diilhami oleh sebuah buku mungil yang ‘besar’ berjudul “Menyatukan Pikiran dan Perasaan” karya MR Kurnia, juga terinspirasi dari diskusi saya di beberapa blog, Matur nuwun kepada semunya])

HIDUP INI INDAH … !!!

Januari 30, 2007

Sudah lama aku tak mendengarkan musik via mp3, pagi itu kubuka file-file musik yang ada dalam sebuah folder bernama ‘DEWA 19’. Folder dan isinya ini sudah lama ada di dalam daftar file yang ada di komputerku, tapi hampir tak pernah kubuka.

Jujur, sewaktu SMP sampai SMA aku adalah insan yang paling suka musik, bahkan waktu itu aku mendeklarasikan diri dengan semboyan basket terkenal yang agak dirubah sedikit menjadi ‘Musik Hidup Saya’. Sampai banyak teman yang terheran-heran ketika aku beli The Black Album-nya Metallica sampai dua kali, atau The Best Album-nya Queen sampai tiga kali, atau koleksi ratusan kasetku yang lain yang terkadang banyak yang sama, karena aku tidak tahan untuk tidak membeli kaset yang kusuka waktu kumelihatnya di toko, entah ini sindrom apa.

Mulai dari musik renyah seperti The Corrs atau U2 sampai yang garang kayak Hellowen atau Nirvana. Nama-nama seperti Linkin Park, Blink 182,The Creed, Green Day, Bon Jovi, Red Hot Chili Peppers, Cold Play, Muse dan nama-nama klasik seperti The Beatles, Bryan Adams, The Rolling Stones, The Dream Theater atau ratusan nama band yang lain adalah nama-nama yang aku anggap sebagai ‘Dewa’ atau mungkin sejenis ‘Nabi’ yang jadi panutan dalam bermusik. Album-album mereka bagaikan ‘kitab-kitab suci’ atau semacam ‘kitab karangan salafush-shaleh’ yang wajib dirujuk ketika menggebuk drum atau memetik dawai gitar.

Nge-Band pun aku jalani, bahkan teman-teman bandku sampai sekarang masih ingat kata-kata heroikku ketika mereka lemas melihat band lain yang lebih hebat, ‘Wooi..!! Mereka itu sudah tua, sudah ribuan kali mereka tampil di festival, kita ini masih muda tapi sudah bisa masuk festival ini , Klo kita seumuran mereka, kita pasti main lebih bagus…Ingat Itu..!!!’ Bahkan dulu aku punya 3 gitar, satu gitar klasik, dua gitar melodi atau rythm. Lembaran-lembaran kertas yang berisi kata-kata puitis pun telah menumpuk dan menanti untuk diberi nada. Tak ayal, sekolahpun terbengkalai, hancur-hancuran, akhirnya, orangtua pun marah besar.

Kembali ke Folder ‘DEWA 19’, aku mulai membuka file-file yang ada didalamnya dengan aplikasi pemutar mp3 yang telah banyak diisi oleh murotal 30 juz dan nasyid. Setelah memutar beberapa lagu Dewa 19 kuterhenyak ketika mendengar sebuah lagu, kulihat judulnya, ‘Hidup Ini Indah’. Lagu ini tidak pernah kudengar sebelumnya, karena memang lagu ini ada di album Dewa 19 yang terbaru, judul albumnya antara ‘Repulik Cinta’ atau ‘Laskar Cinta’ aku tidak hafal karena tidak punya kasetnya. Kalau lagu-lagu Dewa 19 yang lama mulai dari album ‘Dewa 19’ album pertama, sampai ‘Cintailah Cinta’ Album yang ke-7, aku masih ingat lirik-lirik, nada dasar, ritme, bahkan temponya.

Ada dua bait lirik yang membuatku terhenyak, dan aku yakin ini bukan lirik yang ditujukan untuk manusia, dan salah besar jika ditujukan untuk manusia. Jika ditujukan untuk manusia, maka orang tersebut bisa jatuh ke dalam Syirik besar karena men-dua-kan Allah, na’udzubiLlah. Pertama aku agak geram sama Dhani yang mengajak orang kepada kekufuran, tetapi setelah dihayati sebenarnya ada kata kunci yang mungkin orang awam tidak akan tahu, kata kunci ini mengatakan bahwa lagu ini bukan untuk manusia, tetapi untuk Allah ‘azza wa jalla. Berikut ini baitnya :

Hidup ini indah…

Bila aku selalu

Ada disisiMu setiap waktu

Hingga aku hembuskan nafas yang terakhir

Dan Kitapun bertemu..

Maafkanlah selalu…Salahku

Karena Kau memang Pemaaf

Dan aku hanya manusia…

Sebenarnya bait ini biasa saja jika dibaca sepintas, namun akan berkesan lain jika digabungkan dengan komposisi nada yang bertempo pelan dan sedikit nada-nada minor dibeberapa tempat, dirangkai dengan tabuhan drum menggunakan teknik double, serta efek keyboard yang simple. Jujur, Dhani memang lihai dalam hal ini.

Masalah lirik, aku pikir Thariqat Naqsabandiyah yang menjadi tempat peraduan sisi religi Ahmad Dhani telah banyak mempengaruhi lirik ini dan lirik-lirik lagu Dhani yang lain pada beberapa album terakhir Dewa 19. Memang, banyak lirik-lirik dari lagu Dewa 19 yang diciptakan Dhani adalah lirik yang mengandung unsur penyatuan manusia dengan sang Pencipta yaitu Allah (Wihdatul Wujud). Dan aku kira memang disinilah titik kesalahan Dhani dalam memahami Islam. Bayangkan, jika memang Dhani itu telah ‘menyatu’ dengan Allah, mengapa dia masih konser atau mengizinkan istrinya seperti itu? Apa iya, Allah membiarkan orang-orang melanggar peraturan yang dibuat-Nya sendiri? Dari sisi ini saja sudah lemah pendapat tentang wihdatul wujud, apalagi jika diperkuat dengan dalil-dalil al-Quran dan Sunnah.

Oke, aku nggak akan membahas panjang lebar tentang wihdatul wujud. Kita kembali ke mengapa aku ambil dua bait lirik itu sebagai inspirasi tulisan ini. Itu karena aku hanya ingin mengatakan, apa jadinya jika aku tidak bertemu dengan Mas Titok Prihastomo sewaktu SMA, dia telah menohokku dengan ‘filosofi ayamnya’. Dan entah apa jadinya aku jika tidak bertemu orang-orang seperti Mas Damar, Vidya Alkaff, Kukuh, Akbar Wibawa, yang mengajakku masuk ke dalam barisan dakwah di SMU kelas 2 akhir. Terima kasih, karena telah membawaku ke hidup yang lebih indah…

Jika tidak bertemu mereka-mereka, mungkin aku tidak akan menemukan fakta bahwa surga itu luasnya seluas langit dan bumi [3:133], dan apa saja yang kita inginkan pasti terpenuhi [16:57]. Atau mungkin aku tidak akan tahu bahwa disurga ada bidadari-bidadari bermata jeli, perawan dan penuh cinta lagi sebaya umurnya [56:35-37], hingga akupun akan kebal jika ada wanita yang kuingini untuk menjadi istriku, menolakku. Ohh.. Betapa indahnya hidup ini..

Entahlah, jika tidak bertemu mereka, mungkin kamu tidak akan melihatku memakai celana panjang ‘bahan’ dengan lempitan di ujung bawahnya. Mungkin kamu akan melihatku memakai jeans dengan sobekan di pahanya..

Mungkin saja baju koko itu tidak pernah ada di lemari pakaianku, kaos oblong dengan gambar band-band favoritku yang akan memadatinya.

Entahlah.. mungkin aku akan lebih kenal dengan John Lennon atau Andra Ramadhan daripada Imam Nawawi atau Imam Syafi’i.

Atau mungkin rak-rak bukuku tidak akan dipenuhi oleh kitab-kitab semacam Riyadhus Shalihin atau Sirah Nabawiyah, tetapi rak dengan ribuan kaset menjajarinya.

Atau mungkin dinding kamarku tidak akan terbentang bendera hitam bertuliskan Laa ilaha illa Allah, akan tetapi poster-poster seperti Gun ‘n Rose atau Metallica yang mewarnainya.

Atau mungkin aku tidak akan ke masjid ketika waktu luang, tetapi ke tempat nongkrong anak-anak band atau ke studio musik.

Yang lebih menggelikan, mungkin badanku tidak segemuk saat ini hingga aku harus diultimatum oleh orangtuaku untuk melakukan terapi proses penyembuhan kegemukan or diet dan berat badanku harus normal dalam 3 bulan. Mungkin saja postur tubuhku akan kekar dan gagah karena sering main basket.

Atau mungkin kacamata plastik yang kedua gagangnya telah patah karena tidak mampu menjepit kedua kepalaku yang besar, tidak ada didepan mataku, dan mataku akan tetap sehat, tampangku juga akan lebih gaya, sekaligus aku bisa beli komputer dengan menjual kacamata plastik ini.

Atau mungkin aku akan merasakan bagaimana cara berpacaran, hingga lidahku tidak perlu mengelu ketika bertemu dengan wanita.

Atau mungkin gitarku tidak kuberikan kepada sepupuku, hingga aku bisa membuat puluhan lagu puitis yang mendayu-dayu, dan akan membuat para wanita memujaku.

Tidak… sekali-kali tidak…

Hidup ini indah dan akan selalu indah ketika celana ‘bahan’ ini melekat menutupi auratku, ketika baju koko memenuhi lemariku, ketika kumengagumi Imam Syafi’i..

Hidup ini indah dan akan selalu indah ketika sudut kamarku dipenuhi kitab Bidayatul Mujtahid atau kitab Tarikh Khulafa’, ketika bendera hitam bertuliskan Laa ilaha illa Allah terbentang gagah di dinding kamarku, ketika masjid menjadi tempat peraduanku dikala hati ini sakit dan gundah, ketika badanku gemuk karena lebih banyak duduk membaca daripada olahraga.

Hidup ini indah dan akan selalu indah ketika aku dimarahi orangtua karena aku banyak mengaji, lalu akupun akan membuat wajah mereka haru berseri-seri ketika kukatakan bahwa jika aku berjihad di jalan Allah dan syahid sebagai syuhada yang diridhoi Allah, maka aku bisa memberikan naungan dengan izin Allah kepada mereka untuk masuk surga kelak di hari dimana tidak ada naungan kecuali naungan-Nya.

Hidup ini indah dan akan selalu indah walau kacamata ini melekat selalu didepan dimataku atau badan ini menjadi gemuk, karena itu bisa menjauhkanku dari wanita-wanita hingga ku tak terjebak dalam kemaksiyatan.

Hidup ini indah dan akan selalu indah walau aku tak pernah dan tak akan pernah merasakan manisnya pacaran, karena hanya istriku nantinya yang akan merasakan betapa romantisnya diriku, bukan yang lain.

Dan Hidup ini indah dan akan selalu indah walau kini aku sudah tidak bisa bermain gitar lagi, biarlah jari-jemari ini melembut kembali karena yang kutekan hanyalah tuts-tuts keyboard untuk melantunkan manisnya dakwah di jalan Allah.

Oohhhh…

Betapa indahnya hidup ini…

[hanichi kudou]

{ditulis dengan berlinangnya air mata karena gembira, untuk teman-temanku semua yang masih ragu akan keindahan Islam, khususnya temanku :

  • Risky Rizal Panggar Bessy (Drumer, gitaris, teman sebangku aku yang gak bisa buat aku diem pas pelajaran, yang mendapat 2 ‘piala’ dalam sehari, huahaha..),
  • Sa’ban Apri Anggono (Bass, gitaris, pujangga yang bentar lagi nerbitin buku kumpulan puisinya),
  • Faldian Pamungkas (gitaris melodi, coverboy-nya SMA, Gimana kabar perjuangan Khilafah disana ya akhi..!!, jabat erat),
  • Roy Anjari Alamsyah (Ceritanya di barak yang bisa buat muntah, Siap Pak..!),
  • Dedy Setiawan (Listrik, hehe..pencetak dua angka di turnamen basket, wuih.. padahal loe gak pernah latihan Ded.. coba klo loe latihan, gak bakalan nyetak angka, seperti kami hehe..),
  • Ahmad Roji Suhud (dimanakah engkau kini),
  • Afrizal (Accounting),
  • Irwan,
  • Aditya Wibawa Sampoerna Putra,

Kenangan bersama kalian bagai sebuah tempat singgah yang ingin dan sangat ingin kusinggahi lagi, mungkin, tapi nanti… di surga, semoga…}